Kamis, 01 Juli 2010

KEDAULATAN ALLAH DAN GENERASI ZAMAN

(Perspektif dan Panggilan Iman Kristen Menyoroti Generasi Tua dan Generasi Muda)

oleh: Denny Teguh Sutandio

“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mzm. 119:9)

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1Tes. 5:21)

I. PENDAHULUAN

Di dunia yang kita hidupi sekarang ini, kita mendapati dua generasi yang sedang eksis, yaitu generasi tua dan muda. Masing-masing memiliki ciri khas sendiri dan biasanya mereka saling berbenturan, entah karena alasan primer maupun sekunder. Hal ini juga terjadi pada orang-orang Kristen. Biasanya ada generasi tua terlalu memaksakan beberapa pandangan kaku kepada generasi muda yang mengakibatkan generasi muda tertekan, namun di sisi lain, banyak generasi muda yang menghina generasi tua dan hidup semaunya sendiri. Semua generasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari apa yang membentuk sikap mereka yaitu presuposisi mereka. Mari kita menyelidiki apa presuposisinya, lalu presuposisi ini membentuk ciri khas mereka, dan bagaimana kedaulatan Allah menjembatani gap antara kedua generasi ini.


II. GENERASI ZAMAN DAN PRESUPOSISINYA

Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa setiap zaman memiliki roh/spirit zaman (Inggris: spirit of the age; Jerman: zeitgeist). Bagi saya, spirit zaman inilah yang menjadi presuposisi dasar setiap kepercayaan, pemikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang hidup di zaman tersebut. Meskipun demikian, tidak berarti orang yang hidup di zaman tertentu pasti mengadopsi spirit zaman tersebut. Ada kasus di mana orang yang hidup di zaman tertentu mengadopsi spirit zaman sesudahnya atau sebelumnya. Namun, kali ini kita akan melihat dengan jelas akibat dari aplikasi spirit zaman ini. Jika seseorang hidup di zaman pramodern, orang itu akan mementingkan iman dan kepercayaan (baik yang benar maupun yang salah). Orang di zaman pramodern menganggap banjir dan bencana alam lainnya adalah kutukan dari Tuhan. Jika seseorang hidup di zaman modern, banyak orang sudah tidak lagi mementingkan iman, namun memberhalakan pengetahuan rasio. Hal ini dimulai di abad Renaissance dan memuncak pada abad Pencerahan, di mana iman kepercayaan diragukan dan rasio yang dijunjung tinggi. Rasionalisme dan isme-isme lainnya berkembang bukan mulai di zaman pramodern, namun di zaman modern. Kemudian, jika seseorang hidup di zaman postmodern dan New Age, banyak orang mulai meninggalkan penekanan rasio dan beralih kepada perasaan (dan aspek-aspek lain dalam diri manusia) dan pengalaman kepercayaan di luar Tuhan. Tidak heran, kepercayaan-kepercayaan yang dahulu dianggap takhayul, sekarang diminati oleh banyak orang. Bahkan di zaman postmodern, beragam kepercayaan yang aneh-aneh muncul dan bahkan berkembang dengan pesat. Kepercayaan yang lagi ngetren di zaman ini adalah New Age Movement (Gerakan Zaman Baru) yang HAMPIR tidak bisa dibedakan dengan Buddhisme dan Hinduisme, karena Gerakan Zaman Baru diimpor dari kedua agama ini ditambah filsafat dunia Barat.

Pertanyaan lebih lanjut, mengapa setiap zaman memiliki spirit zaman? Jawaban dasarnya adalah karena dosa manusia. Dosa mengakibatkan manusia kehilangan arah dan tujuan hidup, sehingga manusia di setiap zaman selalu berubah-ubah dalam menentukan pandangan hidupnya.. Adalah suatu kekonyolan jika ada orang “Kristen” yang hidup di suatu zaman lalu mengikuti arus zamannya. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengutip perkataan seorang hamba Tuhan yang mengatakan bahwa ikan yang selalu ikut arus adalah ikan yang mati. Demikian juga orang “Kristen” yang selalu ikut arus zaman adalah orang “Kristen” yang “mati.” Mengapa demikian? Karena orang “Kristen” demikian TIDAK memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas. Kita akan mencoba melihat aplikasi praktis dari konsep kesimpangsiuran arah dan tujuan hidup manusia yang merupakan akibat dosa di dalam dua generasi yang ada: tua dan muda. Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan mengenai generasi-generasi ini, kita harus mengerti presuposisi dosa terlebih dahulu bahwa baik generasi tua dan muda sama-sama berdosa (meskipun secara respons terhadap wahyu umum Allah masih terdapat sedikit hal yang benar), sehingga kita nantinya bisa menyorotinya dari perspektif Alkitab.


III. CIRI KHAS GENERASI TUA dan TINJAUAN ALKITABIAH

Tadi kita sudah membahas bahwa dosa mengakibatkan manusia kehilangan arah dan tujuan hidup, sehingga di setiap zaman, manusia selalu mengubah pandangan hidupnya. Nah, kali ini kita akan mencoba menelusuri pandangan hidup dari generasi tua, karena generasi ini yang lebih dahulu ada, lalu kita akan menyoroti dari perspektif Alkitab. Ciri khas generasi tua ini saya bedakan menjadi dua: positif dan negatif. Meneladani Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. di dalam menyoroti sesuatu hal/gejala, maka saya akan memulai dari ciri khas positifnya terlebih dahulu, baru nanti disusul dengan ciri khas negatif.

A. Ciri Khas Positif

1. Lebih Bijaksana

Harus diakui bahwa dalam banyak hal, banyak generasi tua yang lebih berumur itu bijaksana daripada generasi muda. Jika dibandingkan dengan banyak generasi muda (bahkan yang “Kristen”) yang semaunya sendiri dalam memutuskan banyak hal, maka banyak generasi tua lebih bijaksana dalam memikirkan dan memutuskan sesuatu. Mengapa? Karena biasanya mereka lebih matang dalam memikirkan dan memutuskan sesuatu hal. Mengapa mereka matang? Karena mereka sudah berpengalaman. Istilahnya, “sudah banyak makan asam garam.” Biasanya mereka tidak akan terkaget-kaget dengan gejala yang terjadi di sekitarnya pada zaman di mana dia hidup (zaman postmodern), karena gejala-gejala tersebut adalah gejala yang sudah pernah terjadi di zamannya. Biasanya juga mereka lebih peka melihat sesuatu ketimbang generasi muda. Oleh karena itu, tidaklah salah jika kita sebagai para generasi muda meminta nasihat bijak dari para generasi tua, meskipun sebagai orang Kristen yang beres, kita tetap harus menguji nasihat-nasihat tersebut di bawah terang Alkitab. Namun apakah berarti makin tua seseorang makin bijaksana? TIDAK juga. Karena fakta membuktikan bahwa ada juga generasi tua yang makin tua bukan makin matang dan bijaksana dalam memutuskan segala sesuatu, namun menjadi paranoid dan masih berorientasi pada hal-hal fenomenal.

2. Lebih Memikirkan Jangka Panjang

Lebih bijaksananya banyak generasi tua ditandai dengan pikiran dan sikap mereka yang lebih memikirkan jangka panjang. Mereka bisa memikirkan jangka panjang karena banyak dari mereka tidak terfokus pada pemenuhan kebutuhan lahiriah yang bersifat sesaat. Misalnya, dalam mempergunakan uang, banyak generasi tua yang beres yang mendidik anak-anaknya untuk hemat dalam mempergunakan uang (meskipun dalam beberapa hal, hemat HAMPIR tidak bisa dibedakan dengan pelit, hehehe). Lebih bijaksana lagi jika para generasi tua Kristen yang beres mendidik para generasi muda untuk mempergunakan uang secara bertanggung jawab demi kemuliaan Tuhan (bukan hanya sekadar hemat saja).

Di satu sisi, memikirkan jangka panjang tidaklah salah, namun harus diingat, di sisi lain, terlalu berfokus memikirkan jangka panjang itu juga memiliki kelemahan dan tentunya bagi orang Kristen berbahaya dan tidak beres. Apa kelemahannya? Kelemahannya adalah inkonsisten diri. Banyak generasi tua (non-Kristen) yang selalu mengajar generasi muda untuk hemat dalam mempergunakan uang, namun di sisi lain, ketika ada generasi muda Kristen yang memberitakan Injil kepada generasi tua yang non-Kristen, apa reaksi generasi tua ini? Kebanyakan menolak, mengapa? Selain alasan primernya adalah karena anugerah Allah belum tiba pada orang itu, alasan lainnya adalah karena mereka setia pada tradisi leluhur yang tidak menyelamatkan. Dengan kata lain, filosofi jangka panjang menurut generasi tua ini adalah tetap bersifat sementara, karena tidak memikirkan “jangka panjang” yang sejati yaitu kekekalan. Bagaimana dengan beberapa (atau mungkin banyak) generasi tua “Kristen”? Sama saja. Mereka selalu memikirkan jangka panjang yang tetap bersifat sementara, bukan ditinjau dari perspektif kekekalan.

Apa bahayanya? Pertama, hidupnya berpusat pada diri dan menjadi sombong. Karena terlalu menekankan sikap memikirkan jangka panjang bisa mengakibatkan hidup generasi muda berpusat kepada diri sendiri dan bukan kepada Allah. Jika para generasi tua terlalu menekankan sikap hemat kepada generasi muda, akibatnya tidak heran, semakin banyak generasi muda yang sukses bukan bersyukur atas anugerah-Nya, tetapi menjadi sombong, karena mereka berpikir bahwa kesuksesannya diraih karena kerja kerasnya yang hemat mempergunakan uang, dll (jika contoh kasusnya: para generasi tua yang mengajari generasi muda untuk hidup hemat). Bahaya kedua adalah kuatir. Orang yang terlalu menekankan sikap memikirkan jangka panjang mengakibatkan orang itu makin kuatir. Mengapa? Karena orang yang terlalu menekankan sikap memikirkan jangka panjang mengakibatkan hidupnya untuk diri sendiri dan tidak usah heran, nantinya orang ini menjadi kuatir. Kekuatiran ini muncul karena orang muda ini terlalu berfokus pada uang. Bahaya ketiga adalah penuh perhitungan. Banyak generasi tua yang mengindoktrinasi generasi muda untuk hemat dalam menggunakan uang. Artinya, di dalam mengeluarkan uang untuk membeli atau memberi sesuatu, kita harus mempertimbangkan apakah sesuatu itu penting atau tidak. Sepintas hal ini ada benarnya, karena jika kita terlalu boros membeli dan memberi sesuatu yang tidak ada nilainya, itu juga sia-sia, namun di sisi lain, kita melihat konsep ini berakibat pada sikap penuh perhitungan. Jangan heran, kalau ada orang Kristen yang disuruh memberi persembahan dan persepuluhan pun penuh perhitungan. Saya akan memberikan contohnya. Di dalam Seminar Keluarga: How to Handle Money? pada tanggal 27 Februari 2010 di Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya, Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D. memberikan contoh bahwa ada salah satu jemaat gereja yang memiliki dua uang dengan jumlah yang berbeda (kecil dan besar; misalnya: US$1 dan US$100), lalu jemaat ini berencana memberikan US$1 untuk persembahan, namun ternyata dia salah memasukkan uangnya, sehingga yang dimasukkan ke kantong persembahan adalah US$100. Setelah kebaktian selesai, ia memberanikan diri mendatangi pendetanya untuk meminta balik uang kembalian dari uang persembahan yang telah dimasukkannya ke kantong persembahan, karena ia telah salah memasukkan uangnya tersebut.

