Kamis, 01 Juli 2010

ON TRUE LOVE : Kasih dan Perkataan
oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)

“But speaking the truth in love, we are to grow up in all aspects into Him who is the head, even Christ,” (Eph. 4:15)

Kasih dan perkataan tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana kasih tampak dalam sikap dan tindakan, demikian pula kasih tampak ketika kita memperkatakan kebenaran. Kasih tidak akan tega untuk memperkatakan kebenaran tanpanya, dan tidak akan sanggup memperkatakan ketidakbenaran dengannya.

Kasih dan perkataan kebenaran berjalan seiring. Kenyatannya jelas tidak mudah apalagi di dalam dunia yang berdosa, namun itulah panggilan kita sebagai gereja yang bertumbuh kearah Kristus.

Bukankah kita yang sering kita temui adalah kasih justru lebih mudah berlangsung tanpa kebenaran? Bukankah lebih mudah kasih berwujud dengan memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan? Kasih bukankah lebih dekat dengan kebebasan untuk berbuat apa yang kita inginkan?

Perkataan kebenaran kesannya lebih kepada aturan, hukum dan komitmen. Bagaimana itu bisa sejalan dengan kasih?

Mari kita tengok satu masa dalam kehidupan bangsa Israel sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Hakim-Hakim. Kitab ini ditutup dengan pernyataan “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (“In those days there was no king in Israel; everyone did what was right in his own eyes,” 21:25)

Kesimpulan ini pertama-tama menjelaskan pasal 21 tentang kelakuan suku Benyamin. Krisis besar menimpa keutuhan bangsa Israel. Kelakuan suku Benyamin mengakibatkan ancaman peperangan di antara mereka, bahkan hampir saja suku ini dibuang dari kesatuan bangsa Israel. Apa kelakuan suku Benyamin yang menimbulkan krisis besar bahkan memberikan kesimpulan pada ayat terakhir kitab ini?

Kelakuan suku Benyamin dinyatakan mulai pasal 19. Peristiwa yang keji dan menyedihkan terjadi di kota Gibea, daerah suku Benyamin (19:14). Penduduk kota itu dikatakan sebagai orang-orang dursila (19:22). Mereka bertindak tidak lagi seperti umat Allah seharusnya. Sebaliknya mereka bersikap dan bertindak seperti orang-orang kota Sodom. Mereka mengepung rumah yang dikunjungi seorang Lewi dengan gundiknya (19:1). Mereka bermaksud untuk merampas dan ‘memakai’ orang asing yang menumpang itu. Si pemilik rumah tidak mengijinkan penduduk kota itu berbuat jahat kepada tamunya. Ia menawarkan anak perempuannya untuk diperlakukan apa saja yang mereka pandang baik (19:24). Penduduk kota Gibea menolak. Akhirnya tamu itu menyerahkan gundiknya. Kemudian mereka memperkosa gundik itu sampai akhirnya mati menjelang pagi (19:28). Selanjutnya peristiwa ini disusul dengan kekejian yang menggetarkan seluruh Israel.

Peristiwa yang mengerikan itu menyisakan suatu gema perkataan, “Perbuatlah apa yang kamu pandang baik.” Inilah yang menghantar kita memahami kesimpulan kitab Hakim-Hakim.

Tuan rumah di Gibea yang dengan baik hati menampung tamunya bahkan rela mengorbankan anak gadisnya demi keselamatan tamu dan gundiknya itu.

Tuan rumah bersedia berkorban demi tamunya. Namun berhadapan dengan orang dursila di kota Gibea di daerah Benyamin, tidak tepat menyuarakan perkataan “perbuatlah apa yang kamu pandang baik.” Bahkan ketika kita mempertegas lagi, apakah ada manusia yang berhak menyuarakan perkataan itu sekalipun alasannya karena kasih?

Perkataan ini menggemakan suara yang sama dengan peristiwa yang mirip, yaitu peristiwa di kota Sodom. Lot, keponakan Abraham yang memilih tinggal di Sodom, kedatangan tamu di rumahnya. Penduduk kota menyerbu dan memaksa Lot untuk menyerahkan tamunya kepada mereka. Lot bersedia mengorbankan anak gadisnya demi keselamatan tamunya. Dan Lot berseru kepada orang-orang itu, “perbuatlah kepada mereka [anak gadisnya] seperti yang kamu pandang baik.” (Kej. 19:8). Suara ini berkumandang, di dengar oleh kedua anak gadisnya, namun dilecehkan oleh penduduk Sodom (Kej. 19:9).

Perkataan itu diucapkan dengan maksud melindungi dan menyelamatkan orang asing. Suatu perbuatan yang mulia. Namun apakah perkataan itu sesuai dengan maksud yang baik?

Dari rumah Lot, perkataan itu bergema. Akibat yang pertama tampak dari keberanian anak gadisnya untuk bersetubuh dengan ayahnya setelah mereka diselamatkan dari kehancuran kota Sodom dan Gomorah (Kej. 19:33).

Dari rumah di Gibea, perkataan itu bergema. Akibat kedua tampak dengan kekejaman penduduk Gibea yang membawa ancaman peperangan antara suku Benyamin dengan suku-suku Israel.

Kasih dan perkataan. Bagaimana perkataan yang sejalan dengan kasih yang sejati? Apakah kasih memperbolehkan kita berbuat apa saja yang kita pandang baik?

Perkataan itu disimpulkan diakhir kitab Hakim-Hakim. Ketika manusia tidak lagi mengindahkan kebenaran TUHAN, tunduk kepada kedaulatan-Nya, manusia berbuat apa saja yang dipandangnya baik, maka kasih menguap.

Puji Tuhan, kisah zaman Hakim-Hakim tidak berakhir disana. “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Bethlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagi orang asing.” (Rut 1:1)

Pada zaman para hakim, zaman yang menggemakan suara Lot, ada seorang perempuan tua yang kehilangan suami dan kedua anak laki-laki di tanah asing, di tanah Moab. Tanah Israel, tanah kelahirannya sedang dilanda kelaparan. Kekeringan menandai tanah Israel sekaligus menandai kekeringan rohani mereka. Perempuan tua itu adalah Naomi. “Sebutkanlah aku Mara,” katanya ketika ia kembali ke tanahnya di Israel. Mara adalah kepahitan. Kepahitan kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Tiada kata lain yang dapat ia ucapkan kecuali Mara.

Kata-kata Naomi mengungkapkan kepahitannya. Kasih seolah-olah lenyap. Ia kembali. Apakah berakhir kisah yang menyedihkan ini sehingga menambah ‘kegelapan’ zaman para hakim? Tidak!

Naomi ketika ia kembali ke Bethlehem, ia tiba “pada permulaan musim menuai jelai.” (1:22). Suatu permulaan yang baik. Masih ada kasih karunia TUHAN baginya. Bukan itu saja, Naomi tidak kembali seorang diri. Salah seorang menantunya, Rut, seorang perempuan keturunan Moab turut bersamanya. Apa kepentingan peristiwa ini?

Rut tidak sekadar menyatakan kesetiaan dengan tindakannya mengikut mertuanya. Namun terlebih lagi ia memulai tindakannya dengan perkataannya,“Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (1:16-17)

Suara Rut seumpama cahaya lilin dalam kegelapan. Suara seorang perempuan Moab, keturunan Lot dan anak perempuannya. Suara yang membalikkan gema suara Lot. Suara yang mengungkapkan kasih yang sejati, kasih di dalam perjanjian (covenant). Kalimat Rut yang diucapkannya kepada Naomi adalah ucapan perjanjian. Ia bersedia bersama (be-with) dengan mertuanya dalam tanah yang dipijaknya, dalam iman kepada Allah yang sejati, dan tetap bersama sampai akhir perjalanan hidupnya. Kasih yang sejati adalah kasih yang dinyatakan dalam kedatangan Yesus Kristus, Imanuel, Allah beserta kita. Ia berkenan beserta dengan kita!

Kasih tidak mudah hanya diukur dengan kata-kata yang manis. Kasih tidak semata-mata sama dengan kata-kata yang memperbolehkan segala sesuatu. Kasih adalah perkataan kebenaran yang bersedia dinyatakan dengan kerelaan bertumbuh bersama dalam kasih Kristus. Kasih yang rela tunduk dalam kebenaran Tuhan.

Nyatakanlah kasih itu dalam kebersamaan baik dalam kehidupan keluarga, gereja maupun di dunia ini.

Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=27:kasih-dan-perkataan&catid=25:on-true-love&Itemid=39

Kamis, 29 April 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 5:6-8

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Nats: 1 Korintus 5:6-8

Di bagian sebelumnya Paulus sudah mengambil sikap tegas terhadap orang yang melakukan percabulan terus-menerus (5:1), yaitu menyerahkan dia ke dalam tangan iblis (5:4-5). Tindakan ini terpaksa diambil Paulus karena jemaat Korintus tidak mau menjauhkan orang itu dari tengah-tengah mereka (5:2b), bahkan mereka membanggakan hal itu (5:2a). Nah, di 5:6-8 Paulus memberikan alasan atau dasar mengapa ia melakukan disiplin gereja yang keras seperti ini.

Alasan yang dia berikan dikemukakan dalam bentuk metafora yang cukup dikenal oleh jemaat Korintus. Satu dari metafora umum (5:6), sedangkan yang lainnya berasal dari konteks hari raya orang Yahudi (5:7-8). Melalui dua metafora ini Paulus ingin menyatakan bahwa seorang pezinah dapat membawa pengaruh buruk bagi seluruh tubuh Kristus (5:6). Di samping itu, orang Kristen memang ibarat roti yang tidak beragi, sehingga harus menghilangkan semua ragi yang ada dalam diri mereka (5:7-8).

Ragi yang Sedikit Dapat Mengkhamirkan Seluruh Adonan (ay. 6)

Dalam teks Yunani, ayat ini dimulai dengan kata “tidak baik”, seakan-akan Paulus ingin menekankan keburukan dari sikap menyombongkan dosa di ayat 2a (“tidak baik kesombonganmu itu!”). Jika kita mengamati seluruh argumen Paulus di 5:1-13, maka kita akan melihat bahwa yang ditekankan Paulus memang bukan dosa percabulan yang dilakukan, tetapi sikap jemaat Korintus yang salah terhadap dosa itu. Paulus tidak hanya mengatakan bahwa kesombongan itu salah (5:2), tetapi juga tidak baik (5:6). Kata “baik” di sini sebaiknya tidak dipahami dalam konteks moral (salah atau benar), tetapi nilai atau manfaat dari tindakan tersebut. Hal ini didukung oleh pemakaian kata “baik” di 7:1 (“adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin”), 7:8 (“orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda...baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku”), 7:26 (“adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya”).

Mengapa kesombongan jemaat Korintus tidak baik? Karena kesombongan itu dapat membawa pengaruh yang buruk bagi seluruh jemaat. Hal ini diungkapkan Paulus melalui sebuah ungkapan “sedikit ragi dapat mengkhamirkan seluruh adonan”. Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari memberi keterangan bahwa ungkapan ini adalah sebuah peribahasa. Sekalipun kata “peribahasa” tidak muncul dalam teks Yunani, tetapi apa yang dikatakan Paulus memang sebuah peribahasa.

Peribahasa di 5:6 tampaknya sangat terkenal. Pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu...?” di ayat ini menyiratkan bahwa jemaat pasti mengetahuinya. Beberapa sumber kuno juga memberi bukti bahwa peribahasa ini dapat ditemukan dalam tulisan Yunani-Romawi maupun Yahudi. Dalam Alkitab peribahasa ini sempat disinggung beberapa kali. Yesus menasehatkan murid-murid untuk mewaspadai ragi orang Farisi (Mat. 16:6//Mrk. 8:15). Paulus pun menggunakan peribahasa ini di suratnya yang lain (Gal. 5:9). Philo – seorang penafsir Yahudi terkenal pada abad ke-1 - memakai gambaran ragi untuk kesombongan, karena ragi dapat membuat roti menjadi mengembang. Nabi Hosea pernah memakai gambaran yang sama untuk dosa perzinahan.

Ragi yang dimaksud Paulus bukanlah ragi yang baru yang biasanya dipakai untuk membuat roti (bahasa Inggris “yeast”, kontra NIV). Kata Yunani zume merujuk pada sisa adonan yang dicampur untuk membuat adonan yang baru (bahasa Inggris “leaven”, bdk. ASV/KJV/RSV/NASB). Sering kali adonan seperti ini dicampur dengan jus tertentu, sehingga menimbulkan rasa sedikit asam. Dari sisi kebersihan, campuran sisa adonan yang lama dapat membawa pengaruh buruk bagi kesehatan.

Melalui peribahasa di atas Paulus mengajarkan bahwa sedikit ragi (satu orang yang berbuat dosa) dapat mengkhamirkan seluruh adonan (seluruh jemaat). Bagaimana tindakan satu orang dapat membawa pengaruh buruk bagi seluruh jemaat? Paulus sangat mungkin memikirkan dua hal: (1) tindakan tersebut menyebabkan gereja kehilangan kesaksiannya, apalagi kalau hal itu sudah diketahui oleh banyak orang (5:1); (2) tindakan ini dapat menyebabkan orang lain tergoda untuk menirunya (15:33).