3. Lebih Beretika

Hal terakhir yang bisa kita pelajari dari banyak generasi tua, yaitu lebih beretika. Dibandingkan dengan banyak generasi muda hari-hari ini, kita harus mengakui bahwa banyak generasi tua yang lebih beretika. Artinya, mereka lebih memiliki etika sopan santun, dll di dalam bersikap dan bertingkah laku. Tentu, hal ini tidaklah salah dari perspektif Alkitab, karena Alkitab juga mengajar pentingnya etika sebagai warga negara Kerajaan Sorga. Para generasi muda harus banyak belajar tentang etika selain dari Alkitab, juga dari banyak generasi tua.

Namun, di sisi lain, etika tetap harus ada batasannya, yaitu Alkitab. Menjadi manusia yang beretika itu baik dan benar, tetapi jangan menjadi ekstrem. Ada generasi tua yang terlalu menekankan etika sampai-sampai akhirnya dia menjadi seorang legalis yang kaku. Karena terlalu menekankan etika berlebihan (dan tentunya sikap sungkan), maka tidak heran, mengutip perkataan Pdt. Erastus Sabdono, D.Th., banyak orang dari tradisi Timur enggan mengkritik dan menegur orang. Mengkritik dan menegur orang dianggap tidak beretika, padahal Alkitab sendiri mengajar kita untuk menegur orang yang salah baik ajaran maupun sikapnya (bdk. 2Tim. 4:2).

B. Ciri Khas Negatif

Di samping ketiga ciri khas positif dari generasi tua, saatnya kita menyoroti ciri khas negatifnya.

1. Generasi Tua = “Tuhan”

Ciri khas negatif dari banyak generasi tua adalah dilandasi oleh presuposisi dasar yang ditekankan baik secara eksplisit maupun implisit yaitu: generasi tua = “Tuhan”. Karena terlalu yakin bahwa dirinya sebagai generasi tua sudah banyak makan asam garam (sampai darah tinggi, kolesterol, dll, hahaha), maka banyak generasi tua menjadi orang yang sombong dan ada yang sampai berani secara eksplisit maupun implisit menganggap dirinya identik dengan “Tuhan” yang harus ditaati mutlak (tanpa argumentasi). Begitu generasi muda mengeluarkan pendapat dan keputusan yang berbeda (dalam hal sekunder), maka biasanya generasi tua langsung mencap generasi muda ini sebagai orang yang membangkang.. Atau meskipun mereka tidak mengklaim diri sebagai “Tuhan”, mereka mengindoktrinasi anaknya untuk percaya bahwa kehendak Tuhan bagi seorang anak hanya melalui orangtuanya saja. Konsep-konsep ini jika dimutlakkan secara berlebihan, bisa berbahaya, bahkan saya bisa mengatakan bahwa hal itu adalah DOSA. Mengapa? Karena dosa bukan dilihat secara fenomenal, namun secara esensial, yaitu melawan Allah atau menurut Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D., dosa adalah mengganti standar Allah dengan standar manusia berdosa.

2. Kaku, Kolot, Keras Kepala, dan Sok Tahu

Karena dilandasi oleh presuposisi bahwa generasi tua = “Tuhan”, maka muncullah akibatnya, yaitu: Pertama, kaku dan kolot. Karena menganggap bahwa generasi tua = “Tuhan”, maka beberapa (atau mungkin banyak) generasi tua mengindoktrinasi dan menerapkan konsepnya secara kaku dan kolot (tanpa mau mendiskusikan kepada anaknya tentang konsep-konsep yang telah diindoktrinasikannya itu). Misalnya, tradisi makan bersama. Tentu tidak salah jika satu keluarga memiliki tradisi makan bersama di satu meja makan, namun hal ini jangan menjadi tradisi yang diekstremkan dan dimutlakkan, lalu mengajar bahwa anaknya tidak boleh makan terlebih dahulu sebelum orangtuanya bersiap untuk makan. Ambil contoh, jika orangtuanya ada urusan mendadak yang mengakibatkan mereka pulang kerja sampai larut malam (di atas Pkl. 21.00), apakah si anak tidak boleh makan terlebih dahulu sebelum orangtuanya pulang rumah? Jika hal ini menjadi kebiasaan mutlak, maka si anak lama-kelamaan akan menderita sakit maag.

Kedua, keras kepala. Karena ber“iman” bahwa generasi tua = “Tuhan”, maka beberapa (atau mungkin banyak) generasi tua menjadi keras kepala. Mengapa saya mengatakan bahwa mereka keras kepala? Karena mereka kebanyakan bersikukuh HANYA pada pandangan mereka sendiri (dengan dasar argumentasi bahwa pandangan orang yang sudah banyak makan asam garamlah yang paling “benar”) dan tidak mau berdiskusi secara objektif dengan para generasi muda atau anaknya. Kalaupun secara perkataan, ada generasi tua yang mengatakan bahwa dirinya mau berdiskusi dengan generasi muda/anaknya, biasanya mereka berdiskusi dengan menggunakan pendekatan “pokoke” (pokoknya; Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan bahwa jika orang sudah mengatakan “pokoke”, itu berarti modal dasarnya sudah dikeluarkan dan semua pembicaraan/diskusi berhenti) alias pendekatan subjektif di dalam berdiskusi. Ambil contoh, ada masalah X. Orangtua/generasi tua menafsirkan masalah/hal X sebagai A, namun anak/generasi muda menafsirkannya sebagai B, lalu karena merasa paling berotoritas, maka orangtua/generasi tua memaksakan tafsiran A terhadap masalah X, padahal jika mau diteliti secara objektif, X bisa ditafsirkan sebagai A maupun B (hal ini TIDAK berarti saya mendukung penafsiran yang TIDAK setia pada sumber). Saya belajar hal ini dari seorang rekan gereja saya di GRII Andhika, Surabaya (Sdri. Ruth Winarto) yang mengajar saya bahwa satu masalah/hal JANGAN ditafsirkan/dimengerti dari satu sudut, namun dari berbagai sudut. Hai orang Kristen bertobatlah dan belajarlah dewasa, belajarlah untuk TIDAK berpikir sempit menyoroti satu masalah. Terlalu sering saya mengamati beberapa (atau mungkin banyak) generasi tua/orangtua “Kristen” yang terlalu pede mengatakan bahwa dirinya paling “bijaksana” ternyata tidak sungguh-sungguh bijaksana, karena terlalu berpikir sempit di dalam menyoroti suatu hal.

Ketiga, sok tahu. Karena terlalu yakin bahwa generasi tua = “Tuhan”, maka selain keras kepala, banyak generasi tua menjadi orang yang sok tahu. Artinya, mereka menjadi orang yang merasa diri paling mengetahui segala sesuatu apalagi anak-anak mereka. Bukan menjadi rahasia umum, orangtua paling mudah mengeluarkan pernyataan, “Orangtua paling mengerti anak.” Benarkah orangtua paling mengerti anaknya? Jika demikian, mengapa ada kasus di mana anak bisa kabur dari rumah, karena tidak tahan ditekan/disiksa orangtuanya? Biasanya para generasi tua berargumentasi bahwa itu orangtua yang ngawur. Apakah orangtua yang tidak ngawur 100% bisa mengerti anaknya? Hal ini bisa dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, pernyataan ini ada benarnya, mengapa? Karena orangtua yang melahirkan anaknya, maka jika dibandingkan dengan teman atau saudara dari anaknya, tentu orangtua yang lebih mengerti anaknya. Namun, di sisi lain, konsep ini juga salah. Karena yang paling mengerti anak tentu Tuhan, Pencipta anak. Kedua, teman bisa lebih mengerti anak, karena mungkin sekali anak kurang terbuka pada orangtuanya, namun terbuka pada teman-temannya. Mengapa anak bisa lebih terbuka pada teman-temannya dan bukan pada orangtuanya? Jika kasusnya demikian, kesalahan 100% tidak selalu terletak pada si anak, namun orangtua tetap harus mengintrospeksi diri. Apa yang dilakukan orangtua sehingga anaknya sendiri kurang terbuka kepada mereka, namun lebih terbuka pada teman-temannya? Mengapa anaknya bisa dengan mudah curhat kepada temannya, namun tidak kepada orangtuanya? Mungkin sekali orangtuanya terlalu otoriter, cerewet, lebay, paranoid, dan terlalu mengurusi anaknya untuk hal-hal sekunder. Terkadang anak merindukan orangtua yang bisa diajak diskusi objektif, namun apa daya, orangtua (yang lebih parah mengaku diri “Kristen” bahkan “Reformed” lagi) yang otoriter, lebay, dan paranoid menginginkan anaknya untuk taat mutlak tanpa argumentasi. Sehingga jangan salahkan anaknya jika ia lebih senang curhat dengan teman sebayanya ketimbang dengan orangtuanya yang selalu mengomel untuk BANYAK alasan yang tidak jelas. Jika alasannya karena ini, para generasi tua/orangtua harus bertobat. Namun kalau alasannya adalah karena anak itu memang lebih cocok dengan temannya karena sama-sama bejatnya, maka yang perlu bertobat adalah anaknya!

Kesok tahuan generasi tua ditandai dengan kesewenangan mereka menafsirkan maksud generasi muda dengan perspektif generasi tua. Meskipun dalam beberapa hal, tafsiran para generasi tua ada benarnya, namun TIDAK berarti 100% tafsiran mereka pasti benar dan cocok. Teman saya dari Gereja Kebangunan Kalam Allah (GKKA) Tenggilis, Surabaya mengatakan bahwa orangtuanya pernah memberi tahu dia untuk berhati-hati dengan lawan jenis yang sedang mendekatinya itu, namun rekan saya ini tidak percaya. Alhasil, fakta membuktikan bahwa lawan jenis ini akhirnya meninggalkan teman saya ini demi mengejar cewek pujaan hatinya.. Dari situ, kita bisa menyimpulkan bahwa TERKADANG nasihat orangtua/generasi tua ada benarnya, namun perlu diingat: kasus khusus TIDAK boleh dijadikan hal umum, lalu menyimpulkan bahwa nasihat orangtua HARUS ditaati secara mutlak, karena itu adalah kehendak Tuhan. Ingat, titah ketiga dari Dasa Titah adalah jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan! Jangan berani menyebut sesuatu itu dari Tuhan, jika itu memang bukan dari Tuhan!

3. Cerewet untuk Hal-hal yang Sekunder

Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. pernah mengutip perkataan seorang jemaatnya bahwa kalau orang masih muda terlalu menekankan hal-hal detail, namun kalau sudah tua biasa menekankan hal-hal praktis. Di satu sisi, konsep ini ada benarnya, namun di sisi lain, fakta berkata lain. Tidak jarang, semakin tua seseorang, semakin cerewet orang itu, bahkan untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Berbicara tentang “filsafat” cerewet, saya membagikan cerewet menjadi dua hal: cerewet untuk hal-hal penting/primer dan untuk hal-hal yang kurang bahkan tidak penting (sekunder atau mungkin tersier). Kalau untuk hal-hal yang penting/primer, misalnya, masalah iman dan tingkah laku yang tidak beres dari segi etika Alkitabiah, maka generasi tua diperbolehkan cerewet, namun cerewet ini harus disertai teguran dan nasihat yang membangun bukan menjatuhkan dan menuduh secara membabibuta dengan mengekstremkan apa yang tidak dilakukan oleh generasi muda. Cerewet ini saya sebut sebagai cerewet yang bernilai/berguna/bermutu (valuable/useful talkative). Sedangkan cerewet model kedua adalah untuk hal-hal sekunder bahkan tersier, misalnya masalah kriteria sekunder di dalam memilih pasangan hidup, penilaian terhadap seseorang dari sisi sekunder (wajah, dll), pemilihan baju, dll. Cerewet model kedua ini saya sebut sebagai cerewet yang sia-sia bahkan sampah (useless/hoax talkative). Yang membuat saya heran, justru kebanyakan generasi tua cerewet untuk hal-hal sekunder dan jarang untuk hal-hal primer (kecuali generasi tua itu benar-benar anak Tuhan sejati yang hidupnya untuk Tuhan saja).

Mengapa banyak generasi tua cerewet untuk hal-hal yang sekunder? Karena: Pertama, tidak memiliki presuposisi iman yang beres. Generasi tua Kristen yang iman dan aplikasi imannya sudah tidak beres biasanya dengan mudah (tanpa berpikir kritis dan objektif) menelan mentah-mentah konsep dunia yang diimpor oleh sesama generasi tua “Kristen.” Mereka bisa mengimpor konsep dunia dari sesama generasi tua “Kristen” ini karena mereka terlalu banyak bergaul bukan dengan firman Tuhan, namun dengan kumpulan generasi tua yang terlalu menekankan hal-hal fenomenal. Ini bukan sekadar teori saja, saya sudah memiliki realitas akan hal ini. Ada orangtua “Kristen” yang memutuskan siapa pasangan hidup bagi anaknya (memang perlu diketahui, mungkin sekali, si anak ini belum dewasa secara iman dan penilaian). Orangtua yang menentukan secara mutlak siapa pasangan hidup bagi anaknya merupakan dampak/akibat praktis dari konsep jodoh di tangan manusia! Nah, yang lebih celaka, konsep ini diimpor oleh orangtua “Kristen” lainnya di mana anaknya cukup dewasa dalam iman dan penilaian. Entah mengapa ya generasi tua yang selalu mengklaim diri paling “bijaksana” dan berpikir panjang, tetapi herannya di sisi lain juga tetap tidak bisa bijaksana berdasarkan firman Tuhan dan berpikir panjang dari sudut pandang kekekalan? Apakah mereka sudah terlalu diikat oleh belenggu tradisi, sehingga mata iman mereka telah dibutakan oleh ilah tradisi? Biarlah para generasi tua Kristen khususnya Reformed benar-benar bertobat dan tidak ikut arus! Jangan berani mengklaim diri Kristen bahkan Reformed jika masih tradition-centered atau parent-centered! Kedua, faktor pribadi. Orang yang dari kecil sudah dimanja (otoriter/bos kecil), di mana kalau keinginannya dalam hal sekunder TIDAK dituruti, ia akan marah, tidak usah heran, sikap kekanak-kanakan ini akan terbawa sampai tua. Orang ini akan cerewetnya bukan main, marah, ngomel, dan ngambek jika keinginannya dalam hal sekunder TIDAK dipatuhi secara mutlak tanpa argumentasi sama sekali! Ingatlah, kedewasaan TIDAK hanya diukur dari faktor usia! Atau tidak menutup kemungkinan latar belakang pekerjaan dahulu membuat dia akhirnya menjadi seorang yang luar biasa cerewet untuk hal-hal sekunder. Ada orang yang dahulu berprofesi sebagai manager atau direktur sebuah perusahaan, kemudian menjadi pendeta dan bahkan gembala sidang, namun latar belakang manager/direkturnya itu masih melekat. Akibatnya, meskipun dia adalah pendeta dan bahkan gembala sidang, jiwa penggembalaannya tidak ada, malahan yang ada jiwa BOS yang membungkam semua pendapat jemaatnya (dengan asumsi: jemaat disamakan dengan pegawai/karyawannya). Ketiga, faktor usia. Ada suatu dalil sekuler bahwa semakin tua seseorang, ia akan kembali seperti anak-anak. Artinya, orang tersebut akan semakin cerewet kalau keinginannya tidak dipenuhi seperti bayi yang menangis kalau lapar atau haus. Orang tersebut minta diperhatikan seperti bayi yang minta dibuatkan susu atau digendong. Jika kasusnya demikian, maka semakin tua seseorang, seharusnya orang itu TIDAK boleh sombong karena merasa diri paling “bijaksana” dan banyak makan asam garam. Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada seseorang dengan tujuan agar kebijaksanaan itu dipakai untuk menjadi berkat bagi orang lain, bukan untuk memamerkan diri bahwa dirinya lebih “bijaksana” dari orang lain lalu dengan mudahnya mengkritik orang lain, tetapi tidak mau mengkritik diri sendiri!


IV. CIRI KHAS GENERASI MUDA dan TINJAUAN ALKITABIAH

Setelah menyelidiki ciri khas generasi tua, maka kita sekarang menyelidiki ciri khas generasi muda. Saya sebagai seorang generasi muda akan mencoba menyoroti dunia saya sendiri. Seperti di atas, saya juga akan menyoroti ciri khas generasi muda dari sisi positif dan negatif.

A. Ciri Khas Positif

1. Gaul

Ciri khas positif pertama dari generasi muda adalah gaul. Komunitas anak muda dapat disebut komunitas gaul. Memang benar apa yang dikatakan Ev. Ivan Kristiono, M.Div.. bahwa komunitas gaul adalah komunitas yang tidak mau bergaul dengan dunia lain di luar komunitas tersebut, namun justru merupakan komunitas yang menciptakan sebuah “peraturan” dan ciri khas/keunikan sendiri yang menandakan masyarakat/komunitas gaul. Dari komunitas gaul, muncullah bahasa gaul. Bahasa gaul, misalnya: sekolah à skul, kuliah à kul, teman dekat à gebetan (belum jadian), berlebihan à lebay, saudara à bro (istilah yang dipakai oleh seorang anak muda cowok memanggil temannya sesama cowok), istilah bete, dll. Ada juga bahasa gaul di dalam sms, misalnya: aku à aq atau q, kamu à km, kok à koq, dll. Bagaimana dengan generasi muda Kristen? Apakah mereka tidak boleh gaul? Adalah suatu kekonyolan, kekakuan, dan kekolotan, jika generasi muda Kristen dilarang menjadi komunitas gaul dengan dasar argumentasi Roma 12:2. Mengutip Ev. Ivan Kristiono, orang Kristen harus gaul. Artinya, tentu, generasi muda Kristen adalah generasi muda yang gaul, namun tetap harus ada batasan-batasan yang jelas yaitu Alkitab. Orang Kristen yang gaul berarti kita mengikuti perkembangan zaman, namun TIDAK mengikuti arus zaman. Jika demikian, bolehkah generasi muda Kristen hang out bersama dengan teman-teman di mal, nonton bioskop, dll? Tentu saja boleh, karena itu hal-hal fun, namun perlu diingat, jangan sampai kita hang out di mal pada Sabtu malam, lalu kita pulang terlalu malam, sampai-sampai tidak bisa pergi ke gereja besok Minggunya.

Nah, yang celaka, ada beberapa generasi muda Kristen yang terlampau kaku dan jadul (jaman dahulu). Hal ini terlihat dari cara berpakaiannya yang seperti om-om di zaman “purbakala” dahulu (heheheJ), juga terlihat dari keengganannya hang out di mal, karena takut berdosa, dll. Mengapa ada perilaku jadul seperti itu? Mungkin karena pengekangan ekstrem dari para sesepuh (generasi tua/orangtua) atau mungkin juga karena sifatnya memang demikian: pendiam dan pemalu. Di satu sisi, anak muda seperti ini seolah-olah kelihatan baik dan alim, namun jika kebiasaan ini dipelihara, maka hal ini bisa berbahaya. Bahaya ini saya sebut sebagai bahaya imun. Artinya, anak muda ini terimun dari budaya-budaya luar, sehingga suatu saat ketika tumbuh menjadi seorang dewasa menjadi seorang yang mudah terkaget-kaget dengan budaya luar, karena selama dia muda, dia hanya mendekam di rumah dan gereja doang. Orangtua yang memproteksi terlalu ketat anak-anaknya akan mengakibatkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang takut terhadap budaya luar. Saya akan memberikan contoh langsung dari Pdt. Dr. Stephen Tong. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam salah satu khotbahnya pernah menceritakan kasus di mana orangtua yang terlalu mengimun anaknya. Pada suatu kali, dulu waktu Pdt. Stephen Tong masih muda, beliau bertemu dengan pendeta yang sudah berumur/tua, kemudian si pendeta tua ini mengajar Pdt. Stephen Tong bahwa karena surat kabar di Hong Kong isinya selalu hal-hal buruk, seperti: pembunuhan, pemerkosaan, dll, maka setelah membaca surat kabar tersebut, si pendeta tua langsung menggunting-gunting berita yang berisi hal-hal negatif di surat kabar tersebut, kemudian menyerahkan surat kabar tersebut kepada anak-anaknya untuk dibaca. Kemudian, Pdt. Stephen Tong berpikir dan berkata kepada si pendeta tua, jika si pendeta tua melakukan hal tersebut, maka anak-anaknya malah semakin penasaran dengan isi dari surat kabar yang sudah digunting-gunting tersebut dan bukan sesuatu yang mustahil jika anak ini bisa meminjam surat kabar tetangganya khusus untuk melihat berita apa yang digunting-gunting oleh ayahnya itu. Bukankah ini lebih gawat? Kemudian, Pdt.. Stephen Tong bersenda gurau di dalam khotbahnya menyebut koran yang bolong-bolong (setelah digunting oleh pendeta tua) itu sebagai holy newspaper, bukan surat kabar/koran yang kudus, tetapi koran yang banyak lubangnya, maka disebut holy (àhole: lubang), hehehe…

 Pada upacara Sakramen Pernikahan saudara sepupu saya di Gereja Katedral Keluarga Kudus, Banjarmasin pada tanggal 31 Januari 2010, Romo Simon Edy Kabul Teguh Santoso, Pr. mengungkapkan hal yang cukup bijak bagi saya. Beliau mengatakan bahwa anak SMA/remaja jangan terlalu ditekan dan juga jangan terlalu dilepaskan (bebas) oleh orangtuanya. Anak remaja yang terlalu ditekan oleh orangtuanya justru malahan mengakibatkan anak remaja tersebut pada suatu saat memberontak. Dan yang nanti bermasalah tentu orangtuanya sendiri. Inilah yang katanya generasi tua paling “bijaksana”, namun akibatnya ke“bijaksana”annya berakibat fatal. Oleh karena itu, para generasi tua, belajarlah untuk TIDAK menyombongkan diri sebagai pribadi yang paling “bijaksana”, karena Pribadi yang paling bijaksana hanyalah TUHAN ALLAH sendiri yang adalah Sumber Kebijaksanaan.