Semua Ragi Harus Dibersihkan Supaya Ada Adonan Baru yang Tanpa Ragi (ay. 7-8)

Dari peribahasa umum di ayat 6, Paulus sekarang berpindah ke metafora dari hari raya orang Yahudi yang masih berkaitan dengan persoalan ragi, yaitu Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Paskah. Dua hari raya ini memang saling berkaitan. Pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir mereka harus menyembelih domba untuk dioleskan di pintu rumah mereka sehingga dilewati (passover atau Paskah) oleh malaikat kematian dan mereka harus cepat-cepat meninggalkan tanah Mesir sambil memakan roti tidak beragi (Kel. 12). Dalam Markus 14:12 waktu penyembelihan domba Paskah disebut sebagai hari pertama Perayaan Roti Tidak Beragi.
Sebelum Hari Raya Roti Tidak Beragi dimulai, semua orang Israel harus membersihkan seluruh rumah mereka dari segala macam sisa ragi (Kel. 12:15, 18-19; 13:7; Ul. 16:4). Jika ada yang melanggar perintah ini, maka orang itu akan dilenyapkan dari tengah bangsanya. Sebuah tradisi bahkan menyebutkan tindakan ekstrim orang Yahudi yang sampai membersihkan lubang atau rumah tikus untuk memastikan tidak ada ragi dalam rumahnya. Walaupun kebenaran dari tradisi ini dapat dipertanyakan, namun penghormatan orang Yahudi terhadap hari raya ini tidak dapat disangsikan lagi. Hal inilah yang dipakai Paulus untuk menyampaikan pendapatnya di 5:7a.

Walaupun di ayat 7a Paulus mengatakan “buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru”, tetapi di ayat 7b dia dengan segera menambahkan “karena kamu memang tidak beragi”. Tambahan ini sangat penting. Orang percaya harus membuang ragi yang lama bukan supaya menjadi adonan baru, tetapi mereka harus membuang ragi yang lama karena mereka memang adalah tidak beragi. Jika ini tidak dipahami maka akan muncul kesan bahwa hidup kita yang tanpa ragi adalah karena usaha kita menyingkirkan ragi yang lama. Ini jelas salah! Di akhir ayat 7 Paulus mengatakan bahwa darah Kristuslah yang menjadi dasarnya.

Melalui karya penebusan Kristus orang percaya dikuduskan (6:11), sehingga status mereka berpindah dari orang berdosa menjadi orang kudus (1:2), bahkan menjadi bait Allah yang kudus (3:16-17). Karena kita sudah dikuduskan oleh darah Kristus, maka tidak boleh ada ragi sedikit pun dalam hidup kita.

Dengan menyebut Kristus sebagai anak domba Paskah, Paulus mengajarkan bahwa Paskah Kristiani berakar dari tradisi Paskah Yahudi pada waktu mereka dilepaskan dari kematian karena darah domba yang dioleskan di pintu rumah mereka. Kalau di peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir Paskah lebih dipahami dalam konteks keselamatan, maka pada zaman selanjutnya Paskah juga dimengerti dalam konteks penyucian dosa (Yeh. 45:18-22).

Pada zaman PB Yesus disebut sebagai anak domba Allah (Yoh. 1:29, 36). Kematian-Nya pada saat Paskah mempertegas bukti bahwa penebusan-Nya berfungsi sama dengan (atau bahkan melebihi) darah domba Paskah. Yesus sendiri pada waktu merayakan Paskah mengatakan bahwa darah-Nya adalah darah perjanjian yang baru (Mrk. 14:24).

Dengan menghubungkan pembuangan ragi dengan darah Kristus, Paulus telah mengajarkan sesuat yang penting: theologi harus menjadi dasar bagi etika. Agama lain menekankan bahwa etika (kebaikan atau kesalehan) adalah lebih penting atau dasar dari theologi (keselamatan).

Dalam Kekristenan urutannya dibalik. Kita berbuat baik (etika) karena sudah diselamatkan (theologi). Sama seperti jemaat Korintus harus membuang ragi yang lama karena mereka memang roti yang tidak beragi.

Di 5:8 Paulus memberi nasehat agar jemaat berpesta dengan ragi yang baru. Kata “berpesta” di ayat ini berbentuk present tense, sehingga menunjukkan tindakan yang terus-menerus. Karya Kristus memang harus terus menjadi fokus dalam hidup kita. Kita bukan hanya mengingatnya, tetapi juga merayakannya. Ide tentang pesta mengindikasikan adanya sukacita. Sukacita kita bukanlah ketika melihat orang lain melakukan suatu dosa (bdk. 5:2). Sukacita kita bersumber dari karya Kristus. Dengan selalu merayakan karya Kristus kita akan dikuatkan untuk menjauhi dan tidak berkompromi dengan dosa. Sayangnya, tidak semua orang percaya merasa sukacita dengan status mereka yang kudus di dalam Kristus. Mereka mengangga ini sebagai sebuah beban, padahal Yesus sendiri mengatakan bahwa kuk yang Dia pasangkan di pundak kita adalah enak dan ringan (Mat. 11:29-30). Dia bahkan menawarkan kelegaan bagi mereka yang letih dengan beban yang ditaruh orang Farisi melalui ajaran agama mereka (Mat. 11:28). Orang percaya sering kali merasa tidak nyaman dengan status mereka karena kedagingan mereka merasa tidak diuntungkan. Mereka harus mengalah (bukan mengalahkan), melayani (bukan dilayani), dsb. Pesta yang dimaksudkan oleh Paulus di ayat 8a harus menjadi pesta yang tanpa ragi (ay. 8b).

Sama seperti pada Hari Raya Roti Tidak Beragi semua ragi harus disingkirkan, demikian pula kita harus membuang semua ragi yang lama, yaitu kejahatan (kakia) dan keburukan (poneria). Dua kata ini sebenarnya sinonim, namun dipakai bersama-sama untuk memberi penekanan bahwa semua dosa (bukan hanya perzinahan) harus dibuang dari hidup kita. Kita tidak boleh menyimpan dosa tertentu yang masih kita sukai.

Di akhir ayat 8 Paulus menambahkan bahwa pesta ini harus menggunakan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian (eilikrineia) dan kebenaran (aletheia). Kata eilikrineia hanya muncul dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus. Kata ini selalu memiliki arti “kemurnian hati” dalam arti motivasi yang benar (semua versi Inggris memakai kata “sincerity”). Kata aletheia sering muncul dalam tulisan Paulus dan merujuk pada kebenaran Injil atau sikap hidup yang sesuai dengan kebenaran Injil (2Kor. 4:2; 6:7; 13:8). Dengan menggabungkan eilikrineia dan aletheia Paulus tampaknya ingin menegaskan bahwa hidup kita harus benar-benar bersih dari semua ragi, baik motivasi kita maupun tindakan kita.

Dalam sebuah persekutuan orang percaya (jemaat atau gereja) prinsip ini juga tetap perlu dipegang. Sebagai tubuh Kristus kita tidak boleh berkompromi dengan dosa apa pun yang ada dalam gereja. Kita harus berdukacita karena dosa tersebut. Kita perlu membiasakan diri saling menegur di dalam kasih. Jika semua ini tetap tidak membuat seseorang bertobat, maka gereja harus mengambil sikap tegas dengan cara menjauhkan orang itu dari tengah-tengah jemaat.
KEKRISTENAN DAN ILMU-ILMU ALAM

oleh: Ev. R. B. G. Steve Hendra, S.T., M.Div.

Banyak orang berkata dewasa ini, bahwa ada suatu jurang raksasa antara Agama dan Ilmu Pengetahuan, yang tidak mungkin dijembatani oleh siapa pun. Jurang ini menurut mereka sangat besar, khususnya jika kita berbicara tentang ilmu-ilmu alam. Dibandingkan Agama semua yang ada dalam ilmu-ilmu alam nampak begitu jelas dan tertentu. Maka jika semua sudah begitu pasti, apa perbedaan yang dapat kita buat dengan Kekristenan? Apakah kita Kristen, Islam, Buddha atau bahkan Ateis, hal itu tidak ada pengaruhnya dalam ilmu-ilmu alam. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, tidak tergantung apakah kita seorang Kristen atau bukan. Tetapi apakah benar, bahwa Agama tidak ada perannya dalam ilmu-ilmu alam? (Pada tulisan ini saya membatasi diri hanya pada Kekristenan, khususnya pada Theologi Reformed, yang saya dalami. Alasannya adalah ada banyak agama dan theologi yang saya tidak di dalamnya).

Di sini kita harus pertama-tama menjelaskan arti dari beberapa ungkapan, sebelum saya dapat menunjukkan posisi saya dan menjawab pertanyaan tersebut. Setelah saya memberikan jawaban saya, saya akan menyatakan ide integrasi saya antara Kekristenan dan ilmu-ilmu alam.

Sebelum saya mulai, ijinkan saya mengajukan pertanyaan yang bagi saya mengganggu. Pertanyaanya adalah sebagai berikut: Jika memang benar bahwa agama tidak mempunyai peran dalam ilmu-ilmu alam, mengapa banyak ilmuwan yang atheist mengambil posisi religius sebagai Atheist? Dan mengapa mereka harus memperjuangkan posisi religiusnya dalam ilmu-ilmu alam? Jika tidak ada relasi antara keduanya, mengapa mereka melakukannya? Di sini saya cuma mencoba menunjukkan bahwa anggapan tersebut adalah suatu kesalahan. Ada suatu relasi yang penting diantara keduanya. Tapi relasi seperti apa? Kita akan membicarakannya dan saya menyumbangkan ide saya untuk menyelesaikan masalah ini.

I. Penjelasan dari Ungkapan-ungkapan Ilmu Pengetahuan.

Ilmu pengetahuan kita mengerti sebagai suatu Disiplin, yang mengandung banyak data dan memahaminya dalam suatu relasi tertentu, untuk menjelaskan realitas. Untuk tujuan ini orang menggunakan di dalamnya banyak anggapan, teori, paradigma, dll. Ilmu pengetahuan berkembang melalui suatu prosedur tertentu, yang disebut metode ilmiah. Ilmu pengetahuan membatasi diri pada bidangnya. Karena pengertian-pengertian ini orang dapat mengatakan bahwa suatu teori dalam suatu ilmu pengetahuan lebih baik, (1) jika dia dapat menjelaskan banyak kejadian, (2) jika dia dapat meramalkan banyak kejadian yang akan terjadi di masa datang, dan (3) jika dia dapat dikembangkan.


Teori. Teori adalah suatu formulasi penjelasan terhadap suatu kenyataan tertentu yang dibangun secara sengaja dalam ilmu pengetahuan. Suatu teori mengaju pada suatu tahap penjelasan tertentu, yang kebenarannya sudah diuji melalui cara tertentu, yaitu Metode Ilmiah. Jika Axioma karena mengacu pada suatu kenyataan sederhana yang bersifat teruji dengan sendirinya, sebaliknya untuk menjelaskan kenyataan yang rumit orang harus memformulasikan teori dan mengujinya. Untuk membangun teori, orang tidak dapat berurusan dengan data-data saja, melainkan logika, worldview dan semangat zaman memainkan peranan penting di dalamnya. Suatu teori lebih pasti daripada hipotesa tetapi kurang pasti jika dibandingkan hukum atau axioma.

Paradigma. Suatu teori, yang dibangun dan diterima, tergantung juga pada paradigma-pradigma yang berlaku dalam ilmu pengetahuan tersebut. Paradigma pada dasarnya juga adalah teori, yang kebenarannya sudah diterima secara luas.

Alam. Alam dimengerti para ilmuwan sebagai suatu kombinasi dari hukum-hukum, yang sudah pasti dan berlaku untuk menata semua kenyataan dalam alam semesta. Tetapi jika mereka mendapati sesuatu yang tidak taat kepada hukum tadi, mereka menyebutnya “kenyataan.” Di sini jelas bagi kita, bahwa kenyataan dan alam di kalangan ilmuwan berbeda, dan arti dari kata “kenyataan” lebih luas daripada arti dari kata “alam.” Hal ini perlu diperhatikan di sini.

Agama. Agama bagi saya adalah kata yang mempunyai beberapa arti. “Agama” dapat mengacu pada Institusi yang memiliki kitab suci, nabi, pengikut yang percaya, dll. Pengertian lain dari kata tersebut adalah suatu iman yang dipegang kuat dan menurutnya seseorang mengarahkan hidupnya. Atheisme termasuk juga dalam pengertian yang kedua. Jika saya mengatakan bahwa saya adalah seorang Kristen, maka kalimat saya mengacu pada pengertian kedua dari kata “agama.” (Saya juga mengerti disini, bahwa jika saya seorang Kristen, maka saya termasuk dalam bagian dari Kekristenan sebagai suatu Institusi.) Iman kepercayaan tersebut bagi theologi Reformed berasal dari sense of divinity, yang dimiliki semua manusia sebagai ciptaan yang dicipta menurut gambar Allah. Tidak ada orang yang dapat hidup tanpa kepercayaan seperti itu.

II. Jawaban dari Pertanyaan

Pertanyaannya di sini berbunyi, Apakah ada suatu relasi antara agama dan ilmu alam. Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan membatasi diri pada pengertian kedua dari kata “Agama.” (Saya akan membicarakan tentang pengertian yang pertama pada edisi yang lain).

Jika seandainya dalam ilmu-ilmu alam hanya mengenai axioma-axioma, mungkin akan tidak ada perbedaan apakah kita Kristen atau bukan. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, apakah kita Kristen atau bukan. Tetapi dalam kenyataannya ilmu pengetahuan tidak hanya berkenaan dengan axioma, tetapi juga teori-teori, paradigma-paradigma, dll, untuk menjelaskan realitas. Saya sudah mengatakan di atas, bahwa pembangunannya tidak netral, melainkan berpihak pada berbagai aspek, yang terdiri dari iman kepercayaan, worldview, tujuan, dll. Di sini para ilmuwan tidak hidup dalam Getto, melainkan dalam suatu masyarakat, yang di dalamnya mereka saling bertukar hal-hal tersebut dengan anggota masyarakat yang lain.

Sebenarnya sudah jelas, bahwa ilmu-ilmu alam hanya dapat memberikan penjelasan dari kenyataan-kenyataan menurut bidangnya masing-masing. Maka penjelasan mereka tidak pernah sama kuatnya dengan kenyataan-kenyataan tersebut, maka orang membutuhkan penerapan dari semua ilmu supaya berfungsi dengan baik dalam kehidupan kita. Selanjutnya kita juga harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan tentang arti dari hidup, moralitas, atau semua pertanyaan metafisik, misalnya mengapa ada suatu aturan demikian dalam alam semesta?, dll. Pertanyaan-pertanyaan ini terkait erat dengan kemanusiaan (sebagai ciptaan menurut gambar Allah, yang dilengkapi dengan karakter “makna” – menurut theologi Reformed) dan religiusitas kita. Jika sejarah ilmu pengetahuan alam diamati dengan seksama, sebenarnya orang dapat melihatnya. Untuk itu saya akan memberikan beberapa contoh di sini:

1. Pada zaman dahulu manusia mengembangkan ilmu-ilmu alam menurut kebutuhan masyarakat. Baik untuk penggunaan praktis maupun religius orang melakukan penelitian, penemuan dalam ilmu pengetahuan. Mereka melakukannya dengan asumsi yang berlaku saat itu, yang oleh kebanyakan dari kita dipandang sebagai Mitos, misalnya, walaupun mereka sudah mengetahui bahwa bumi berbentuk bola orang Yunani tetap berpikir, bahwa ada seorang raksasa yang menopangnya dan dewa-dewa lainnya, sehingga manusia harus bertingkah menurut cara tertentu. Apa yang dapat kita saksikan di sini adalah kenyataan, (1) bahwa ilmu-ilmu alam sejak dari mula tidak dikembangkan dalam Getto, (2) bahwa manusia tidak hanya puas dengan hasil-hasil keilmuan, yang dapat menjelaskan kenyataan-kenyataan secara satuan, melainkan mereka berusaha juga untuk menjelaskan seluruh realitas, walaupun untuk itu mereka harus berspekulasi dengan penjelasan-penjelasan metafisis. (Banyak ilmuwan atheis pun setuju akan hal ini, walaupun mereka juga mengatakan bahwa penjelasan-penjelasan metafisis tersebut harus ditukar dengan penjelasan-penjelasan keilmuan.), (3) bahwa orang menentukan bidang-bidang lain dalam kehidupan manusia, misalnya Etika, Estetika dll., melalui suatu worldview yang merupakan pemahaman terhadap realitas yang utuh.

2. Dalam dunia modern, dimana dapat dikatakan, bahwa banyak mitos yang sudah ditukar dengan penjelasan-penjelasan keilmuan, toh muncul melaluinya banyak mitos baru, misalnya: Keutamaan rasio, alam yang bersifat mekanis, atheisme, dll. Kita dapat melihat bahwa tiga kenyataan tersebut sebenarnya tidak berubah. Tanpa konsep metafisik orang tidak dapat memahami seluruh kenyataan dalam realitas. Untuk hidup manusia membutuhkan bukan hanya memahami alam, melainkan juga kenyataan, supaya mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam hidupnya. Mitos-mitos modern yang baru tersebut memainkan peranan yang besar dalam worldview modern, dan menyebabkan munculnya etika modern, perang modern, eksistensialisme hingga postmodernisme. Saya telah memberikan 2 contoh dari sisi masyarakat, sekarang saya ingin juga memberikan suatu contoh dari seorang ilmuwan.

3. Einstein adalah seorang Ilmuwan modern, yang teorinya menyebabkan lahirnya teori baru yang berkontradiksi dengan worldviewnya yang modern. Dengan pernyataannya “Allah tidak bermain dadu” (1926) dia mempertahankan asumsi-asumsinya terhadap kemunculan teori Kuantum, bahwa alam semesta bersifat panteis dan determinis dan bahwa teori bukan hanya suatu penafsiran dan model dari realitas, melainkan suautu penjelasan yang sejati yang sekuat dan sama dengan hukum-hukum yang berlaku di dalam alam. Asumsi-asumsinya ini dapat ditelusuri dari worldview modern yang berasal dari pembacaan modern1 dari buku “Discours de la Methode” dari Rene Descartes. Untuk memahami konsep Einstein tentang alam secara lebih baik kita juga harus memahami buku “Ethik in geometrischer Ordnung dargestellt” dari Spinoza, karena Einstein mengembangkan konsepnya tentang Alam menurut jalur Spinoza. Pengakuannya pada tahun 1934 kepada Spinoza: “Keyakinan yang terkait dengan perasaan yang mendalam akan suatu nalar yang dipertimbangkan, yang menyatakan diri dalam dunia yang dapat dialami, membentuk pengertian saya tentang Allah; orang dapat mengatakannya juga dalam pengungkapan yang umum sebagai pantheis (Spinoza).”2 Walaupun Einstein seorang Yahudi, Allah yang tidak bermain dadu bukan Allah Abraham, Ishak dan Yakub, melainkan suatu kesimpulan dari pemikiran filsafat, yang seharusnya menjamin kedapat dipahamian alam, menurut Einstein terutama determinisme kausal. Di sini kita dapat melihat sesuatu, bahwa bagi Einstein pun ilmu pengetahuan alam, terutama fisika, bukan hanya berkenaan dengan axioma-axioma, melainkan juga suatu iman kepercayaan, asumsi-asumsi, dll. Iman kepercayaan dan asumsi-asumsi lain tersebut mengarahkan pemahaman seorang ilmuwan tentang kenyataan dalam realitas. Di sini Einstein mengkuatirkan, bahwa tanpa Allah yang demikian tidak ada jaminan apakah esok matahari masih akan terbit. Tanpa jaminan demikian maka apa yang menjadi jaminan ilmu pengetahuan akan ketepatan teori-teorinya?

Dari contoh-contoh yang diberikan kita dapat memahami mengapa para ilmuwan memperjuangkan posisi religius mereka itu. Apa yang sebenarnya terjadi adalah kenyataan bahwa tanpa asumsi-asumsi religius seperti itu pemahaman akan realitas tidak mungkin. Orang tidak dapat mengkaitkan data-data dan axioma-axioma tanpanya, untuk menghasilkan suatu pemahaman. Pemahaman bukan hanya masalah data dan axioma, melainkan relasi antaranya. Melaluinya manusia mengerti bukan hanya apa makna kehidupan, apa yang harus dilakukan dalam kehidupan, melainkan juga apa yang harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan, bagaimana mengembangkannnya lebih lanjut, bagaimana dan di mana manusia menempatkannya dalam kehidupan, dll.

Jika ada suatu relasi yang erat antara ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan alam dan iman, seperti apa relasi tersebut seharusnya? Tidak dapatkan seseorang sekadar mengambil suatu jenis dari relasi-relasi yang ada? Jika saya mengambil suatu relasi, apakah ada akibat teoritis ataupun praktis dalam kehidupan saya? Jika tidak, maka kita dapat sekadar mengambil suatu jenis relasi, yang kita sukai, Tetapi jika ya, maka kita seharusnya dengan hati-hati memilih di antara yang ada, satu untuk diambil.

Relasi tersebut tergantung pada jenis iman yang dimiliki si ilmuwan. Relasi tersebut berbeda-beda menurut worldview yang digunakan ilmuwan untuk memandang segalanya, misalnya, seorang ilmuwan ilmu alam yang atheis, yang percaya bahwa tidak ada Tuhan, akan berpikir bahwa tidak ada relasi ontologis antara ilmu alam yang dia pelajari dan makna hidupnya.
Relasi baginya bersifat praktis, bahwa dia menyukainya dan bekerja dan berkarier. Jika seandainya ada suatu relasi teoritis, alasannya adalah semua manusia melakukannya. Dia akan beranggapan bahwa suatu hukum universal yang berlaku dalam alam dan tugas dari ilmu alam adalah menemukannya. Tetapi darimana hukum itu berasal, mengapa hukum itu demikian, dll., tidak perlu dipertanyakan, Masalah utama yang ada ini menyebabkan dia menjual sifat kesejarahan dari ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu alam tidak dikembangkan dalam Getto, melainkan dalam suatu konteks sosial. Bagaimana penggunaannya? Apa yang boleh dan seharusnya diteliti?, dll. Pertanyaaan-pertanyaan ini tetap akan menjadi pertanyaan-pertanyaan praktis yang tidak mempunyai kekuatan ontologis. Orang harus mentaatinya karena hukum, karena pelanggar akan dihukum. (2) Keutuhan realitas akan tetap tidak terpahami. Walaupun akan selalu ada penemuan ilmu pengetahuan yang baru, toh pertanyaan-pertanyaan berikut tetap tidak terjawab, Apakah sebenarnya manusia itu? Apa makna dari hidup seorang manusia? dll., Apa yang dapat dikerjakan adalah mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mengatakan, bahwa tidak ada pertanyaan seperti itu. (3) Tetapi tanpa pertanyaan seperti itu tidak mudah untuk menyatukan kebenaran-kebenaran estetik, moral, etika, dll., (Mengenai kelemahannya saya tidak membicarakannya di sini.) Tetapi tentu saja dia dapat mengatakan, jika saya harus memikirakn semuanya, maka apa yang harus dikerjakan oleh para Filsuf, Sosiolog, ahli etika dan yang lainnya?

II. Suatu Ide Mengenai Integrasi Filosofis Antara Iman Kristen dan Ilmu-ilmu Alam

Setelah saya memberikan suatu contoh mengenai suatu relasi antara iman percaya dan ilmu-ilmu alam dari worldview atheis, saya akan membicarakan sekarang ide saya sendiri. Seperti yang telah saya katakan dari awal bahwa saya mewakili pandangan Kristen Reformed dan, sejujurnya, bangunan ide saya tentu saja bergantung pada isi iman dan worldview saya. Tetapi hal itu tidak berarti, bahwa saya tidak dapat memberikan pertanggungjawaban secara keilmuan. Mengingat tujuan dari karangan ini saya tidak akan memberikan terlalu banyak penjelasan yang spesifik dan keilmuan.

Alkitab mulai dengan suatu kalimat yang berbunyi, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” dan selalu memaparkan bahwa Allah menjalankan providensi-Nya dalam sejarah manusia dan akan mengakhiri sejarah.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Melalui kalimat ini kita dapat memahami, bahwa ada dasar ontologis bagi ilmu-ilmu alam di sini. Karena ciptaan tidak berasal dari probabilitas, melainkan dari rencana Allah, maka tugas dari ilmu alam dapat dipastikan di sini, yaitu menyingkapkan hukum-hukum Allah yang berlaku dalam Alam. Di sini jelas bahwa tugas dan etika dari ilmu-ilmu alam adalah menyingkapkan dan bukan menetapkan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.

Karena alam (menurut makna di kalangan ilmuwan) juga direncanakan oleh Tuhan dan sama dengan alam (menurut makna yang normal), maka tidak dibutuhkan pembedaan antara “alam” dan “kenyataan,” seperti yang di mengerti dalam konteks ilmu-ilmu alam.3 (Pada konteks yang lain, tentu saja saya mengerti bahwa, “kenyataan” tidak hanya berarti terbatas pada fenomena-fenomena alam saja.) Apa yang harus diubah di sini adalah asumsi yang ada dibelakang kata tersebut, bahwa alam harus berjalan sesuai dengan hukum yang ditemukan oleh para ilmuwan ilmu alam. Tugas yang jelas ini seharusnya menyebabkan, misalnya, bahwa ilmu alam tidak dapat menolak mukjizat dan ilmuwan tidak perlu mengatakan bahwa “Allah tidak bermain dadu” atau “Allah bermain dadu.” Apa yang saya maksudkan di sini seharusnya di kalangan ilmuwan ada suatu keterbukaan terhadap suatu kenyataan yang baru dan menerimanya sebagai bagian dari alam.