2. Kreatif dan Inovatif

Selain gaul, generasi muda juga tergolong generasi yang kreatif dan inovatif. Ambil contoh, Facebook (FB). FB sampai saat ini tergolong salah satu situs jejaring sosial yang diminati bukan hanya oleh generasi muda, namun juga generasi tua, termasuk pendeta, penginjil, dan para hamba Tuhan. Tahukah Anda siapa yang menciptakan FB? Yang menciptakan FB adalah seorang anak muda. Sumber Wikipedia[1] menyebutkan informasi mengenai FB bahwa: FB pertama kali bernama Facemash ditemukan oleh Mark Zuckerberg pada tanggal 28 Oktober 2003 bersama dengan teman kosnya, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes ketika mereka menjadi mahasiswa di Harvard University. Facemash sebenarnya merupakan situs jejaring sosial yang hanya diperuntukkan untuk mahasiswa Harvard, namun telah meluas sampai ke kampus-kampus lain di daerah Boston area, Ivy League, dan Stanford University. Kemudian, situs ini meluas keanggotaannya mulai dari siswa/i SMU sampai mahasiswa/i, dan semua orang yang berusia di atas 13 tahun. Wikipedia mencatat, anggota FB yang aktif sekarang adalah 350 juta. Ya, pencipta FB adalah seorang anak muda. Bukan hanya masalah FB, banyak generasi muda juga terbukti kreatif dan inovatif, misalnya dalam mendesain baju, ruangan, dll.

Meskipun kreatif dan inovatif, generasi muda Kristen juga harus berhati-hati, karena kreatif dan inovatifnya anak muda zaman sekarang sering kali dipengaruhi oleh ide-ide postmodernisme yang anti keteraturan, dll. Kreativitas itu tentu tidak salah, namun harus dibatasi oleh prinsip-prinsip Alkitab, sehingga tidak mengakibatkan kreativitas yang liar.

3. Menguasai Teknologi

Terakhir, karena kreatif dan inovatif, maka tentu saja banyak generasi muda adalah mereka yang cukup menguasai teknologi, yaitu: minimal mengoperasikan program Microsoft Word, Microsoft Power Point, internet: Facebook, google, e-mail, dll, mampu mengoperasikan HP, dll. Penguasaan teknologi diperlukan baik untuk kuliah, bekerja, fun, maupun untuk mencari sesuatu yang penting di google (www.google.co.id). Rupa-rupanya hampir tidak ada generasi muda yang gaptek (gagap teknologi), meskipun ada juga anak muda Kristen yang sampai sekarang tidak memiliki HP dengan alasan tidak suka HP à sungguh suatu keanehan, hehehe

Kemajuan teknologi memang harus dikuasai oleh banyak generasi muda Kristen, namun di sisi lain, kita harus waspada terhadap berbagai isi yang ditawarkan di dalam teknologi, khususnya internet. Gara-gara FB, sudah ada kasus 2-3 kasus remaja cewek melarikan diri dari rumah untuk bertemu cowok yang baru dikenalnya di FB. Pada hari Sabtu, 27 Februari 2010, sebuah stasiun TV swasta menayangkan berita bahwa bisnis prostitusi sudah berkeliaran di FB. Hendaklah para generasi muda Kristen berwaspada dalam menggunakan teknologi. Namun, sekali lagi saya tekankan, berwaspada JANGAN diekstremkan menjadi tindakan paranoid atau ketakutan berlebihan. Berhentilah menjadi seorang Kristen yang paranoid terhadap hal-hal luar, karena itu bukan menolong, tetapi berbahaya. Perhatikan, orang yang selalu paranoid biasanya mengakibatkan tindakan berlebihan (lebay) yang luar biasa cerewet untuk hal-hal sekunder.

B. Ciri Khas Negatif

Ciri khas negatif banyak generasi muda yang saya soroti bisa diringkas menjadi tiga

1. Anti-Tuhan

Generasi muda zaman sekarang ditandai dengan paradigma dasar yaitu: anti-Tuhan. Di titik pertama, banyak generasi muda benar-benar cuek dengan keTuhanan. Ciri khasnya adalah mereka cuek dengan Alkitab, gereja, khotbah pendeta/hamba Tuhan yang bertanggung jawab, dll. Kecuekan mereka ditandai dengan menyerap khotbah mimbar yang mengenakkan di telinga mereka dan setelah itu melupakannya lagi. Istilahnya: masuk melalui telinga kiri, keluar melalui telinga kiri juga (alias tidak pernah nyantol). Atau yang lebih parah lagi, mereka sudah tidak menghargai sakralnya hari Minggu. Hal ini ditandai dengan anak muda ini jarang pergi ke gereja atau kalau pergi ke gereja pas dia melayani sebagai usher/kolektan. Mengapa dia jarang pergi ke gereja? Karena dia malas dan hari Sabtu malamnya diisi dengan hang out bersama teman-temannya sampai larut malam, sehingga besok Minggunya tidak bisa bangun pagi untuk pergi ke gereja. Atau yang paling parah adalah benar-benar masa bodoh dengan gereja dan iman Kristen. Seorang teman gereja saya, Bob Setio bercerita kepada saya bahwa sebelum acara KKR Natal 2009 Pdt. Dr. Stephen Tong di Supermal Surabaya Convention Center (SSCC), PTC, Surabaya, dia melewati food court dan dia mendengar sekumpulan anak muda yang lagi makan di food court menertawai dirinya yang sedang membawa Alkitab dengan sindiran, “Hari gini masih ke gereja?” Ya, inilah ciri khas banyak generasi muda zaman sekarang.

Mengapa bisa demikian? Faktor penentu utamanya adalah karena faktor dekrit pertama (mengutip istilah dari Pdt. Sutjipto Subeno) yang ditanamkan oleh orangtua mereka. Anak yang sejak kecil TIDAK dididik untuk takut akan Tuhan mengakibatkan anak itu tumbuh menjadi anak yang atheis. Meskipun Roh Kudus bisa mengubah anak ini ketika ia beranjak dewasa, namun peran dekrit pertama pendidikan Kristen TIDAK boleh dihilangkan atau dihapuskan. Sudah terlalu banyak kasus di mana anak makin dewasa bukan makin cinta dan takut akan Tuhan, malahan menjadi atheis. Ataupun kalau anak muda ini kelihatan aktif ke gereja, ceklah prinsip hidupnya, kebanyakan dari mereka atheis praktis. Jangan heran, anak seorang aktivis gereja bisa dengan mudahnya mempermainkan istilah “bergumul” untuk memuaskan hawa nafsunya mencari pasangan hidup yang berbeda iman. Ini semua karena dari kecil, anak ini tidak dididik dengan iman Kristen yang beres. Faktor kedua adalah faktor lingkungan. Ketika seorang anak muda terlalu banyak bergaul dengan teman-teman yang tidak beres, bisa dipastikan anak muda ini akan diracuni oleh pengaruh buruk dari teman-temannya itu. Terlalu banyak kasus anak muda, yang karena pengaruh teman-temannya yang tidak beres, akhirnya dia menjadi atheis. Dulu ia seorang yang aktif pelayanan di gereja, tetapi lingkungan mengakibatkan dia menjadi atheis. Saya tidak perlu jauh-jauh memberikan contoh nyata, karena saudara sepupu saya dari pihak ayah saya sudah mengalami hal ini. Waktu kecil, koko sepupu saya ini aktif pelayanan di gereja, kemudian setelah lulus SMP, dia pindah sekolah ke Australia. Pada waktu di Australia, ayahnya gelisah dan sempat bermimpi bahwa koko sepupu saya ini membanting Alkitab. Kemudian ayahnya menelpon dia dan menanyakan apakah dia pergi ke gereja. Koko sepupu saya menjawab TIDAK. Setelah itu, ayahnya memerintahkan dia untuk pulang kembali ke Indonesia. Sekembalinya ke Indonesia, koko sepupu tingkahnya agak kebanci-bancian (lembeng) dan saat ini dia masih tetap seorang atheis. Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:33, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Hal ini TIDAK berarti kita tidak boleh memiliki teman yang tidak beres. Namun, yang perlu diperhatikan adalah teman seperti apa yang dengannya kita bergaul. Jika kita lebih banyak bergaul dengan teman-teman yang non-Kristen dan di luar gereja, percayalah, seberapa teguh pun iman kita, kita akan jebol. Biasakanlah selektif di dalam memilih teman. Perbanyaklah berteman dengan orang-orang Kristen yang beres dan kurangilah berteman dengan mereka yang belum atau tidak di dalam Kristus. Mengapa? Semakin banyak kita berteman dengan saudara seiman di dalam Kristus, kita semakin dikuatkan, ditegur, diajar, dihibur satu sama lain, sehingga kita makin hidup serupa Kristus.

2. Anti-Konsep

Karena didasarkan pada anti-Tuhan, maka banyak generasi muda zaman sekarang pun juga anti-konsep. Artinya, mereka tidak lagi mempermasalahkan konsep, mengapa? Karena konsep itu hal yang kuno, kaku, dll, istilah mereka: jadul. Tetapi herannya, sambil mengatakan bahwa mereka tidak memiliki konsep, sebenarnya mereka sendiri sudah berkonsep yaitu berkonsep bahwa mereka tidak memiliki konsep. Memang, logika yang aneh, wakakakaka. Tidak usah heran, karena tidak mementingkan konsep, maka banyak generasi muda zaman sekarang seenaknya sendiri di dalam menjalani hidup dan khususnya dalam memilih pasangan hidup. Apa yang sebenarnya merupakan hal mutlak eh malah direlatifkan dan hal yang relatif justru dimutlakkan. Dewasa ini, istilah “cocok” sedang ngetren di banyak kawula muda di seluruh aspek kehidupan. Di dalam memilih gereja, apa yang dipentingkan oleh banyak generasi muda “Kristen” hari-hari ini? Khotbah dan pengajaran yang bagus dan bertanggung jawab? BUKAN. Yang mereka pentingkan adalah apa yang COCOK dengan selera mereka. Mereka akan lebih mementingkan corak ibadah yang wah, mengasyikkan, dan kalau bisa pendetanya tampan dan gaul. Meskipun khotbah/ajaran yang disampaikan di gereja tersebut ngaco, itu tidak menjadi masalah, asalkan musiknya pas dengan selera anak muda.

Di dalam menjalin hubungan lawan jenis, istilah COCOK juga laris. Saya pernah menyaksikan sebuah infotainment yang menceritakan seorang artis cowok Kristen yang namanya cukup terkenal di dalam dunia Kekristenan melalui album lagu rohaninya ternyata menikahi seorang artis cewek Islam. Ketika ditanya alasan mereka menikah meskipun beda agama, jawaban mereka adalah: MEREKA COCOK. Filosofi cocok di kalangan artis ini ternyata meracuni secara implisit seorang anak aktivis sebuah gereja. Sudah jelas-jelas calon pasangan hidupnya seorang yang berbeda iman, masih saja anak aktivis ini menjalin hubungan, ya, lagi-lagi, alasan yang dikemukannya: COCOK kalau mengobrol dengannya. Hal ini TIDAK berarti kita mencari pasangan hidup yang tidak cocok dengan kita. Kecocokan tetap perlu, tetapi bukan kriteria mutlak! Alangkah konyolnya kita jika kita mengorbankan iman demi sebuah kecocokan, itu pun suatu ketidakcocokan (ketidakcocokan iman, hati, dan cara berpikir)! Mengapa kecocokan fenomenal dan sekunder lebih dipentingkan ketimbang kecocokan esensial dan primer? Itulah keanehan yang terjadi di dunia anak muda zaman sekarang. Atas nama kecocokan, beda agama/iman: tidak menjadi masalah, “kan bisa diinjili?” begitulah argumentasi konyol mereka yang belum tentu mereka jalankan, hehehe. Meskipun anak aktivis ini telah mendengar khotbah gembala sidangnya yang mengajar bahwa carilah pasangan hidup yang seiman dan rohani, tetapi dasar orang keras kepala, dia tetap lebih memilih nafsunya sendiri ketimbang khotbah yang didengarnya, lalu dengan mudahnya dia mengatakan bahwa dia lagi “bergumul.” Bergumul dari sebelah mana tuh? Bergumul atau sebenarnya bernafsu??? Saya paling takut jika sebuah istilah agung dipermainkan untuk nafsu yang menjijikkan..