Karena alam dicipta oleh Allah dan Allah, sang Pencipta, adalah Allah yang berpribadi dan tritunggal, maka alam, yang diciptakan, pasti merefleksikan ciri-ciri sang Penciptanya. Maka pertama-tama alam bukan hanya telah-ada (atau ada-begitu-saja), melainkan ada-untuk,4 tepatnya, alam bukan hanya semata-mata ada, melainkan alam memiliki suatu makna, suatu fungsi, suatu konteks dan suatu tujuan sebagai sifatnya menurut rencana sang Penciptanya. Adalah kesalahan jika seseorang mengerjakan ilmu-ilmu alam seolah-olah mereka ada di dalam Getto. Kedua alam bukan hanya memiliki sifat one-and-many karena sifat one-and many dari sang Pencipta,5 melainkan juga sifat sosial, bahasa, dll. Maka bagaimanapun usahanya para ilmuwan tidak akan dapat menghilangkan ciri ilmu-ilmu alam tersebut, selama ilmu-ilmu alam masih berurusan dengan alam ciptaan Tuhan. Tiap kebenaran berkaitan satu dengan yang lain, dan usaha seperti itu hanya akan mengakibatkan abstraksi dan kontradiksi dari klaim-klaim keilmuan.

Hal ini juga tergantung pada manusia sebagai ciptaan tertinggi menurut gambar Allah. Kepada manusia tugas ini diberikan, untuk melayani dan menjaga alam.6 Karena manusia mirip Allah, manusia tidak dapat bekerja dalam Getto ketika mengembangkan ilmu-ilmu alam, apalagi dia adalah ciptaan yang bersifat sosial. Manusia harus tidak hanya demi kepentingan ilmu-ilmu alam saja menemukan hukum-hukum alam, melainkan juga untuk tujuan masyarakat, kemanusiaan dan tujuan tertinggi mempermuliakan Allah.

Di sini terdapat suatu kemungkinan, relasi dari semua aspek kehidupan manusia teoritis dan tanpa kontradiksi dibangun dan menempatkan ilmu alam pada posisinya. Di sini terdapat pula kemungkinan untuk menentukan langkah praktis untuk mengembangkan keilmuan tanpa berkontradiksi dan mereduksi aspek-aspek kehidupan yang lainnya.

Dalam iman Kristen dijelaskan pula bahwa manusia telah jatuh di dalam dosa. Kenyataan ini saya mengerti sebagai kenyataan sejarah. Dosa saya mengerti sebagai perlawanan manusia melawan Allah, sang Penciptanya. Sekalipun dosa manusia Allah tetap memelihara ciptaan-Nya. Alam berfungsi menurut hukumnya dan tidak menjadi kacau. Disini masih ada kemungkinan untuk memperkembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia yang telah jatuh. Tetapi kemungkinan ini digunakan manusia melalui ilmu-ilmu alam untuk melawan Allah, sang Pencipta dan Penopang. Memang tidak ada yang dapat berbicara tentang etika yang bersifat universal, jika seandainya Allah yang berpribadi tidak ada. Worldview Kristen menceritakan kepada kita bukan hanya apa yang terjadi, melainkan juga tugas dari anak-anak Tuhan yang berurusan dengan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu alam, yakni, menebus ilmu-ilmu alam demi kepentingan Allah.

Catatan kaki:
1. Pembacaan modern, yang dewasa ini berlaku di kalangan ilmuwan, sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang Rene Descarte maksudkan. Pembacaan modern tidak memperhatikan “Meditationes de Prima Philosophia.” Memang penekanan Descartes pada penggunaan rasio dan teori matematikanya melalui pembacaan modern ini dapat mengakibatkan orang mudah berpikir bahwa sekalipun Allah adalah Pencipta alam semesta, tetapi kuasanya dibatasi oleh hukum-hukum alam, atau lebih kecil daripada hukum-hukum alam tersebut. Berangkat dari sinilah muncul deisme dan konsep-konsep modern yang salah tentang Allah.
2. Dikutip oleh Dieter Hattrup dalam Einstein und der würfelnde Gott: An den Grenzen des Wissens in Naturwissenschaft und Theologie, (Freiburg: Herder, 2008), hlm. 19, dari Einstein, Albert., Mein Weltbild (1934). diterbitkan. Carl Sellig (Frankfurt u.a.: Ullstein, 1970), hlm. 201, 171.
3. Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang hal ini. Dalam perdebatan kami, teman saya mengatakan bahwa itu adalah problem semantik semata yang tidak perlu dipandang serius. Dalam diskusi tersebut saya mengajukan suatu contoh bahwa problem semantik bukan masalah remeh, melainkan suatu penipuan. Jika seseorang membeli daging, dan berkata kepada si penjual bahwa dia ingin membeli daging, lalu si penjual memberikan daging tikus kepadanya. Apakah yang akan dilakukan oleh orang tersebut? Bukankah dia akan merasa dipermainkan dan marah, walaupun daging tikus adalah daging juga. Tetapi dalam hal ini banyak orang senang menikmati penipuan.
4. Perbedaan antara “telah-ada” atau “ada-begitu-saja” (“vorhanden”) dan “ada-untuk” (“zuhanden”) dapat ditelusuri dari konsep dari Heidegger (Sein und Zeit). Tetapi di sini saya membuat suatu perubahan makna dan konteks. Perubahan tersebut adalah, pertama, Konteks dari kata tersebut berubah dari sifat-keduniaan- dunia-di- hadapan-manusia-sebagai-Dasein menjadi Situasi-ontologis- di-hadapan- Tuhan (von der Weltlichkeit der Welt vor den Menchen als Dasein zum ontologischen Zustand vor dem Gott). Catatan khusus bagi edisi Indonesia: ide keduniaan di sini bukan berarti sekuler, apa yang dibicarakan Heidegger tidak ada kaitan sama sekali dengan sakral dan sekuler! Kedua, Maknanya berbicara bahwa pada mulanya tidak ada yang telah-ada di hadapan Tuhan, karena dia adalah Sumber dari segalanya, bukannya ada-perbedaan- tersebut-bagi-manusia.
5. Problem one-and-many dapat diselesaikan oleh para theolog Van Tillian, melalui mereka menelusuri ke Kesempurnaan Allah Tritunggal. Tetapi tetap tinggal pertanyaan bagaimana hal itu seharusnya berfungsi, jika alam ciptaan memang one-and-many?
6. Terjemahan ini berasal dari kata-kata Ibrani “abad” dan “Shamar.” Kata-kata ini dalam penggunaannya oleh Musa menunjukkan kepada kita, bagaimana manusia harus menjalankan jabatannya sebagai mahkota ciptaan, yakni, pemimpin adalah pelayan.

Profil Ev. Steve Hendra:
Ev. Steve Hendra, S.T., M.Div. dilahirkan di Surabaya pada tahun 1976. Menerima Kristus pada tahun 1996 dan mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan pada tahun 1997.

Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 umum pada tahun 1999, melanjutkan pendidikan di Institut Reformed Jakarta dan mendapatkan gelar Master of Divinity (M.Div.) pada tahun 2003.

Mulai bulan Agustus 2003 melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Surabaya - Andhika serta sebagai dosen di Sekolah Theologi Reformed Injili Indonesia Surabaya (STRIS) Andhika dan International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS). Saat ini, beliau sedang studi di Jerman.
KECEWA KEPADA ALLAH

Oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG

Artikel ini ditranskrip dari renungan yang disampaikan pada Persekutuan Doa Mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) dan Institut Reformed hari Selasa, tanggal 16 Februari 1999

Dua hari yang lalu dalam suatu kesempatan yang baik, saya bertemu dengan dua orang saudara saya, Pdt. Dr. Caleb Tong dan Pdt. Dr. Joseph Tong. Saya menjemput mereka di bandara dan waktu di bandara seseorang datang kepada saya dan bertanya, “Pak Stephen ya?” Saya bilang, “Ya.” Kami berjabat tangan. “Anda ikut kebaktian di mana?” Saya bertanya padanya dan dia menjawab, “Ya, dulu pernah satu dua kali mendengar khotbah Pak Stephen Tong. Kemudian saya ke gereja-gereja yang lain. Sesudah itu keliling sini, keliling sana, tidak menetap.”Lalu saya bertanya, “Sekarang ke gereja mana?” Jawabannya, “Tidak ke gereja.” Saya bertanya, “Sekarang tidak ke gereja?” Dia merokok dengan satu tangannya ditaruh di belakang. Asap rokoknya terus mengepul seraya berbicara dan ngomong dengan saya. Saya rasa dia sudah melarikan diri dari Tuhan. Lalu saya bertanya, “Mengapa tidak ke gereja?” Dia menjawab, “Kecewa.” “Kecewa dengan siapa?” tanya saya. “Terus terang kecewa kepada Tuhan,” setelah mengatakan kalimat itu, dia lalu pergi.

Saya tidak habis-habisnya memikirkan kalimat itu. Berhakkah? Berhakkah manusia yang dicipta kecewa terhadap Sang Penciptanya? Ini yang menjadi pemikiran saya. Who are we? We think we deserve the right to claim we are disappointed by God. Siapakah kita yang berhak mengatakan, “Aku dikecewakan oleh Tuhan. Aku kecewa terhadap Tuhan.”

Kalimat ini membuat saya memutar pikiran sepanjang satu hari itu. Theologi apakah ini? Theologi ajaran apakah yang mengajar manusia, sehingga berani mengatakan, “Allah mengecewakan saya.” Kalau Allah mengecewakan seseorang, hanya karena beberapa sebab, yaitu: Pertama, Allah berutang kepada saya dan Dia lupa bayar, maka saya kecewa. Kedua, Allah menipu saya, akhirnya saya dirugikan, maka saya kecewa. Ketiga, Allah berjanji sesuatu, akhirnya Dia tidak melunaskannya, sehingga saya kecewa. Tiga presuposisi ini, semuanya tidak memiliki dasar Alkitab. Allah tidak pernah berutang kepada manusia. Theologi yang benar mengatakan, manusia berutang kemuliaan Allah dan tidak bisa membayar sendiri. Yang seharusnya dikatakan adalah kitalah yang mengecewakan Tuhan, bukan Tuhan yang mengecewakan kita. Allah tidak pernah menjanjikan sesuatu yang Dia sendiri tidak melunaskannya, kecuali janji itu adalah semacam tafsiran manusia dan "misleading" (penyesatan) dari orang yang salah mengerti Alkitab. Jadi, Allah tidak berutang kepada saya, Allah tidak sembarang berjanji kepada saya, Allah tidak mungkin menipu saya.

Jika demikian apakah penyebabnya? Penyebab pertama adalah adanya pengkhotbah-pengkhotbah yang memberikan tafsiran yang salah terhadap ayat-ayat Alkitab. Misalnya, yang percaya kepada Tuhan pasti dapat kekayaan, pasti dapat hidup yang subur, makmur di dalam materi. Yang percaya kepada Tuhan pasti tidak ada marabahaya, penyakit, kesulitan, dan kemiskinan. Misalnya lagi, jikalau engkau memberikan persembahan, Tuhan akan mengembalikan sepuluh kali lipat ganda. Apakah saudara pernah mendengar khotbah semacam ini? Hal ini terjadi sejak kira-kira 25 tahun yang lalu, selangkah demi selangkah merambat masuk ke dalam mimbar-mimbar gereja yang tidak bertanggung jawab. Tetapi setiap statement yang tidak benar, bisa juga mendapatkan tunjangan dari Kitab Suci. Jadi ada ayat-ayat yang sepertinya mendukung statement itu, karena dimengerti secara fragmentaris, dan bukan secara totalitas. Karena mengambil ayat sebagian-sebagian lalu mengkhotbahkannya, sangat mungkin terjadi misleading bagi orang lain yang mendengarnya.

Kedua, pengertian yang tidak membandingkan antara satu ayat dengan ayat yang lain, mengakibatkan tidak diperolehnya prinsip total Kitab Suci. Mengambil suatu keputusan melalui bagian-bagian, lalu membuat statement. Hal ini sangat membahayakan. Saudara sebagai pengkhotbah, sebagai pemimpin gereja, sebagai pembawa firman, sebagai pemberita kehendak Tuhan, harus menghindarkan diri dari hal-hal semacam itu.

Saya percaya, bukan dia saja, mungkin seluruh Indonesia berani mengatakan, “Aku kecewa terhadap Tuhan.” Mungkin sudah puluhan juta orang pernah mempunyai ajaran salah yang menuju pada konklusi bahwa Allah menipu dia, Allah tidak melunaskan janji-Nya, Allah berutang kepada dia sehingga dia berani mengatakan, “Saya kecewa kepada Tuhan.”

Tahun 1965, kalau saya tidak salah ingat, gunung Agung meletus di Bali. Lavanya mengalir begitu cepat, sehingga banyak orang yang tidak sempat mengungsi, mendadak terkena lava. Pada waktu itu saya berada di Bandung, lalu seorang wartawan datang kepada saya, “Pak Stephen, bolehkah saya tunjukkan kira-kira 180 foto yang saya ambil dengan cepat pada waktu orang-orang terkena lava itu?” Saya sedang makan ketika wartawan itu datang dan duduk di samping saya. Waktu saya melihat foto-foto tersebut, rasanya saya ingin muntah. Ada orang yang sedang tidur, lavanya datang dan saat itu juga separuh badannya menjadi tulang, dan separuhnya masih daging. Di tengah-tengah sambungan antara daging dan tempat tulang itu, ada satu garis putih yang besar dan bengkak, seperti kulit babi yang digoreng jadi rambak/krupuk. Bagian yang terkena api panas itu langsung melembung. Satu bagian masih daging biasa, bagian yang lain, matang menjadi seperti rambak. Meskipun saya mau muntah tapi saya dikejar oleh kuriositas, jadi satu per satu foto tersebut saya lihat sambil mau mengeluarkan air mata, sambil mau menangis, sambil mau berteriak, tetapi tidak bisa. Namun ada beberapa foto yang menggugah theologi saya, yaitu lava yang sudah dekat kira-kira tiga meter lagi, dan dalam beberapa detik akan terkena lava, tetapi orang tersebut tidak lari, ia sedang berlutut berdoa kepada dewa. Waktu saya lihat, saya berpikir, “Wah! Ini begitu beda dengan orang Kristen. Mengapa ada orang Kristen pada hari lancar, dia berani berdosa. Sedikit rugi, langsung mencaci maki Tuhan Allah. Mengapa orang kafir waktu mereka menghadapi kecelakaan, mereka tidak memaki-maki dewa mereka. Mereka minta pertolongan dewa, jangan sampai memusnahkan mereka. Mereka mengaku kesalahan, mengaku dosa.” Pemikiran ini terus mempengaruhi saya sampai sekarang, sudah lebih dari 30 tahun.