3. Anti-Komitmen

Seorang yang tidak beriman kepada Tuhan dan tidak menghargai pentingnya konsep, maka dapat dipastikan orang yang sama juga tidak menghargai komitmen. Mengapa? Karena komitmen dibangun di atas prinsip yang beres dan prinsip itu dibangun di atas iman yang beres. Seorang yang beriman beres tentu memiliki konsep iman yang beres dan tentu aplikasinya serta ia juga mau berkomitmen untuk taat dan setia menjalankan apa yang telah imani dan ketahui tersebut. Namun sayangnya, hal ini TIDAK bisa kita jumpai lagi pada mayoritas generasi muda zaman sekarang. Seorang teman gereja saya yang cukup saya hormati dan darinya saya belajar banyak hal, yaitu Sdr. Jimmy Sumendap, M.T. pernah berkata kepada saya bahwa banyak generasi muda zaman sekarang adalah generasi yang anti-komitmen. Mereka tidak mau berkomitmen dengan serius, karena komitmen menuntut sebuah ikatan. Banyak generasi muda zaman sekarang tidak menyukai ikatan, karena mereka mau BEBAS. Tidak heran, istilah-istilah yang lagi ngetren di kalangan kawula muda zaman sekarang di dalam menjalin hubungan lawan jenis adalah HTS (hubungan tanpa status) atau TTM (teman tapi mesra) atau gebetan atau teman dekat. Saya tidak mempermasalahkan istilah ini, karena jika istilah ini dipahami secara bertanggung jawab, maka istilah ini sah-sah saja. Rev. Joshua Eugene Harris (pendeta senior di Covenant Life Church, U.S.A.) yang menulis buku Boy Meets Girl (Saat Cowok Ketemu Cewek) juga mengungkapkan istilah yang sama (lebih dari teman biasa, namun belum pacaran/jadian), namun istilah ini tentu berarti sebuah proses hubungan yang menuju ke arah yang lebih serius (ada komitmen). Namun istilah yang sama dipakai oleh banyak generasi muda zaman sekarang bukan dengan maksud/tujuan yang sama agungnya, namun lebih tidak beres. Seorang anak muda bisa dengan mudahnya menganggap lawan jenisnya itu TTM atau gebetan tanpa serius memikirkan hubungan mereka di masa depan. Mayoritas mereka mengidentikkan hubungan lawan jenis itu fun, yaitu: bisa jalan berdua, nonton berdua, dll. Mereka hampir tidak pernah memikirkan bagaimana bisa saling share prinsip hidup, share konsep iman, share segala sesuatu, apalagi hubungan saling (saling belajar dan berbagi). Tidak usah heran, karena kaburnya makna hubungan lawan jenis yang seharusnya dilandasi komitmen yang jelas, maka kita melihat banyak generasi muda yang baru saja jadian, lalu beberapa bulan lagi putus, bahkan putus dengan alasan yang konyol. Teman saya dari GKKA Tenggilis menceritakan bahwa teman sekolahnya bisa jadian dengan saudara sepupunya di mana sepupunya ini juga sudah punya pacar. Lucu bukan? Bahkan yang lebih parah lagi, ada anak muda cewek yang sudah pernah pacaran sampai 4-6x, padahal usianya dua tahun di bawah saya (25 tahun), bahkan ada yang sudah 4x putus nyambung dengan cowoknya (gara-gara mengikuti lagu Putus Nyambung sich, jadi ya begini ini jadinya, hahahaha). Luar biasa aneh. Inilah citra generasi muda yang anti-komitmen. Anak muda yang makin melarikan diri dari iman yang beres, mereka makin hidup tanpa tujuan dan seenaknya sendiri, dan sebenarnya hidup mereka makin hampa.

4. Pemberontakan

Seorang yang sudah anti-komitmen mengakibatkan pelan namun pasti orang itu pasti akan memberontak terhadap tatanan yang ada. Hal ini sudah terlihat jelas pada diri banyak generasi muda zaman sekarang. Anak muda yang sudah anti-komitmen mengakibatkan mereka bertindak semaunya sendiri. Mereka ingin memberontak terhadap tatanan yang ada. Di dalam gereja, mereka ingin gereja tidak ada liturgi, mereka ingin memuji Tuhan tanpa aturan. Tidak heran, di dunia Kekristenan, muncul sebuah aliran musik: “Christian” Housemusic, ada grup band rock “Kristen”, dll. Mereka membuang semua lagu-lagu klasik dan himne yang agung dan menggantinya dengan lagu dan musik yang menyenangkan telinga mereka. Hal ini tidak berarti lagu-lagu klasik dan himne benar semua dan lagu-lagu rohani kontemporer salah semua. Yang sedang saya soroti adalah semangat pemberontakannya. Semakin mereka memberontak, mereka bukan makin tambah beres, justru mereka semakin menemukan kehampaan di dalam hidup. Perhatikanlah gaya hidup para artis. Semakin mereka hidup glamour dan memberontak terhadap iman yang beres, mereka semakin hidup tidak karuan dan di akhir hidupnya, tidak sedikit mereka yang bunuh diri.

Mengapa mereka suka memberontak? Faktor utamanya adalah karena orangtua tidak mendidik mereka sejak kecil untuk takut akan Tuhan. Anak yang tidak dididik takut akan Tuhan dan mencintai-Nya, maka anak itu tumbuh menjadi anak yang terus dikuasai oleh iblis yang gemar memberontak. Kedua, karena faktor salah didik dari orangtua. Orangtua yang terlalu ekstrem memproteksi anaknya juga mengakibatkan anaknya memberontak. Saya telah mengemukakan hal ini di atas dengan mengutip perkataan seorang pastor Katolik yang mengajar bahwa anak muda tidak boleh diproteksi berlebihan dan tidak boleh dilepas begitu saja. Anak muda yang semakin diproteksi bukan semakin baik, justru semakin memberontak. Hal senada juga diungkapkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam ilustrasi yang sudah saya kemukakan di atas. Belajarlah seimbang di dalam menerapkan pendidikan Kristen: mendisiplin tetapi tidak ekstrem/kaku. Ketiga, karena faktor lingkungan. Banyak anak muda yang imannya tidak kuat biasanya mudah terpengaruh dengan teman-temannya yang gemar memberontak baik kepada iman/Tuhan maupun kepada siapa pun.

Biarlah generasi muda Kristen benar-benar menyerahkan hidupnya HANYA untuk Tuhan. Biarlah firman Tuhan mengontrol gaya hidup kita sebagai anak muda Kristen (Mzm. 119:9), sehingga kita tidak lagi tertipu oleh bujuk rayu iblis di dunia ini.


V. PEMBENTUKAN KOMUNIKASI ANTARA GENERASI TUA DAN MUDA: SEBUAH PERSPEKTIF ALKITABIAH

A. Gap Antara Generasi Tua dan Muda

Jika kita membandingkan poin III dan IV, kita akan menemukan bahwa generasi tua dan muda memiliki perbedaan ciri khas. Jika boleh disimpulkan, perbedaannya adalah: banyak generasi tua lebih setia pada tradisi dan berpikir panjang, sedangkan banyak generasi muda lebih menginginkan perubahan dan berpikir pendek. Karena adanya perbedaan ini, maka timbullah suatu gap antara kedua generasi ini yang mungkin mengakibatkan perselisihan paham. Generasi tua dengan keras kepala enggan memahami dan mengerti generasi muda, sebaliknya generasi muda juga dengan keras kepala enggan memahami dan mengerti generasi tua. Gap apa yang sebenarnya terjadi pada kedua generasi ini?

1. Gap Iman

Gap inti yang terjadi adalah masalah iman. Meskipun gap ini hampir jarang ditemukan, namun gap ini sebenarnya tetap merupakan inti permasalahannya. Jika orangtua beriman beres, sedangkan anaknya beriman ngaco, maka sudah pasti terjadi gap yang besar. Si anak akan merasa orangtuanya kuno karena masih percaya Tuhan. Di sini, peran orangtua harus mendisiplin anaknya (sambil mendoakan anaknya), namun tidak boleh terlalu memaksa, karena pemaksaan dalam hal pendidikan dan pengajaran iman mengakibatkan kebencian bukan pertobatan. Perhatikanlah apa yang dilakukan oleh Monika, ibunda Bapa Gereja Augustinus ketika Monika mengetahui bahwa Augustinus muda hidupnya tidak karuan? Apakah Monika memarahi dan memaki anaknya? TIDAK. Monika mendoakan anaknya sampai meneteskan air mata. Itulah tanda kasih orangtua yang hatinya benar-benar untuk Tuhan yang ingin melihat anaknya kembali kepada Tuhan. Tetapi herannya, hari-hari ini, ada juga orangtua yang “meneladani” Monika, yaitu ikut-ikut meneteskan air mata tetapi bukan mendoakan anaknya untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, tetapi sedih dan kecewa karena anaknya tidak menaati apa yang diinginkan orangtuanya (bukan apa yang Tuhan kehendaki). Kembali, begitu juga sebaliknya, jika orangtua imannya masih self-centered (apalagi dari latar belakang agama/tradisi Tionghoa yang sangat kental, meskipun katanya sudah “Kristen”, bahkan “Reformed”), sedangkan anaknya beriman beres, maka si anak pasti menderita lahir dan batin, karena si anak tidak memiliki hak untuk berbicara apa pun bahkan untuk memberitakan Injil dan mendiskusikan tentang prinsip-prinsip iman Kristen (karena si orangtua yang dipengaruhi oleh banyak ajaran dari agama/tradisi Tionghoa menganggap bahwa mereka adalah “Tuhan” yang harus dipatuhi mutlak tanpa argumentasi).

2. Gap Tingkat Pendidikan dan Cara Berpikir

Gap kedua adalah gap tingkat pendidikan dan cara berpikir. Kebanyakan generasi tua adalah mereka yang kurang mendapat pendidikan tinggi. Biasanya pendidikan mereka maksimal SMA. Nah, jika hal ini dibandingkan dengan anaknya yang berpendidikan S-1 atau lebih tinggi, maka tentu terjadi gap tingkat pendidikan dan tentunya mengakibatkan munculnya gap cara berpikir. Jika kebanyakan generasi tua lebih menggunakan cara berpikir yang bersifat satu arah (one-sided) dikarenakan tingkat pendidikannya yang kurang tinggi, maka biasanya banyak generasia muda yang cerdas lebih menggunakan cara berpikir yang bersifat dua arah di dalam menyoroti suatu hal. Jika kedua generasi ini bertemu dan saling berdiskusi, maka biasanya terjadi perselisihan, karena biasanya banyak generasi tua yang keras kepala yang enggan berpikir dua arah, karena jika berpikir dari sisi lain (di luar apa yang dipikirkan generasi tua) itu mungkin tidak COCOK dengan tujuannya yang ingin mengindoktrinasi anaknya atau hal lain.