Pemikiran itu adalah, Why?...Why? ... What causes that? What causes it to be like that? Apa salahnya pemberitaan kita? Apa salahnya khotbah kita, sehingga anggota kita selalu merasa dia sepatutnya menerima anugerah Tuhan dan tidak boleh dirugikan apapun oleh Tuhan, kalau tidak, Allah harus dicela, dimaki, dipersalahkan, dan akhirnya dia keluar dari gereja.

Lalu dari situ, pemikiran saya mulai berkembang pada the theology of suffering, the theology of worship, the theology of understanding grace, theology of resistant to the tribulation. Berkembanglah begitu banyak pemikiran saya semenjak melihat 180 foto tersebut. Mengapakah orang-orang Asia dengan sedikit kesulitan, meninggalkan gereja, keluar dari gereja? Mengapa orang Yahudi yang dibantai, dibunuh dengan gas, dihancurkan hidupnya, enam juta setengah jiwa, di dalam holocaust, tetapi mereka tetap menyembah Allah, tetap takut kepada Tuhan dan mereka tidak pernah meninggalkan iman mereka? Jadi, what's wrong? Apa yang salah di dalam pemberitaan kekristenan? Jawaban saya adalah satu kalimat, “Kita lebih suka memberitakan Allah itu kasih adanya, mengobral murah kasih Allah daripada berani mengkhotbahkan Allah itu suci dan adil, Dia akan menghakimi dosa seluruh dunia.”

Dari konklusi ini, pemikiran saya berkembang lagi, di manakah hamba-hamba Tuhan yang berani menyatakan tahta kemarahan Tuhan, keadilan Tuhan, kesucian Tuhan, untuk mengingatkan bangsa dan zaman ini? Semakin lama semakin sedikit. Tetapi pendeta yang berusaha memberikan injil palsu supaya gerejanya bertumbuh, supaya lebih banyak orang mendengar khotbahnya dengan kalimat, “Percayalah Tuhan, semua penyakit akan disembuhkan, semua kesulitan diatasi, semua akan diberikan kepada engkau” begitu banyak sekali, bahkan di dalam aliran Pentakosta dan Karismatik sudah teracun satu pikiran: dengan banyak mujizat yang dilihat, orang akan beriman.

Namun hari ini saya akan menunjukkan dua prinsip. Prinsip pertama, Yohanes Pembaptis tidak pernah melakukan satu mujizat pun, namun banyak orang yang percaya melalui dia. Karena sifat lurus, jujur, berani, dan tidak mau dipengaruhi oleh dosa sehingga dia berkhotbah dengan kuasa luar biasa. Itu catatan Alkitab. Yohanes tidak pernah melakukan satu mujizat pun, tetapi yang percaya karena dia banyak sekali. Kedua, Islam adalah satu agama yang tidak pernah mengembangkan anggota mereka melalui daya tarik mujizat. Tidak pernah hal itu terjadi. Pada zaman filsuf David Hume, one of the greatest scepticist in the history of human philosophy, ia mengatakan bahwa salah satu sebab yang dipakai oleh orang Kristen untuk membuktikan agama Kristen sebagai satu-satunya agama yang sah adalah tidak adanya mujizat pada agama lain, tetapi hanya ada pada agama Kristen dan dimuat di dalam Kitab Suci. Tetapi cara dia melawan kekristenan justru dengan pertanyaan pernahkah mujizat yang dicatat dalam Kitab Suci orang Kristen, terjadi? Itupun belum bisa dibuktikan. Maka memakai bukti bahwa Kristen ada mujizat maka Kristen itu sah, pada hakekatnya tidak pernah mempunyai dukungan bukti. Apakah yang dicatat dalam Kitab Suci sungguh-sungguh pernah terjadi? Jadi dia menjadi scepticist. Itu namanya to destroy from the foundation the seeking of Christian foundation.

Orang Kristen pada zaman itu selalu memakai fondasi-fondasi yang salah yang sebenarnya bukan fondasi untuk membangun iman. Kalau kita membiasakan diri menjadi pemberita, hoki, fat choi, property, kesuksesan sebagai imbalan kalau percaya kepada Tuhan, maka kita akan menciptakan orang-orang yang akhirnya melarikan diri dari kekristenan dengan kalimat, “Aku tidak lagi ke gereja karena aku kecewa kepada Tuhan.” Saudara seharusnya mempersiapkan diri menjadi hamba Tuhan yang bertanggung jawab dalam pemberitaan firman, sehingga anggotamu selalu menuntut, “Saya jangan menipu Tuhan, saya jangan berutang kepada Tuhan, saya harus menepati apa yang saya janjikan kepada Tuhan.” Dan bukan berkata, “Tuhan berutang kepada saya, Tuhan menipu saya, apa yang Tuhan janjikan, tidak saya dapatkan, maka saya berhak melawan dan kecewa kepada Dia.” Kiranya renungan pendek ini menjadi kekuatan bagi kita untuk menegakkan kembali kebenaran di dalam zaman ini.
Sumber: Majalah MOMENTUM No. 39 – Maret 1999
Tentang YOGA

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Definisi dan Sejarah Singkat

Bagi sebagian besar masyarakat Barat, yoga sering kali hanya dipahami sebagai salah satu sistem latihan fisik untuk perenggangan tubuh, peningkatan kelenturan dan penyembuhan penyakit ringan. Jika kita menyelidiki sejarah dan filosofi di balik yoga, maka kita akan mengetahui bahwa yoga lebih dari sekedar latihan fisik. Yoga adalah jalan kuno menuju kerohanian. Jalan ini berasal dari literatur-literatur kuno India.

Konsep ini sudah tersirat dari nama yang dipakai. Istilah “yoga” berasal dari bahasa Sansekerta. Istilah yang berasal dari akar kata yuj (artinya “mengontrol”, “memasang kuk” atau “menyatukan”) ini memiliki arti yang beragam. Arti yang paling populer adalah “penyatuan”. Yang dimaksud penyatuan di sini adalah penyatuan antara jiwa yang terbatas (diri yang fana) dengan jiwa yang tidak terbatas (Brahma/Diri yang kekal). Brahma adalah realitas tertinggi, suatu allah yang tidak berpribadi, suatu substansi ilahi yang menyerap, melingkupi dan melandasi segala sesuatu.

Dalam Larson’s New Book of Cults dijelaskan bahwa yoga terdiri dari beberapa aliran/bentuk: Karma Yoga (persatuan rohani melalui perbuatan baik), Bhakti Yoga(persatan dengan Yang Mutlak melalui devosi kepada seorang guru), Juana atau Gyana Yoga (jalan masuk kepada keilahian melalui pengetahuan mistik) dan Raja Yoga (kesadaran ilahi melalui kontrol mental). Jenis yoga yang sering diperbincangkan dan dipraktikkan orang termasuk dalam Raja Yoga.

Dilihat dari sisi historis, perkembangan yoga dapat dibagi dijelaskan sebagai berikut: (1) akar tertua dapat ditelusuri sampai pada Upanishads (sekitar 1000-500 SM). Dalam buku tua ini diajarkan “satukan terang di dalam dirimu dengan terang yang ada di dalam Brahma”; (2) kata “yoga” berikutnya juga ditemukan dalam buku Bhagavad Gita (sekitar abad ke-5 SM). Di pasal 6 buku ini Krishna berkata, “maka sukacita tertinggi datang kepada Yogi (orang yang melakukan yoga)...yang menjadi satu dengan Brahma, allah itu”; (3) pada pertengahan abad ke-2 M, Panjali dalam bukunya Yoga Sutras membagi yoga menjadi 8 cabang seperti anak tangga, masing-masing: yama (pengendalian diri/asketisisme), niyama (ibadah keagamaan), asana (posisi tubuh), pranayama (latihan pernafasan), pratyahara (pengendalian indera), dharana (konsentrasi), dhyana (kontemplasi yang dalam) dan samadhi (pencerahan).

Filosofi Di Balik Yoga

Sebagai salah satu fenomena keagamaan yang berasal dari Timur, yoga memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan aliran lain dalam Gerakan Zaman Baru. Prinsip dasar yang ada reatif sama, tetapi beberapa memang sedikit berbeda. Apa saja filosofi di balik praktik yoga?

Pertama, dualisme. Dalam agama-agama kuno di India dikenal konsep yang dualistik antara jiwa (spiritual) dan tubuh (material). Tubuh dianggap sebagai sesuatu yang lebih rendah daripada jiwa. Tubuh adalah sumber segala kejahatan. Apa yang tampak hanyalah sebuah ilusi, sedangkan realita sebenarnya terletak pada hal-hal yang spiritual. Tidak heran, para yogi pada zaman dahulu dikenal sebagai “orang yang telah mengambil sumpah untuk hidup dalam kemiskinan, kesucian, gaya hidup selibat dan meditasi sepanjang hari”. Para penganut yoga juga cenderung melihat kehidupan fana di dunia sebagai kehidupan yang rendah dan tidak layak dihidupi (Moti Lal Pandit).

Kedua, pembebasan (liberation). Dilihat dari sisi istilah “yoga” yang berarti “memasang kuk” atau “mengontrol”, kita mungkin heran bagaimana pembebasan dapat menjadi filosofi dasar dalam yoga. Kebingungan ini akan hilang jika kita memahami apa yang dimaksud dengan pembebasan dalam yoga. Pembebasan bukan berarti bebas mengumbar hawa nafsu. Sebaliknya, pembebasan di sini berkaitan dengan pembebasan dari diri sendiri. Diri sendiri bersifat kafir dan menghalangi terjadinya pencerahan. Orang harus mendisiplin pikiran, tubuh dan jiwanya supaya bisa terfokus pada Allah. Sehubungan dengan prinsip ini, pengosongan pikiran, posisi tubuh dalam pose tertentu dan meditasi sangat ditekankan dalam yoga. Semua ini dipercaya akan memberikan kebebasan.

Ketiga, pencapaian pengetahuan/hikmat yang tertinggi. Melalui yoga orang yakin bahwa dia akan memperoleh pencerahan-pencerahan yang membuat dia menjadi lebih berhikmat. Meditasi dianggap sebagai instrumen yang efektif untuk menumbuhkan pengetahuan rohani seseorang. Dia akan semakin mengerti tentang hakekat manusia, alam semesta dan alam. Dia akan dibebaskan dari kebodohan metafisik yang dia alami selama ini, yaitu ketidaksadaran bahwa manusia (segala sesuatu) adalah ilahi.

Keempat, spiritisme. Dalam kasus-kasus tertentu, meditasi dalam yoga mencakup pemanggilan berbagai roh ke dalam diri seseorang maupun upaya seseorang masuk ke dalam dunia roh tersebut. Keterlibatan yang “paling ringan” dalam hal ini adalah perenungan yang dalam tentang suatu allah yang berbeda dengan Allah dalam Alkitab.

Kelima, kesatuan dengan allah. Dalam yoga seseorang tidak hanya memikirkan tentang allah, tetapi dia sendiri juga berusaha menyatu dengan kekuatan ilahi itu. Dia mencoba membebaskan “dirinya” dan benar-benar menyatu secara hakekat dengan apa yng dia percayai sebagai allah. Ketika seseorang sudah mencapai tingkatan yoga yang tertinggi, maka orang itu akan mengalami kesadaran dan pengalaman sebagai allah.

Daya Tarik Yoga

Salah satu fakta yang tidak disangkal adalah popularitas yoga yang semakin menanjak. Yoga tidak hanya digemari oleh orang Timur, tetapi juga orang Barat. Yoga bukan lagi monopoli para penganut agama Hindu dan Budha, tetapi para penganut agama lain juga. Beberapa penganut agama non-Hindu – termasuk Kekristenan - bahkan telah mencoba mengembangkan sebuah yoga yang disesuaikan dengan agama mereka. Dari perspektif Hindu, sinkretisme seperti ini sah-sah saja, karena mereka percaya bahwa ada banyak jalan menuju persatuan dengan Allah.

Mengapa yoga begitu diminati oleh banyak orang, bahkan di dunia Barat sekalipun? Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Faktor utama adalah kehidupan di Barat yang serba cepat dan menekan. Kondisi seperti ini membuat manusia cepat lelah, baik secara fisik maupun mental. Yoga berhasil menawarkan dua macam kelegaan itu sekaligus.