3. Gap Lingkungan (Pergaulan)

Terakhir, gap lingkungan adalah gap yang sering terjadi antara generasi tua dan muda. Generasi tua lebih senang bergaul dengan para sesepuh yang menjadi teman mereka, saling curhat tentang suami/istri, anak, karier, dll, sedangkan generasi muda lebih senang bergaul dengan kawula muda. Hal-hal yang dibicarakan di dalam lingkungan tersebut pun berbeda. Jika para sesepuh membicarakan hal-hal yang jadul (kisah-kisah di zaman dahulu atau semasa sekolah dahulu), maka para kawula muda membicarakan hal-hal yang up-to-dated, misalnya Facebook (FB), chatting, Hand Phone, Black Berry, teknologi, dll. Dengan kata lain, ada “dunia”nya sendiri yang dibangun antara dua generasi ini.

B. Mengatasi Gap: Membangun Komunikasi Antara Generasi Tua dan Muda Dengan Prinsip-prinsip yang Alkitabiah

Jika kita telah melihat tiga permasalahan gap antara generasi tua dan muda, maka apa yang harus kita lakukan? Sebelum kita masuk ke dalam aplikasinya, maka kita harus mengerti dasar presuposisinya.

1. Dasar Presuposisi

Orang Kristen yang beres adalah orang Kristen yang dipanggil untuk menjadi garam dan terang bagi dunia di mana mereka harus menyadari status mereka sebagai anak-anak Allah dan panggilan mereka adalah memberitakan Kebenaran di tengah dunia yang mereka diami. Berarti, di sini, kita belajar tiga prinsip:

a) Status Kita: Anak-anak Allah

Prinsip pertama yang perlu kita pahami adalah bahwa status kita adalah anak-anak Allah. Kita yang adalah umat pilihan-Nya adalah anak-anak adopsi Allah yang telah Allah tebus dari dunia kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib (1Ptr. 2:9). Berarti kita yang dahulu manusia terkutuk karena dosa, tetapi karena anugerah-Nya yang ajaib telah memilih dan menentukan kita dari semula, kemudian memanggil, membenarkan, dan memuliakan kita (Rm. 8:29-30). Dari sini kita belajar bahwa karena status kita adalah anak-anak Allah yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju kepada terang, maka sudah seharusnya, hidup kita diliputi oleh terang Ilahi dan berfokus pada terang Ilahi tersebut. Hidup yang diliputi oleh dan berfokus pada terang Ilahi ditandai dengan buah Roh yang keluar dari hidup Kristiani tersebut seperti yang Paulus ungkapkan di dalam Galatia 5:22-23. Selain buah Roh, hidup Kristen adalah hidup yang mengaplikasikan kekudusan, kebenaran (righteousness), dan keadilan (justice) Allah. Dengan kata lain, hidup yang diliputi oleh dan berfokus pada terang Ilahi adalah hidup yang berpusat hanya kepada Allah dan bagi kemuliaan-Nya. Karena hidupnya berpusat pada Allah dan memuliakan Allah, maka tentu orang Kristen yang beres hidupnya selalu berpusat pada apa yang Allah firmankan, yaitu di dalam Alkitab. Bagaimana dengan kita? Apakah hidup kita mirip Tuhan yang kita sembah atau mirip setan yang selalu menipu dengan tampilan luar yang menarik? Biarlah kita mengintrospeksi diri masing-masing..

b) Panggilan Kita: Memberitakan Kebenaran

Karena status kita adalah anak-anak Allah yang hidupnya diliputi oleh dan berfokus kepada terang Ilahi, maka kita memiliki panggilan yaitu memberitakan Kebenaran Allah itu. Berarti, iman dan pengertian kebenaran yang telah kita pelajari dan miliki TIDAK untuk kita konsumsi sendiri, tetapi untuk kita bagikan kepada orang lain yang belum mendengar Injil. Tuhan Yesus menyebut panggilan ini sebagai garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16). Ketika kita menjadi garam dan terang bagi dunia, tujuannya bukan untuk memuliakan diri, namun untuk memuliakan Allah. Menjadi garam dan terang dunia memang bukanlah panggilan yang mudah, karena panggilan tersebut membutuhkan kerendahan hati, kerelaan, pengorbanan, kesetiaan, dan ketaatan. Mengapa? Karena panggilan kita bukanlah panggilan yang sesuai dengan ajaran dan keinginan duniawi, namun justru bertolak belakang dan bahkan menentang. Justru itulah, di dalam menunaikan panggilan kita, di dalamnya juga ada salib yang harus kita tanggung. Salib berbicara mengenai pengorbanan dan penderitaan yang harus kita tanggung tatkala kita menunaikan panggilan kita. Sepanjang Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, kita melihat para nabi dan rasul harus menanggung aniaya tatkala mereka berkomitmen menunaikan panggilan yang mereka terima dari Allah. Di dalam sejarah gereja, para bapa gereja dan para reformator yang beres juga mengalami penganiayaan hebat tatkala mereka memberitakan Kebenaran.

Penderitaan selalu diresponi dengan ketaatan oleh umat pilihan-Nya, sedangkan bagi mereka yang bukan termasuk umat pilihan-Nya (meskipun mengaku diri “Kristen”), mereka akan dengan mudahnya mengkompromikan bahkan menyangkal imannya. Hal ini bisa dilihat dari kasus beberapa orang Kristen yang rela menyangkal imannya tatkala mereka diperhadapkan dengan penganiayaan pada zaman pemerintahan Kaisar Nero. Di zaman sekarang pun, beberapa orang Kristen bahkan tidak sedikit pemimpin gereja yang bersiap-siap mengkompromikan imannya agar Kekristenan bisa diterima di dalam masyarakat yang pluralis. Dengan ide konyol “kontekstualisasi” yang lebay, salah satu dari mereka menyetujui bahwa keselamatan hanya di dalam Yesus, namun “Yesus” itu menyatakan diri-“Nya” dalam berbagai bentuk di dalam masing-masing agama, misalnya “Yesus” menyatakan diri sebagai Sidharta Gautama di dalam agama Buddha, “Yesus” menyatakan diri sebagai Mohammad di dalam agama Islam, dll. Intinya, orang ini tetap berpendapat bahwa semua orang tanpa memandang iman apa pun pasti masuk “sorga.” Yang anehnya, orang yang mengajar seperti ini bukan orang “Kristen” awam, namun seorang theolog. Kalau theolog saja sudah ngawur begini, bagaimana jadinya orang Kristen? Bukankah orang “Kristen” bisa lebih tidak karuan karena terlalu “memberhalakan” perkataan sang “theolog” ini?

Jika ada orang “Kristen” ngaco seperti di atas, maka sebagai orang Kristen yang beres (waras), maka kita harus mengerti panggilan kita dan salib yang harus kita tanggung tatkala kita menunaikan panggilan kita. Lalu, bagaimana supaya kita bisa taat dan setia tatkala mengalami penderitaan tersebut? Ingatlah satu hal yaitu janji penyertaan-Nya. Ketika Allah mengutus kita menjalankan panggilan-Nya, Ia tidak meninggalkan kita, namun Ia terus-menerus menyertai kita dan memberi kekuatan tatkala kita mengalami penderitaan. Inilah yang Tuhan Yesus peringatkan dan janjikan kepada Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Andreas (dan tentunya juga bagi kita sebagai umat-Nya) di dalam Markus 13:9-11, “Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka. Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa. Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.” Untuk lebih jelasnya, di Lukas 21:10-19, Tuhan Yesus berfirman, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Perhatikanlah apa yang Kristus katakan ini. Ia TIDAK mengajar para murid-Nya bahwa mengikut Kristus tidak perlu menderita. Justru, Ia mengajar dengan jelas bahwa mengikut Kristus pasti menderita, karena kita akan diperhadapkan pada para penguasa baik agama maupun pemerintah, namun Ia tidak akan sekali-kali membiarkan kita sendiri. Perhatikan ayat 14-15 dan 18, “Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. … Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Bukankah ini merupakan janji penyertaan-Nya yang luar biasa dahsyat bagi kita yang menderita demi panggilan-Nya yang kita jalankan? Bagaimana dengan kita? Masihkah kita takut dan kecewa dalam menunaikan panggilan-Nya yaitu memberitakan Kebenaran? Berfokuslah pada perintah dan janji penyertaan-Nya, maka kita akan berani menghadapi penderitaan dengan kekuatan iman yang Allah anugerahkan. Biarlah Roh Kudus memimpin dan menguatkan hati kita di dalam menunaikan panggilan-Nya.

c) Objek Panggilan Kita: Dunia Ini

Setelah menyadari status dan panggilan kita, maka hal terakhir yang harus kita mengerti adalah objek panggilan kita. Kita dipanggil untuk memberitakan Kebenaran ke dalam dunia. Artinya, dunia itu objek/sasaran dari panggilan kita. Di sini, kita mulai menghadapi “dilema” yaitu bagaimana memberitakan Kebenaran Allah yang Mahakudus, tidak terbatas, dan agung itu kepada dunia yang berdosa dan terbatas? Banyak orang Kristen yang tidak menyadari “dilema” dahsyat ini, lalu mengambil solusi yang ekstrem. Di satu sisi, ada yang terlalu kaku dan kolot memberitakan Kebenaran, sehingga tidak mau bersentuhan dengan dunia sama sekali. Jangan tanya Facebook kepada orang antik ini, karena ia tidak bakal mengetahuinya, yang dia ketahui hanya book (buku), hehehe. Di sisi lain, ada yang terlalu mengkompromikan iman supaya COCOK dengan kondisi zaman. Hal ini ditandai dengan dua gejala, yaitu: Pertama, “theologi” kemakmuran. Para penggagas “theologi” kemakmuran sebenarnya berpikir bagaimana supaya orang dunia bisa menjadi Kristen dengan cara lebih cepat? Mereka berpikir jika Kekristenan mengajarkan jalan salib, maka itu tidak akan “laku dijual”, karena berita itu tidak enak, apalagi berita itu disampaikan di tengah dunia yang lagi kacau. Jadi, solusinya adalah menghadirkan “Injil” yang tidak lagi berfokus pada salib, tetapi pada kemakmuran duniawi, oleh karena itu muncullah prosperity “gospel” (“injil” kemakmuran) yang memberitakan bahwa mengikut Yesus pasti kaya, sukses, sehat, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Para pencetusnya ramai-ramai membangun gedung gereja yang mewah (mega-church) dan mendirikan sekolah tinggi theologi di mana banyak pengajarnya tidak pernah mengenyam pendidikan theologi yang beres atau memakai trik yaitu mengundang hamba Tuhan yang pernah kuliah theologi (entah itu di seminari theologi yang beres atau tidak) untuk menjadi dosen di seminari mereka dengan iming-iming gaji yang besar. Tidak cukup dengan gereja dan seminari theologi, salah satu penggagas ajaran ini bahkan mendirikan hotel dan pusat pelayanan kesehatan berdekatan dengan gereja yang super mewah di Surabaya. Kedua, “theologi kontekstualisasi”. Istilah yang kerap kali dipakai namun telah diselewengkan adalah kontekstualisasi. Kontekstualisasi sebenarnya merupakan istilah di dalam penginjilan, di mana Injil Kristus masuk ke dalam konteks budaya setempat. Namun, hari-hari ini, kontekstualisasi diselewengkan artinya menjadi: mencocokkan berita Injil dengan konteks zaman. Tidak heran, atas nama “kontekstualisasi”, para penggagas “theologi kontekstualisasi” mengorbankan teks Alkitab agar cocok dengan konteks zaman. “Kontekstualisasi” lebay ini akhirnya melahirkan “theologi” Asia, “theologi” Afrika, dll yang seolah-olah kontekstual, namun sayangnya tidak lagi kembali kepada teks Alkitab yang akurat.