Faktor lain adalah kekecewaan terhadap materialisme. Di dunia Barat kelimpahan secara materi merupakan sesuat yang sudah biasa. Mereka mudah mendapatkan segala macam materi yang mereka inginkan. Semua ini ternyata tidak memberikan kepuasan bagi mereka. Mereka membutuhkan hal-hal lain yang non-material. Mereka menginginkan kepuasan psikologis, mental dan kerohanian. Semua ini juga ditawarkan oleh yoga.

Faktor lain berkaitan dengan wajah Kekristenan yang dianggap terlalu kering. Sebagian orang Kristen yang mempraktikkan yoga mengaku bahwa mereka selama ini merasa kering dengan Kekristenan. Kekristenan hanya diidentikkan dengan liturgi dan dogma. Mereka tidak mendapatkan sentuhan emosional dalam kehidupan Kekristenan mereka. Kekosongan inilah yang akhirnya dianggap dapat diisi melalui yoga.

Apakah Latihan Fisik Dalam Yoga Dapat Dipisahkan dari Filosofi Di Baliknya?

Beberapa orang Kristen yang mengetahui filosofi di balik yoga mengaku bahwa praktik ini merupakan pelanggaran terhadap Alkitab. Bagaimanapun, sebagian dari mereka tetap bersikeras bahwa tidak semua yoga adalah salah. Menurut mereka, yoga yang hanya berhubungan dengan latihan fisik boleh diikuti oleh orang-orang Kristen.

Apakah pandangan di atas dapat diterima? Untuk menjawabnya, mari kita memfokuskan pembahasan pada salah satu jenis yoga yang dianggap “paling aman” karena hanya mengajarkan latihan-latihan fisik. Yoga ini disebut Hatha Yoga. Yoga jenis ini hanya terdiri dari asana (posisi tubuh) dan pranayama (latihan pernafasan).

Dua hal di atas ternyata tidak terpisahkan dari filosofi di baliknya. David Fetcho, seorang peneliti terkenal dalam bidang yoga, menyatakan bahwa latihan fisik yoga tidak mungkin dipisahkan dari metafisika Timur yang melandasinya. Para ahli yoga yang lain juga sepakat bahwa asana dan pranayama merupakan bagian integral dari keseluruhan yoga. Tujuan dari Hatha Yoga adalah menghilangkan halangan-halangan fisik untuk menuju pada tingkatan yang lebih tinggi. Pranayama merupakan cara untuk mengontrol energi mistis/vital dalam tubuh. Energi ini dipercayai sebagai energi ilahi yang universal, tidak terbatas dan mahahadir, yang berada di balik dunia materi (akasa). Jika seseorang mampu mengontrol energi secara sempurna, maka dia akan menjadi mahahadir dan mahakuasa. Jiwanya dapat berada di mana saja dan melakukan apa saja.

Posisi tubuh yang sudah diatur sedemikian rupa (asana) juga bertujuan untuk memanipulasi kesadaran. Masing-masing posisi tubuh memiliki filosofi dan tujuan tersendiri. Tujuan ini lebih ke arah psikologis atau spiritual daripada fisik (somatis). Dengan demikian Hatha Yoga bukan sekedar latihan fisik, tetapi latihan psikosomatis yang melibatkan tubuh dan jiwa.

Bagaimana dengan latihan perenggangan tubuh yang ditemukan juga dalam berbagai latihan pemanasan di olah raga? Untuk hal ini kita sebaiknya mengakui bahwa jika latihan itu benar-benar dipisahkan dari konteks yoga, maka latihan tersebut dapat dibenarkan.. Bagaimanapun, jika latihan ini dilakukan sebagai latihan yoga, maka hal ini harus dihindari. Orang yang sudah merasakan manfaat dari latihan yoga yang paling dasar sangat mungkin akan tergoda untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Kalau sekedar ingin mendapatkan manfaat fisik dari beberapa latihan perenggangan di dalam yoga, kita dapat menggantinya dengan beberapa olah raga lain yang menfaatnya sama atau bahkan lebih besar daripada beberapa gerakan yoga, misalnya aerobik, senam di dalam air dan latihan pemanasan yang lain.

Bahaya-bahaya Yoga

Terlepas dari keuntungan fisik yang didapat dari latihan yoga, yoga ternyata dapat menyebabkan berbagai masalah yang serius. Para ahli yoga sudah lama memahami kemungkinan terjadinya bahaya-bahaya tersebut. Dari segi fisik, latihan pernafasan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Swami Prabhavananda mengatakan, “kecuali dilakukan dengan tepat, ada sebuah kemungkinan besar untuk membahayakan otak. Mereka yang melakukan latihan pernafasan tanpa pengawasan yang memadai dapat menderita sebuah penyakit yang ilmu pengetahuan maupun dokter tidak dapat mengobatinya.

Dari segi kejiwaan, yoga tidak kalah berbahaya. Gopi Krishna, salah seorang ahli dalam kundalini, mengungkapkan pengalamannya bahwa selama bertahun-tahun dia mengalami berbagai macam bentuk kejiwaan. Dia pernah merasa begitu terobsesi, sakit, gila sampai dijadikan medium dari berbagai roh. Ia mengakuinya bahwa hidupnya kadangkaa berpindah-pindah dari keadaan gila ke normal, begitu sebaliknya.

Dari segi spiritual, yoga jelas sangat berbahaya. Salah satunya adalah pengalaman spiritual dalam yoga yang disebut dengan istilah “kundalini” (kekuatan ular). Swami Vivekananda menjelaskan pengalaman ini sebagai berikut: jika dibangkitkan melalui latihan disiplin-disiplin rohani, maka [kekuatan] ini naik melalui tulang belakang, melewati berbagai pusat saraf dan akhirnya mencapai otak, di mana yogi mengalami samadhi atau penyerapan total dalam keilahian”. Pengalaman ini jelas merupakan penyembahan berhala, karena allah yang dalam yoga bukanlah Allah yang benar (Kel. 20:3-6; Gal. 5:19-21).

Perspektif Alkitab tentang Yoga

Beberapa orang Kristen melihat ada kesamaan antara yoga dan Alkitab. Dalam yoga diajarkan tentang kesatuan dengan allah, natur manusia yang ilahi dan perlunya menguasai keinginan tubuh yang jahat. Berdasarkan kesamaan ini, mereka kemudian berusaha untuk mengembangkan sebuah yoga yang bernuansa Kristen. Usaha ini hanyalah sebuah utopia atau bahkan tipu daya iblis atas orang-orang percaya.

Pertama, para ahli yoga berpendapat bahwa yoga bukanlah prinsip yang diadopsi oleh agama Hindu. Yoga adalah prinsip yang berasal dari agama Hindu. Selain itu, beberapa elemen dalam yoga jelas tidak dapat diganti dengan yang lain, misalnya yama danniyamas. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah tujuan akhir dari yoga. Jika yoga tidak berujung pada kesadaran bahwa manusia adalah ilahi, maka yoga tersebut tidak bisa disebut yoga, karena tidak memenuhi tujuan utama yoga. Berdasarkan tujuan inilah, semua elemen yoga telah diatur sedemikian rupa.

Kedua, beberapa kesamaan antara yoga dan Kekristenan hanya terbatas pada kesamaan secara umum. Kebenaran Allah memang terletak di mana-mana dan segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Allah memberikan wahyu umum kepada seluruh umat manusia. Walaupun demikian, jika diselidiki lebih mendalam, maka di balik kesamaan-kesamaan yang ada kita justru akan menemukan perbedaan-perbedaan yang jauh lebih fundamental.

· Pentingnya kesatuan dengan Allah.

Yesus berdoa agar semua orang percaya bersatu dan berada di dalam Allah (Yoh. 17:21). Dia juga mengajarkan bahwa orang percaya harus terus-menerus berada di dalam Dia (Yoh. 15:4). Perbedaan kesatuan ini dengan kesatuan versi yoga terletak pada jenis kesatuan dan cara untuk mencapai kesatan. Alkitab tidak pernah mengajarkan kesatuan dalam arti penyatuan hakekat. Cara yang dipakai pun bukan melalui disiplin mental seperti di dalam yoga, tetapi melalui ketaatan kepada firman Tuhan (Yoh. 15:10).

· Natur ilahi dalam diri manusia.

Dalam salah satu suratnya Petrus pernah berkata bahwa orang percaya “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2Ptr. 1:4). Dari konteks yang ada terlihat bahwa partisipasi dalam kodrat ilahi ini tidak berarti bahwa orang percaya menjadi allah atau mewarisi natur keilahian.. Partisipasi ini sangat berhubungan dengan kehidupan kekal yang akan diterima oleh orang percaya. Makna inilah yang sering dijumpai dalam literatur Yahudi tentang partisipasi dalam kodrat ilahi (4Mak. 18:3; Keb. Sal. 2:23).

· Perlunya menguasai keinginan tubuh.

Yakobus mengingatkan bahwa dalam diri manusia ada hawa nafsu yang terus berjuang untuk menguasai (4:1). Petrus juga mengakui adanya keinginan daging yang terus berjuang melawan keinginan jiwa (1Ptr. 2:11). Karena itu, orang percaya harus berusaha mematikan keinginan-keinginan tersebut. Perbedaan dengan yoga, penguasaan atas tubuh manusia yang berdosa ini dilakukan melalui kekuatan Roh (Rm. 8:13 “oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu”).

Ketiga, Alkitab secara tegas menentang beberapa konsep yang salah dalam yoga.

· Tubuh bukanlah jahat. Tubuh ditebus oleh Tuhan Yesus (1Kor. 6:19-20) dan harus dipersembahkan kepada Tuhan (Rm. 12:1).

· Masalah utama bukan terletak pada tubuh itu sendiri, tetapi pada dosa yang telah merusak natur manusia (Rm. 7:19-20).

· Jalan keluar bagi masalah ini bukanlah disiplin rohani yang bersifat anthroposentris, tetapi melalui kasih karunia Allah di dalam Kristus (Rm. 7:24-25) dan pertolongan Roh Kudus (Rm. 8:8-9).

· Hidup di dalam daging tetap merupakan hidup yang bermakna, sejauh hal itu dihidupi di dalam iman di dalam Kristus (Gal. 2:20).

· Segala bentuk asketisisme adalah tindakan yang salah. Kolose 2:23 “peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”.

· Manusia sangat terbatas dan sangat bergatung pada kehendak Allah (Yak. 4:15).

· Penyamaan diri dengan Allah adalah cara yang dipakai iblis untuk menjatuhkan Adam dan Hawa (Kej. 3:1-5).

· Penyamaan diri dengan Allah pasti diberi hukuman yang sangat berat (Yes. 14:4-20; Kis. 12:22-23).

Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/page.php?BIB-Dunia_Roh-11

Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya.. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