Di tengah keekstreman yang terjadi di dalam Kekristenan dewasa ini, apa yang harus orang Kristen lakukan sesuai dengan Alkitab? Kembali, kaitkan poin a) dan b) dengan poin c). Ingatlah bahwa status kita adalah anak-anak Allah yang hidupnya Theosentris (berpusat kepada Allah) dan hal ini tentu berlainan dengan orang-orang dunia yang hidupnya antroposentris (berpusat kepada manusia). Karena hidup kita Theosentris, oleh karena itu, kita juga memiliki panggilan yang Theosentris yaitu membawa berita Injil dan Kebenaran Allah kepada dunia. Dengan kata lain, status dan panggilan kita ini adalah prinsip mutlak dan dasar di dalam kita beriman dan bersaksi. Nah, prinsip ini nantinya kita aplikasikan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Di dalam kita mengaplikasikan prinsip ini, kita perlu memperhatikan objek panggilan kita yaitu dunia. Jadi, tatkala kita mau memberitakan Kebenaran Allah kepada dunia, kita harus mengerti dunia di mana kita tinggal dan kita harus menebus budaya dunia ini dan meletakkannya di bawah kaki Kristus. Bagaimana kita bisa mengerti dunia kita? Ya, dengan membaca sebanyak mungkin informasi baik dari media massa maupun media elektronik. Bisa juga dengan cara berinteraksi dan bergaul dengan sebanyak mungkin orang secara langsung. Setelah mengerti dunia, kita jangan lupa akan panggilan kita, yaitu memberitakan Kebenaran dan menebus budaya dunia dan meletakkannya di bawah kaki Kristus. Berarti, sambil mengerti dunia, kita sambil menjalankan mandat budaya yang Tuhan perintahkan. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita terpanggil untuk memberitakan Kebenaran kepada dunia dengan prinsip yang tegas dan mutlak namun dengan aplikasi yang tidak kaku? Biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita di dalam menggarap panggilan Allah di dunia ini.

2. Aplikasi: Berprinsip Namun Tidak Kaku/Kolot dan Pentingnya Komunikasi yang Sehat

Setelah mengerti tiga poin dasar di atas, maka sebagai aplikasi yaitu solusi terhadap gap antara generasi tua dan muda yaitu mengembangkan suatu sikap seimbang dan paradoks, yaitu: berprinsip namun tidak kaku/kolot. Artinya, baik generasi tua dan generasi muda Kristen harus sama-sama mengakui prinsip yang sama sesuai dengan Alkitab (Sola Scriptura), namun di sisi lain, mereka juga tidak boleh kaku/kolot untuk hal-hal sekunder. Jangan membawa keinginan masing-masing generasi, robohkanlah keinginan itu dan bangunlah keinginan yang beres dan memuliakan Allah di atas dasar firman Tuhan. Lalu, bagaimana kita bisa benar-benar mengaplikasikan konsep ini? Konsep ini diaplikasikan sebenarnya di dalam komunikasi. Agar generasi tua dan muda sama-sama berprinsip sesuai dengan Alkitab untuk hal-hal primer dan tidak terlalu kaku/kolot untuk hal-hal sekunder, maka bangunlah komunikasi yang sehat antar dua generasi ini. Di dalam komunikasi yang sehat pasti terkandung diskusi yang sehat dan objektif di dalam menyoroti segala hal. Nah, apa yang perlu diperhatikan di dalam membangun komunikasi yang sehat ini?

a) Imannya Beres

Prinsip dasar pertama di dalam membangun komunikasi yang sehat antar dua generasi ini yaitu iman yang beres. Jika salah satu generasi, imannya tidak beres, jangan berusaha membangun komunikasi, karena komunikasi yang sehat tidak mungkin akan terjadi. Misalnya, generasi tua beriman beres, sedangkan generasi muda imannya tidak beres (bahkan atheis), maka jangan harap generasi tua bisa berkomunikasi secara sehat kepada generasi muda. Begitu juga sebaliknya, jika generasi muda iman dan hidupnya Theosentris, sedangkan generasi tua iman dan hidupnya antroposentris, maka tentu tidak akan bisa dibangun komunikasi yang sehat. Mengapa? Karena dasar, motivasi, sumber, arah, dan tujuan yang dicapai berbeda bahkan bertolak belakang. Kalau sekadar berbeda bisa didiskusikan, namun kalau sudah bertolak belakang, itu lebih sulit. Oleh karena itu, jika mau terciptalah sebuah komunikasi yang sehat antar dua generasi ini, milikilah kesamaan iman dan pola pikir yang beres.

b) Rendah Hati dan Terbuka

Nah, iman dan pola pikir yang sama yang beres antar dua generasi ini mengakibatkan masing-masing generasi tentu memiliki kerendahan hati dan keterbukaan untuk saling belajar dan berbagi. Dua generasi ini akan saling belajar kelemahan masing-masing dan kekuatan pada generasi lainnya. Di samping itu, mereka juga bisa saling berbagi pengalaman dan pengertian ketika menyoroti sesuatu hal, sehingga satu masalah bisa disoroti dari dua segi (tidak one-sided).

Jika dua hal ini sudah kita miliki di dalam membangun komunikasi, lalu pertanyaan selanjutnya, komunikasi dalam hal apa yang bisa kita bangun?

a) Komunikasi tentang Panggilan Hidup

Theologi Reformed yang berdasarkan Alkitab percaya bahwa setiap anak Tuhan memiliki panggilan hidup yang Tuhan percayakan secara berbeda-beda (Ef. 2:10). Panggilan hidup ini tentu bukan saja berarti panggilan untuk menjadi hamba Tuhan full-time (pengerja gereja: penginjil atau pendeta, dll) atau menjadi orang yang berprofesi “sekuler”, namun panggilan hidup ini mencakup segala hal. Misalnya, anak dari kecil sudah memiliki talenta menggambar, maka orangtua yang imannya beres pasti akan mengarahkan anaknya untuk menekuni pendidikan desain dan mendukung pekerjaan anaknya untuk menjadi desainer atau sejenisnya. Adalah suatu kegilaan jika anaknya bertalenta menggambar, kemudian orangtuanya menyuruh anaknya untuk berdagang atau menjadi penyanyi. Itu namanya tidak sesuai dengan panggilan hidup. Orangtua (apalagi “Kristen” bahkan “Reformed”) yang tidak mengarahkan anaknya untuk memenuhi panggilan hidup dari Tuhan sebenarnya tidak layak disebut orangtua “Kristen” (apalagi mengaku diri “Reformed” lagi) dan bahkan orangtua ini sebenarnya sudah berdosa di hadapan Tuhan, karena mematikan panggilan hidup dari Tuhan bagi anak dan menggantikannya dengan ambisi orangtua (ingat kembali definisi dosa menurut Dr. Cornelius Van Til adalah mengganti standar Allah dengan standar manusia berdosa). Nah, dua generasi ini sebenarnya bisa sama-sama berkomunikasi untuk menentukan panggilan hidup dari Allah. Orangtua bisa mengamati anaknya dari kecil, apa talenta yang Tuhan berikan kepada anaknya? Dari situ, orangtua bisa mengarahkan anaknya untuk memenuhi apa yang Tuhan berikan kepada anaknya itu.

b) Komunikasi tentang Menyoroti Satu Hal

Kedua, komunikasi tentang menyoroti satu hal. Di dalam menyoroti satu hal, saya sudah mengatakan, kita tidak boleh menggunakan paradigma one-sided (satu arah) yang berarti kita hanya memakai satu pendekatan untuk menafsir satu peristiwa/hal. One-sidedness menunjukkan kepicikan seseorang. Oleh karena itu, diperlukan suatu komunikasi dua arah di dalam menafsir sesuatu. Saya akan memberikan contoh. Baru-baru ini, beberapa remaja putri menghilang dari rumah karena bertemu dengan cowok yang dikenalnya dari Facebook (FB). Apa yang harus kita lakukan? Saya membaca surat kabar dan solusinya adalah orangtua harus memantau anak yang menggunakan FB, kalau perlu orangtua ikut menjadi anggota FB. Sudah bisa ditebak bahwa solusi itu bukan datang dari generasi muda, tetapi dari generasi tua. Di satu sisi, solusi ini sedikit ada benarnya, karena anak remaja perlu dipantau oleh orangtuanya, supaya mereka tidak terjerumus ke dalam dunia yang kacau ini. Namun, di sisi lain, bagi saya (generasi muda), solusi ini masih kekanak-kanakan dan paranoid! Mengapa demikian? Coba berpikir logis. Jikalau orangtua memantau anaknya yang menggunakan FB, bagaimana jika anak itu menggunakan FB pada saat jam istirahat di sekolah? Apakah orangtua bertindak seperti satpam di sekolah yang menunggui anaknya yang sedang bermain FB? Apakah ini satu-satunya solusi? Atau adakah solusi lain? Sebenarnya ada. Bagi saya, solusi yang jitu bukan solusi yang fenomenal, tetapi esensial. Mengapa remaja putri bisa kecantol dengan cowok yang baru dikenalnya di FB? Lebih tajam lagi, mengapa anak muda zaman sekarang kecanduan FB tanpa mau bersaksi di FB? Sebenarnya itu karena pendidikan orangtua dari kecil. Jikalau anak dari kecil sudah dididik dengan iman Kristen yang beres, maka anak itu akan tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan. Anak itu nantinya akan dengan sendirinya memilih dan memilah mana yang benar dan salah sesuai dengan firman Tuhan. Dengan kata lain, firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus lah yang menjadi “satpam” pribadi bagi si anak, sehingga ia tidak akan terjerumus ke dalam jurang dosa. Namun, solusi ini hanya bisa dilakukan ketika orangtua dan anak sama-sama seorang yang percaya kepada Kristus. Di luar Kristus, solusi esensial ini mustahil bisa dilakukan.