Jumat, 10 Juli 2009

Christian World View
oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Pembahasan tentang Christian World View (seterusnya disingkat CWC) biasanya mencakup dua sisi:
1. Mayoritas theolog dan filsuf Kristen memfokuskan pada validitas CWV dibandingkan dengan world view yang lain. Validitas ini didasarkan pada kekuatan argumentasi rasional CWV. Pendekatan ini bernuansa apologetis dan dalam konteks pluralitas keyakinan (atheisme, pantheisme, panentheisme, deisme, empirisme, skeptisisme, dll).[1]
2. Sebagian kecil lebih menyoroti signifikansi dan implikasi CWV dalam berbagai bidang kehidupan orang percaya.
Sesuai dengan permintaan Panitia Retreat, pembahasan dalam tulisan ini lebih diarahkan pada poin kedua. Pembahasan pun tidak mencakup semua aspek world view, tetapi hanya difokuskan pada world view tentang Allah.
Definisi
Secara sederhana world view dapat didefinisikan sebagai “how one views or interprets reality...it is the framework through which or by which one makes sense of the data of life.[2] Definisi ini sebenarnya jauh dari memadai. Beberapa usulan definisi lain yang telah diajukan ternyata juga belum mencakup semua aspek dari world view. Paling tidak dibutuhkan beberapa kalimat atau satu kalimat panjang untuk menyentuh semua esensi world view. Beberapa kata yang dipakai bahkan masih membutuhkan elaborasi lanjut. Demi mencapai pemahaman yang komprehensif dan tidak bias, world view lebih baik diterangkan melampaui kapasitas definisi. Artinya, pembahasan sebaiknya lebih diarahkan pada karakteristik world view:[3]
1. World view memiliki tujuan yang holistik: mencoba melihat setiap area kehidupan dan pemikiran dalam suatu cara yang integratif.
2. World view merupakan pendekatan yang bersifat perspektif: melihat hal-hal dari titik pandang yang sudah diadopsi sebelumnya yang sekarang menyediakan kerangka integratif. World view lebih mendasar daripada presuposisi. Dalam istilah James W. Sire,world view adalah “basic presuppositions.”[4]
3. World view memiliki proses eksplorasi: mengarahkan hubungan antara satu area dengan area yang lain ke suatu perspektif yang terpadu.
4. World view bersifat pluralistik: perspektif dasar dapat diartikulasikan dalam beberapa cara yang berbeda.
5. World view memiliki tindakan sebagai hasilnya: apa yang dipikirkan dan dinilai membimbing apa yang akan dilakukan.
Setiap orang pasti memiliki world view terlepas dari (1) orang tersebut menyadari atau tidak bahwa ia memilikinya; (2) orang tersebut memahami pengertian world view atau tidak; (3) world viewtersebut benar atau tidak; (3) world view tersebut terintegrasi atau tidak. Presuposisi-presuposisi dalam sistem world view biasanya bersifat interdependensi. Pendeknya, tidak ada satu area kehidupan pun yang tidak bersentuhan dengan world view, meskipun implikasi tersebut kadangkala sangat jauh. Contoh: perdebatan tentang aborsi sangat ditentukan oleh perspektif seseorang tentang Allah sebagai pencipta dan nilai manusia.
Keutamaan Posisi Allah dalam CWV
Keutamaan Allah dalam CWV terlihat dengan jelas dari hal-hal berikut:
1. Alkitab dimulai dengan suatu topik yang dianggap menjadi dasar pembahasan semua world view, yaitu Allah dan alam semesta sebagai ciptaan-Nya (Kej 1:1).
2. Alkitab pada dasarnya merupakan pewahyuan tentang eksistensi dan atribut Allah – suatu topik yang mendasari seluruh bangunan world view seseorang.
3 Kata benda yang paling sering muncul dalam Perjanjian Baru adalah kata theos (Allah), yaitu sebanyak 1317 kali.[5] Lebih dari 40% di antaranya muncul dari pena Paulus, seorang yang sangat mempengaruhi world view Kristiani.[6]
4. Hampir semua buku doktrin, terutama tulisan theolog Reformed, selalu diawali dengan pembahasan tentang Allah atau Alkitab sebagai wahyu Allah.[7] Konsep tentang Allah dianggap menjadi dasar bagi doktrin-doktrin yang lain.
5. Kultur dan perkembangan sains, terutama di dunia Barat, sangat dipengaruhi oleh konsep tentang Allah dan alam semesta di Kejadian 1:26-28 (kontras pantheisme agama kuno dan dualisme Yunani).
Implikasi CWV yang Theosentris
Membicarakan CWV tentang Allah merupakan sesuatu yang kompleks.
(1) Dari sisi kemungkinan pengenalan Allah, CWV tentang Allah merupakan kontras dengan agnostisisme, skeptisisme, relativisme, empirisisme, eksistensialisme, dll.
(2) Dari sisi kemungkinan eksistensi Allah, CWV berbeda dengan atheisme.
(3) Dari sisi personalitas “Allah”, CWV berbeda dengan pantheisme, dan panenteisme.
(4) Dari sisi relasi dengan ciptaan, CWV berbeda dengan deisme dan dualisme Yunani.
(5) Dari sisi pewahyuan yang lebih progresif, CWV berbeda dengan ajaran Yudaisme maupun Islam.
Sisi terakhir inilah yang paling relevan dengan topik retreat kali ini. Namun, perbedaan yang ada juga cukup melimpah dan kompleks. Untuk menghemat ruang dan waktu, CWV tentang Allah hanya akan dibatasi pada Pengakuan Iman Rasuli “Aku percaya kepada Allah yang mahakuasa, khalik langit dan bumi”. Secara verbal beberapa bagian dari pengakuan tersebut memang sama dengan konsep Yudaisme dan Islam, tetapi penjelasan di baliknya memberikan kekhususan CWV.[8]
1. Aku.
Kredo memang dimaksudkan untuk diproklamasikan bersama-sama dengan gereja seluruh dunia (atau minimal gereja-gereja pada waktu itu yang menghadapi ajaran sesat), namun kredo tersebut tetap harus menjadi pengakuan pribadi (“aku”, bukan “kami”).
2. Aku percaya kepada Allah.
Percaya dapat memiliki beragam konotasi. Mempercayai sesuatu yang tidak berpribadi hanya melibatkan segi kognitif, misalnya percaya bumi adalah bualt atau Indonesia akan bertambah maju. Makna ini akan berubah jika dikaitkan dengan objek yang berpribadi, misalnya aku percaya pacarku. Percaya terakhir ini selain melibatkan kognisi (berdasarkan pengalaman pacar tersebut selalu berkata jujur atau kompeten) juga melibatkan relasi. Makna ini akan bertambah dalam jika objek kepercayaan adalah Allah yang berpribadi, karena relasi yang ada sifatnya tidak setara. Kepercayaan kepada Allah berarti memposisikan diri pada relasi sebagai umat yang sangat bergantung dan berfokus pada Allah.
3. Aku percaya kepada Allah Bapa.
Predikat “Bapa” di sini harus dimengerti dalam konteks Tritunggal. Tritunggal adalah setara, tetapi dalam relasi ke-Tritunggalan Pribadi ke-1 disebut “Bapa” dalam hubungan dengan Pribadi ke-2. Poin ini menjadi ciri khas Kekristenan dan sangat fundamental: semua Alkitab merupakan wahyu tentang Allah à Yesus adalah puncak wahyu Allah (Yoh. 1:18; Ibr. 1:1-3) à iman kepada Yesus hanya dimungkinkan melalui pekerjaan Roh Kudus (Yoh. 16:8; 1Kor. 2:10-16).
4. Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa.
“Mahakuasa” tidak berarti bisa melakukan apa saja. Allah tidak bisa melakukan sesuatu yang kontradiktif dan tidak masuk akal (karena pasti salah). Ia juga tidak bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan naturnya, misalnya berdusta (Bil 23:19; 1Sam 15:29). “Mahakuasa” berarti Ia bisa melakukan apa pun yang Ia ingin lakukan (Mzm 135:6). “Apa pun” di sini mencakup segala hal (spiritual, historis, sains, dll), tetapi dibatasi oleh frase “yang Ia inginkan” (yang diinginkan Allah pasti benar).
5. Aku percaya kepada Allah Bapa yang mahakuasa, khalik langit dan bumi.
Frase “khalik langit dan bumi” mengingatkan manusia pada tiga hal penting: (1) alam semesta diciptakan untuk kepentingan (kemuliaan) Allah; (2) alam semesta adalah milik Allah, sehingga manusia harus memelihara dan memakainya untuk kemuliaan Allah; (3) manusia juga merupakan salah satu milik Allah. Sebagai ciptaan manusia tunduk secara total kepada Allah sebagai Pencipta (Rm. 9:14-21).

Kamis, 09 Juli 2009

TRAIN TO LISTEN TO GOD'S WORD

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
Nats: Titus 2:11-15, 3:8, Kolose 3:16
Minggu lalu saya sudah memperlihatkan bagaimana surat Titus memiliki keindahan dan mutiara yang penting ditulis oleh Paulus kepada Titus, seorang hamba Tuhan muda yang diutus untuk menggembalakan satu gereja Tuhan yang ada di wilayah Kreta. Wilayah itu adalah satu wilayah yang sangat sulit luar biasa. Kalau saudara mempelajari latar belakang Kreta, saudara akan menemukan ini adalah satu wilayah yang dianggap hina dan berbudaya sangat rendah sekali bagi orang-orang Romawi. Itu sebab muncul slogan ini, “Orang Kreta adalah pembohong, pemalas dan berotak kosong.” Tidak ada aspek yang baik dari orang Kreta. Kepada orang Kristen yang tinggal di situ, Paulus menekankan: Engkau adalah orang Kristen, walaupun engkau adalah orang Kreta, jangan menjalani hidup yang akhirnya membuktikan slogan itu benar. Engkau harus menjadi orang Kristen yang mengalami transformasi dan perubahan. Pertama, jangan hidup dengan stereotype seperti ini. Jangan buktikan bahwa stereotype ini menjadi benar di dalam hidupmu. Maka, kata Paulus, stop dan berhenti mendengarkan suara-suara negatif seperti ini di dalam hidupmu. Orang bisa menuduh saudara tidak bisa berubah, sudah dari sananya begitu, tetapi jangan dengarkan apa kata mereka.
Yang kedua, Paulus kemudian membicarakan hal yang lebih penting dan lebih dalam. Ada kuasa perubahan yang sudah tinggal dan diam di dalam hidupmu. Kuasa itu tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mendatangkan kuasa transformasi, itulah yang merubah hidup kita dari orang yang tadinya tidak percaya menjadi orang percaya. Dulu kami juga seperti itu, kata Paulus, tetapi karena kasih karunia keselamatan Kristus yang sudah menebus kita, kita adalah manusia baru. Engkau memang orang Kreta, tetapi engkau adalah manusia baru di dalam Allah. Ada kuasa transformasi yang terjadi padamu.
Yang ketiga, kuasa transformasi itu bekerja melalui beberapa hal ini. Tit. 2:12-13 memperlihatkan Tuhan mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan itu. Tidak dikatakan, “mari kita meninggalkan…” tetapi Tuhan mendidik dan mendisiplin kita sehingga tindakan dan sikap kita melawan segala pencobaan, meninggalkan hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang bisa mengganggu dan mengganjal pertumbuhan rohani kita membutuhkan means of grace yang penting sekali yaitu disiplin di dalam pertumbuhan rohani. Pada waktu kita bicara mengenai training, mengenai pendidikan, maka itu tidak akan terjadi seketika saja.
Hai orang Kreta, engkau sudah menjadi orang Kristen, engkau bisa berubah. Kepada jemaat yang tinggal di sana, Paulus mendorong mereka untuk hidup di dalam self control, belajar menjadi orang Kristen yang berbuat baik, dsb. Tetapi saya ingin mengajak saudara melihat kepada satu sisi yang lain, di mana Paulus mengutus Titus. Banyak penafsir mengatakan Paulus adalah seorang yang luar biasa dalam hal ini. Dia mengutus Timotius ke Efesus tetapi dia mengutus Titus ke Kreta. Kalau ini di balik mungkin akan timbul banyak kesulitan, karena Timotius agak sedikit lebih timid, lebih pemalu, lebih sopan dan sedikit sungkanan. Tetapi Titus mungkin sedikit lebih bold, lebih tegas dan lebih berani. Maka Paulus mengutus Titus ke Kreta karena jemaat ini membutuhkan pemimpin yang tegas dan bisa membawa mereka kepada perubahan.
Namun dari sisi Titus yang diutus masuk ke satu wilayah yang berkondisi seperti itu betapa sulit dia rasakan. Saudara dan saya akan setuju, kita mau berubah, kita mau hidup kita mengalami transformasi, tetapi kadang-kadang terasa lambat dan kita tidak melihat hasilnya sehingga menyebabkan kita menjadi kendor dan kita menjadi kecewa terhadap diri kita sendiri. Nampaknya kondisi seperti itu dialami oleh Titus dan juga oleh Timotius. Dalam suratnya kepada Titus, Paulus berkali-kali menasehati dia, “Titus, beritakanlah… katakanlah terus, jangan putus asa, jangan takut, jangan kecewa, jangan melihat nampaknya seolah-olah apa yang kukatakan tidak memberikan efek perubahan kepada mereka.” Tit.1:9 Paulus bilang, pegang baik-baik perkataan dan ajaran yang benar dan nasehati mereka dengan ajaran itu. Kemudian diulang oleh Paulus di pasal 2:1, beritakan ajaran yang sehat dan benar. Dan 2:15, beritakan semua ini, nasehati dengan segala kewibawaan. Dan sekali lagi Paulus ulang di pasal 3:8 preach the Gospel. Buat mereka mengerti dengan sungguh.
Kenapa Paulus berulang-ulang mengatakan kalimat ini? Dari sisi Titus sendiri, mungkin Titus merasa tidak ada faedahnya mengajar, mendidik dan meminta jemaat Kreta untuk berubah karena perubahan itu belum kelihatan. Mungkin ada perasaan kecewa padanya. Maka di pasal 3:8 Paulus memberikan nasehat kepada Titus, mungkin engkau takut, kecewa dan putus asa, tetapi apa yang kukatakan ini adalah hal yang benar. Maka yakinkan dan kuatkan dirimu. Beritakan saja, maka engkau akan melihat perubahan itu akan terjadi pada diri mereka. Firman ini adalah kebenaran yang berguna bagi mereka. Kenapa Paulus sampai menekankan kalimat ini? Berarti dengan kata lain, Titus merasa berada di tengah-tengah orang Kristen di Kreta, influence dan pengaruh kehidupan orang Kreta terlalu besar sehingga orang-orang Kristen di situ tidak mengalami transformasi dan perubahan. Paulus bilang, firman ini adalah kebenaran dan profitable untuk mereka. Jangan pernah merasa sia-sia.
Bagi hamba Tuhan, kalimat Paulus ini sangat memberi berkat karena kadang-kadang kita bisa kecewa, kita bisa undur, kita merasa sudah berusaha dengan keras agar orang-orang yang kita layani, ataupun itu anak kita, ataupun mungkin diri kita sendiri kita ingin mengalami transformasi tetapi itu tidak terjadi, sehingga kita menjadi undur dan kecewa.
Ray Crock, pendiri dan pemilik perusahaan McDonalds mengatakan, “aku menemukan begitu banyak orang yang bertalenta tetapi orang yang bertalenta itu belum tentu sukses di dalam hidupnya. Aku menemukan begitu banyak orang yang berpendidikan tinggi tetapi pendidikan yang tinggi itu belum tentu membuatnya sukses. Apa yang membedakan orang yang sukses dan yang tidak sukses bukanlah talenta dan pendidikannya tetapi apakah dia memiliki persistence dan perseverance di dalam dirinya.” Ini adalah dua hal yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah, tetapi itu bisa terjadi di dalam pengalaman orang-orang sukses. Apa itu pengalaman? Pengalaman bukanlah sesuatu yang terjadi berulang-ulang di dalam hidup kita. Pengalaman menjadi satu pengalaman kalau sesudah sesuatu terjadi kita belajar darinya, itu baru namanya pengalaman. Persistent dan konsisten, itu dua hal yang perlu kita miliki untuk bisa berhasil memiliki perubahan di dalam hidup kita.
Paulus berulang kali mengingatkan Titus, pekerjaanmu sebagai hamba Tuhan di situ tidak lain dan tidak bukan adalah memberikan firman yang benar kepada mereka. Sampaikan dengan penuh wibawa, dengan kesungguhan, kuatkan dirimu sendiri karena kadang kala engkaupun bisa lemah. Tetapi jangan lupa, firman itu memiliki manfaat yang luar biasa. Melalui itu, memberikan perubahan kepadamu dan kepada mereka. Kepada Timotius, Pauluspun berkali-kali mengulangi nasehat seperti ini. Dalam 1 Timotius 1:5, 4:6, 4:11, 4:16, 6:2b; 2 Timotius 2:2, 2:15, 4:1-2 Paulus mengingatkan Timotius, kadang-kadang di dalam pelayananmu engkau bisa down, kecewa dan putus asa, melihat dirimu dan melihat orang yang kau layani tidak mengalami progres dan pertumbuhan, tetapi belajar persistent dan konsisten terus-menerus tekun mendengar, memberitakan dan mengajarkan firman Tuhan.
Hari ini saya akan menekankan bagaimana kuasa itu bekerja di dalam hidup kita. Hanya memiliki keinginan untuk berubah, tetapi tidak menggunakan seluruh instrumen yang mendatangkan perubahan, itu belum cukup membuat perubahan itu terjadi. Keinginan itu baik adanya, tetapi kita membutuhkan alat, tools, instrumen yang bisa membantu kita mewujudkan perubahan itu. Maka di dalam Reformed Theology kita mengenal istilah “Means of Grace.” Kita percaya keselamatan itu adalah anugerah Allah semata-mata dan tidak ada campur tangan pekerjaan kita, perbuatan baik kita, bukan itu yang membuat kita diselamatkan. Tetapi anugerah Allah disalurkan kepada manusia memerlukan “means of grace,” sarana-sarana yang membuat anugerah itu bisa tiba kepada kita. Maka di dalam Reformed Theology kita mengatakan keselamatan itu adalah anugerah Allah yang datang kepada kita melalui iman. Bukan iman itu yang menyelamatkan kita, tetapi iman itu adalah sarana anugerah Allah.
Seperti orang yang tenggelam yang menggapai minta pertolongan dan selamat ketika ada tangan terulur dari atas untuk menyelamatkan dia. Yang menyelamatkan dia keluar dari air adalah tangan yang terulur dari atas, bukan tangan yang menggapai dari bawah. Tetapi keselamatan bisa datang kepadanya membutuhkan tangan itu menggapai meraih tangan yang terulur tadi. Tetapi sampai di sini kita mesti hati-hati, karena banyak orang berpikir keselamatan itu berarti kerja sama antara tangan Tuhan yang terulur dan tangan saya yang menggapai. Itu adalah konsep yang keliru. Tangan saya tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk menyelamatkanku. Tangan itu hanya menggapai keluar untuk menerima. Maka itu yang disebut sebagai “means of grace.” Ada orang mengatakan kalau memang Allah mau menyelamatkan, Allah bisa menolong saya keluar dari air, kalaupun saya tidak mau menggapaikan tangan saya? Kita akan mengatakan orang itu bodoh bukan main, bukan? Kita tidak akan menganggap remeh pertolongan Tuhan itu, dan sebaliknya kita akan berterima kasih karena Dia sudah menyelamatkan kita.
Maka hari ini kita akan belajar “means of grace” yang pertama menjadi sarana Tuhan mendatangkan transformasi dan perubahan di dalam hidup kita itu membutuhkan disiplin untuk terus mendengarkan suara kebenaran firman Tuhan. Tuhan Yesus pun berkali-kali mengatakan, “Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar..” Lagu yang kita nyanyikan juga mengingatkan kita dengan indah sekali, “Open my ears that I may hear voices of truth Thy sendest clear. And while the wave notes fall on my ear, everything falls will disappear.” Banyak kali kita mendengar ajaran-ajaran dan kalimat-kalimat yang tidak benar, lalu bagaimana kita bisa membuat apa yang tidak benar itu menghilang dari telinga kita? Listen to the truth of God’s word.
Berapa banyak orang Kristen sudah menjadi orang Kristen sekian lama, tetapi pada waktu disuruh membaca dan membuka Alkitab, kita tidak mengetahui dan mengerti ayat-ayat itu? Berapa banyak orang Kristen sudah begitu lama menjadi orang Kristen tetapi terus-menerus menjadi malnutrition, menjadi bayi-bayi Kristen yang tidak mengalami pertumbuhan? Kita mungkin tidak bisa mencegah tubuh fisik kita terus berkembang dan mengalami pertumbuhan, tetapi mungkin tanpa sadar kita sudah mencegah pertumbuhan spiritual dan rohani kita. Salah satunya adalah dengan menyumbat saluran means of grace datang kepada kita. Bukan anugerah Allah itu tidak cukup dalam hidupmu, tetapi mungkin saluran yang dipakai menjadi saluran yang tersumbat dan tidak bisa mengalirkan anugerah itu dengan deras. Buatlah firman Allah itu menjadi kaya di dalam hidupmu. Kenapa? Jawabannya simple sekali, karena saudara dan saya tidak tinggal di dalam dunia yang netral. Seorang hamba Tuhan mengatakan, “Our world is not only our playground, our world is also our battleground.” Kita tinggal di dalam dunia, kita mendengarkan banyak sekali suara-suara yang lain yang bisa menyesatkan kita. Bagaimana suara-suara yang tidak benar itu bisa hilang dari diri kita? Bukankah dia akan terus datang mempengaruhi hidup kita?
Maka tools yang pertama adalah train to listen to the word of God.
Di dalam perumpamaan Tuhan Yesus kita melihat begitu jelas, firman itu bisa datang dan disambut dengan gembira oleh orang. Tetapi si Jahat bisa datang merebutnya. Suara kekuatiran dan tipu daya dari dunia ini bisa merebut dan mencekik benih itu sehingga tidak bisa berbuah di dalam hidup kita. Dengan kata lain kita hidup di dalam dunia yang terlalu banyak suara-suara yang bisa menakutkan kita. Semua analisa ekonomi yang saudara baca dan dengar, saya percaya tidak ada satupun yang memberikan hal yang positf, bukan? Semua melihat dengan gloomy dan membuat kita takut dan kuatir. Kita tidak bisa mencegah dan tidak bisa mengabaikan suara-suara itu datang kepada kita. Lalu bagaimana kita bisa menghapus dan membuat suara-suara itu tidak melengket di dalam pikiran kita? Memang kita tidak mungkin bisa melepaskan diri dari begitu banyak suara-suara yang salah dan negatif di sekitar kita, tetapi itu akan menghilang ketika kita dengan tenang mendengarkan suara firman Tuhan. Saya ingin bertanya kepada saudara, berapa besar kerinduan saudara tahun ini menjadi tahun di mana saudara sungguh-sungguh mau mendengar dan membaca firman Tuhan? Khotbah bukanlah akhir dari firman Tuhan berbicara kepadamu. Khotbah justru menjadi awal di mana kita merenungkan dan memikirkan firman Tuhan itu sepanjang minggu. Bukan itu saja, setiap pagi atau pada malam hari, ketika kita mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan, itu akan membersihkan semua suara-suara negatif yang ada di pikiranmu. Terus simpan kalimat-kalimat yang negatif, pikiran-pikiran yang tidak benar, hal-hal yang tidak baik, terus masuk di dalam pikiran kita, semua itu akan mencekik hatimu. Bagaimana itu semua bisa hilang kalau suara firman Tuhan yang benar tidak pernah kita dengar lebih banyak dan lebih sering?
Kepada Timotius dan Titus yang menghadapi jemaat yang berada di dalam kondisi seperti itu, kalian sendiri mungkin mengalami perasaan kecewa dan putus asa, kata Paulus. Tetapi terus beritakan, sampaikan firman yang benar, biar itu menjadi aliran air yang menyucikan hal-hal yang tidak benar di dalam hidup kita.
Saudara ingin bertumbuh, saudara perlu disiplin merenungkan firman Tuhan. Saudara perlu disiplin membaca firman Tuhan. Saudara perlu disiplin mendengarkan khotbah yang benar. Khotbah tidak boleh berhenti sampai di sini. Masukkan ke dalam hatimu, kita pulang dan merenungkan apa yang ingin Tuhan sampaikan yang akan mendatangkan satu perubahan bagimu. Kalau saudara terus menyimpan pikiran dan hal-hal yang negatif, percayalah kepada saya, pada malam hari saudara baca firman Tuhan, maka suara kebenaran firman Tuhan akan membersihkan pikiran negatif itu. Tetapi kalau saudara terus membiarkan pikiran itu mengganggu dan mengganjal hari demi hari, mungkin kita tidak mendengar perkataan firman yang benar lagi. Hari ini saya minta saudara dengan sangat dan sungguh, sama seperti Paulus meminta dengan sangat dan sungguh kepada Timotius, dalam keadaan baik ataupun tidak baik, suka ataupun tidak suka, siap ataupun tidak siap, ingin ataupun tidak ingin berkhotbah, engkau harus terus memberitakan kebenaran firman Tuhan. Sama dengan kita, kita mungkin tidak suka, kita enggan, hati lagi tidak enak, kita harus terus silently to listen to the word of God. Ada bapak bertengkar dengan isterinya dalam perjalanan ke gereja, akhirnya memilih tidak masuk kebaktian karena hati masih kesal. Ada isteri tidak mau ikut perjamuan kudus karena masih marah sama suaminya. Itu semua salah. Karena saudara dan saya tidak bisa mencegah ada hal-hal yang tidak baik terjadi. Saudara dan saya tidak bisa mencegah ada kemarahan yang timbul dalam hati kita. Saudara dan saya tidak bisa mencegah ada kekuatiran datang menghantui hatimu. Tetapi semua itu hanya bisa dihapus dan dihilangkan pada waktu saudara mendengar suara Tuhan dengan tulus dan penuh cinta mengangkat dan meneguhkan dan menumbuhkan hidup saudara. Firman itu akan memenuhi seluruh hati kita sehingga pelan-pelan hal-hal yang tidak baik, yang negatif dan salah itu pelan-pelan terhapus. Bagaimana meninggalkan hal-hal yang duniawi? Bagaimana meninggalkan kefasikan? Belajar dididik oleh Tuhan. Salah satu disiplin rohani yang saya inginkan bagi saudara tahun ini menjadi sungguh-sungguh di hadapan Tuhan dengar firman Tuhan.
Saudara menjadi guru sekolah minggu, saya harap jangan abaikan kebaktian. Berbakti baik-baik kalau tidak mengajar. Menjadi orang tua, mungkin bergiliran menjaga anak. Tetapi jangan mengabaikan untuk berbakti silently mendengar firman Tuhan. Dan bukan saja di sini, selesai kebaktian, saudara pulang, saya minta dengan sangat untuk saudara punya waktu di hadapan Tuhan belajar merenungkan firman Tuhan.
Yang kedua, kata Paulus, bukan saja dunia ini tidak netral dan saudara secara konstan mendengarkan suara-suara yang lain, suara-suara itu hanya bisa dihapus dengan derasnya firman Tuhan yang dahsyat membersihkan semua, tetapi juga karena firman Tuhan ini adalah firman yang mendatangkan kegunaan dan pembaruan kepada orang-orang yang mendengarkannya. Di satu pihak, itu berarti kepada setiap orang yang berkhotbah jangan pernah jadikan khotbah itu sekadar tugas saja, tetapi jadikan itu sebagai satu momen di mana Tuhan berbicara dan berkata-kata kepada orang-orang yang hadir pada hari ini. Sebab firman ini adalah firman yang merubah dan mentransformasi orang yang percaya. Pada waktu kita datang di hadapan Tuhan, mari kita datang dengan hati yang tulus dan mau menjadikan firman yang kita dengar menjadi firman yang mendatangkan kegunaan, perubahan dan pembaruan di dalam hidup kita.
Tools yang kedua, train to walk in the Spirit.
“Hiduplah oleh Roh maka pastilah kamu tidak hidup mengikuti keinginan daging” (Gal. 5:16). Ini adalah dualisme yang tidak mungkin terjadi bersamaan. Walk in the Spirit. Transformasi terjadi, pendidikan itu terjadi karena bukan saja kita belajar mendengar firman Tuhan dengan benar, tetapi kita hidup di dalam pembaharuan oleh Roh Kudus. Train to walk in the Spirit. Kita dididik supaya kita bisa meninggalkan kefasikan dan segala kejahatan dan nafsu dunia, walk in the Spirit maka kita tidak akan berjalan mengikuti nafsu kedagingan. Ini akan saya bahas lebih mendetail minggu depan.(kz)