c) Komunikasi tentang (Hubungan) Lawan Jenis

Terakhir, komunikasi yang harus dibangun adalah komunikasi tentang (hubungan) lawan jenis. Biasanya banyak generasi tua lebih mementingkan tradisi dan budaya dunia ketika berbicara mengenai (hubungan) lawan jenis. Banyak aturan yang mereka terapkan pada generasi muda, bahkan ada yang sampai menerapkan aturan-aturan ekstrem. Namun, di sisi lain, banyak generasi muda lebih mementingkan kebebasan dan semau gue di dalam menjalin hubungan lawan jenis. Bagi mereka, asal dapat gebetan, masalah beres. Lalu, bagaimana solusinya? Orang Kristen jangan menjadi orang Kristen yang ekstrem! Bagi saya pribadi, kedua pendekatan itu salah. Pendekatan yang bagi saya bijaksana adalah mempertahankan prinsip-prinsip Alkitab yang ketat, menghargai budaya dunia sebagai respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah, dan memikirkan dampak/akibat dari konsep yang kita ambil. Pertama, mempertahankan prinsip-prinsip Alkitab yang ketat. Di titik pertama, kita harus meletakkan Alkitab sebagai dasar dan sumber kebenaran. Alkitab dengan jelas mengajar kita bahwa di dalam mencari lawan jenis, kita harus mencari yang: seiman (berpusat kepada Allah), lawan jenis, dan sepadan. Namun, herannya ada orangtua “Kristen” hari-hari ini yang memilihkan pasangan bagi anaknya di luar syarat tersebut, misalnya mencari pasangan yang pintar bekerja (hal ini tentu ada benarnya, tetapi bukan syarat mutlak) dan bahkan dicocokkan dengan shio anaknya. Inikah yang namanya “Kristen”? Kedua, menghargai budaya. Tidak ada salahnya jika kita menghargai budaya sebagai respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah. Misalnya, ada pandangan bahwa bibit, bobot, dan bebet perlu diperhatikan sebagai syarat memilih pasangan hidup. Ada dua kecenderungan ekstrem yang dilakukan oleh orang Kristen: menerima mentah-mentah tanpa mengujinya berdasarkan Alkitab dan menolaknya mentah-mentah. Theologi Reformed menghargai respons manusia terhadap wahyu umum Allah, namun meletakkannya di bawah otoritas Alkitab. Dengan kata lain, meskipun bibit, bobot, dan bebet mengandung unsur kebenaran, tetapi itu TIDAK boleh dijadikan standar mutlak yang menggantikan 3 kriteria mutlak dari firman Tuhan. Ketiga, memikirkan dampak/akibat dari konsep yang diterapkan. Tidak ada salahnya jika generasi tua menerapkan prinsip bagi calon pasangan hidup anaknya, namun pikirkan juga dampak/akibat dari terlalu kolotnya penerapan peraturan itu. Misalnya, ada orangtua yang terlalu kolot menerapkan aturan bagi calon pasangan hidup bagi anaknya sampai hal-hal tersier pun disoroti/dikomentari, misalnya: banyak jerawat, shionya babi (penidur), dll. Kalau untuk hal-hal tersier disoroti, mengapa orangtua tidak memikirkan dampak/akibat dari konsep kekolotannya tersebut? Benarkah hal-hal tersebut dilakukannya demi kebaikan si anak? Akibat dari terlalu kolotnya penerapan konsep tersebut adalah si anak lama-kelamaan menjadi frustasi dan tidak menutup kemungkinan menjadi seorang homo/lesbian. Bukankah yang lebih menderita adalah si orangtua yang katanya selalu memikirkan yang terbaik untuk anaknya?

Saya akan memberikan contoh praktis yang saya ambil dari sebuah film anak muda Indonesia (saya lupa judul filmnya) di sebuah stasiun televisi. Meskipun hanya sekadar film, biarlah film ini juga mengoreksi kita. Film ini bercerita tentang dua anak muda (cowok dan cewek, sebut saja misalnya: A dan B) yang saling mencintai, namun ibu mereka tidak merestui. Ketika ditanya alasannya, ibu-ibu mereka hanya berkata “TIDAK BOLEH.” Alhasil, mereka berpisah untuk beberapa lamanya. Namun, karena cinta, mereka akhirnya bersatu kembali dan menemukan apa sebenarnya alasan di balik penolakan ibu mereka. Teman-teman mereka membantu mencari tahu alasan mereka. Namun di sisi lain, si A dan B (dengan sepengetahuan teman-teman mereka) merencanakan untuk kabur dari rumah masing-masing. Salah satu teman A (teman A ini saya ibaratkan: D) berbincang-bincang dengan ibu si A, akhirnya ibu si A menceritakan bahwa pada waktu SMA, ibu si A ini, ibu si B, dan satu cewek lagi berebut mendapatkan seorang cowok tampan di sekolahnya (misal: X). Ibu si A dan ibu si B ini saling sikut-menyikut dalam menarik perhatian si X. Alhasil, mereka gagal mendapatkan si x. Dendam antara ibu A dan ibu B terbawa sampai mereka telah memiliki anak. Lalu, teman-teman si A dan B ini membohongi ibu A dan ibu B bahwa A dan B pergi jauh untuk bunuh diri, karena cinta mereka dihalang-halangi. Padahal sebenarnya mereka kabur untuk pergi ke pantai, tempat mereka biasanya bertemu. Akhirnya ibu A dan ibu B sama-sama menangis dan di akhir cerita, ibu A dan ibu B insyaf bahwa dendam di antara mereka mengakibatkan keburukan pada hubungan cinta anak-anak mereka.

Meskipun ini hanya kisah fiktif di dalam sebuah film, tetapi saya percaya, seorang sutradara film membuat film ini bukan tanpa pesan yang hendak disampaikan. Pesan yang hendak disampaikan di dalam film ini adalah pikirkan akibat dari sebuah konsep yang diterapkan secara kaku dan kolot. Konsep dan prinsip yang tegas perlu ditekankan dan dimiliki, tetapi hendaklah itu tidak diterapkan secara kaku dan kolot (apalagi jika konsep dan prinsip itu tidak sesuai dengan Alkitab) tanpa argumentasi.

Biarlah kita makin lama makin hidup berpusat kepada Kristus dan firman Tuhan, yaitu Alkitab, sehingga hidup kita makin memuliakan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.
ON TRUE LOVE : Kasih dan Pertimbangan
oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia keatas bukit dan setelah Ia duduk….” (Mat. 5:43-48)

Khotbah di bukit merupakan pengajaran Tuhan Yesus yang menyentak. Bukan hanya menyentak orang banyak yang mendengarkan-Nya saat itu, namun menyentak sepanjang sejarah umat manusia. Bukan pula sekadar apa yang disampaikan-Nya menyentak umat manusia, namun peristiwanya sama menyentak pendengarnya. Jikalau Musa menyampaikan hukum TUHAN, Yesus menyampaikan penggenapan hukum TUHAN kepada umat manusia.

Salah satu perkataan-Nya yang menyentak adalah tentang kasih. Yesus bukan mengulang-ulang perintah tentang kasih, sebaliknya Ia menyampaikan perintah kasih dalam penggenapannya. Inilah perintah-Nya supaya kita mengasihi seperti Bapa di surga mengasihi. Kita mengasihi bukan untuk mendapatkan balasannya. “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah upahmu?” Mengasihi bahkan kepada musuh dan orang yang menganiaya kita.

Suara itu berkumandang di bukit. Suara itu berkumandang lagi bagi kita saat ini. Hati kita bertanya, apa dasarnya kita mengasihi seperti yang dinyatakan Tuhan Yesus ini? Inilah dasarnya, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (5:45).

Hati kita bertanya lagi, apakah kasih tidak perlu ada pertimbangan? Apakah kasih tidak memperhitungkan jahat dan baik, benar dan tidak benar?

Sebagian pemikir Kristen menyatakan bahwa inilah kasih agape. Kasih yang “equal regards,” kasih yang mempertimbangkan semua orang patut diperlakukan sama. Kasih kepada semua orang tanpa memandang muka. Kasih sebagaimana Bapa di sorga, dinyatakan kepada semua orang, baik orang yang jahat dan orang baik, baik orang yang adil (just) maupun orang yang tidak adil (unjust).

Sebagian pemikir Kristen lainnya berpendapat kasih tetap ada pertimbangannya. Kasih kepada orang tua kita sendiri bagaimanapun berbeda dengan kasih kepada semua orang tua lainnya. Demikian pula kasih kepada suami atau istri sendiri, jelas berbeda dengan kasih kepada laki-laki atau perempuan lainnya. Menurut mereka bukankah TUHAN juga membedakan antara domba dan kambing.

Kalau kita mengasihi tanpa pertimbangan, maka kasih kita sebenarnya adalah kasih yang impersonal, tidak bersifat pribadi. Kita menganggap semua orang sama, maka kita tidak memperlakukan mereka sebagai satu pribadi.

Bagaimana kita sepatutnya memahami ayat 45?

1. “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”

Apa artinya kita mengasihi bahkan terhadap musuh? Terhadap orang-orang yang tidak adil dan tidak benar? Kita banyak kali terpaku pada obyek kasih, yaitu orang benar dan tidak benar, orang yang adil dan tidak adil. Kita mengabaikan tindakan Bapa di sorga, yaitu menerbitkan matahari dan menurunkan hujan. Bagi kita, terbitnya matahari setiap pagi dan hujan yang turun pada musimnya, merupakan hal yang biasa. Padahal tidaklah demikian bagi kehidupan kita. Bayangkan kita bangun setelah melewati malam yang gelap, tanpa matahari yang bersinar. Bayangkan pula sepanjang tahun demi tahun tanpa hujan yang turun. Demikianlah yang ditegaskan dalam Perjanjian Lama.

“Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.” (Im. 26:3-4)

Hujan merupakan keniscayaan bagi bangsa Israel sebagai bangsa agraris. Tanpa hujan tidak ada kehidupan. Hujan sekaligus yang terpenting, menyatakan kasih dan kebaikan TUHAN. Hujan tanda berkat dalam ketaatan umat kepada TUHAN. Hujan tanda keberhasilan selanjutnya, karena tanah akan menghasilkan buahnya.

Maka “menurunkan hujan” bukanlah sekadar pekerjaan TUHAN yang biasa saja. “Menurunkan hujan” adalah tanda bahwa TUHANlah pencipta, penguasa dan sekaligus pemelihara dunia buatan tangan-Nya. Bahasa moderen kita menjauhkan kita dari kesadaran ini. Terbitnya matahari dan turunnya hujan dipahami hanya dengan bahasa keilmuan. Kita dibuat lalai mengagumi kasih karunia Pencipta kita.

Maka sekalipun TUHAN menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi semua orang, tidak berarti tindakannya ini boleh dipahami ala kadarnya saja. Tindakan pemeliharaan TUHAN bagi orang jahat dan orang yang tidak adil tidak hanya membuat mereka menikmati segarnya air hujan dan cerahnya sinar matahari, namun sekaligus merupakan tanda peringatan. Peringatan yang membuat mereka tidak dapat melarikan diri dari tanggung jawab atas ketidak adilan mereka, atas kejahatan mereka di hadapan TUHAN Pencipta langit dan bumi.

Hujan dan matahari diterima semua orang tanpa memandang muka. Namun kenikmatannya tentu berbeda. Anak-anak Bapa di sorga bukan hanya menerima hujan dan matahari namun dengan pengakuan dan pengucapan syukur kepada si Pemberi, mereka menikmati kelimpahan-Nya. Mereka yang “take-it-for-granted” mendapatkan hujan dan matahari namun kehilangan kelimpahan-Nya.

2. “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”

Bagaimana pula kita mengasihi tanpa mengharapkan imbalannya? Mari kita perhatikan kembali apa yang dikatakan Perjanjian Lama tentang tindakan menerbitkan matahari dan menurunkan hujan.

Perjanjian Lama menggambarkan kedua tindakan TUHAN ini: “menerbitkan matahari dan menurunkan hujan” berkaitan dengan gambaran seorang raja yang berkenan kepada TUHAN.

“Kiranya lanjut umurnya selama ada matahari, dan selama ada bulan, turun-temurun! Kiranya ia seperti hujan yang turun ke atas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi! Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!” (Mzm. 72:5-7)

Mazmur 72 adalah Mazmur Salomo. Mazmur pengangkatan seorang raja yang memulai pemerintahan dengan permohonan kepada TUHAN untuk mengaruniakan kepada raja keadilan dan kebenaran. Jelaslah bahwa bukan raja yang mampu menerbitkan matahari dan menurunkan hujan. Demikian pula matahari dan hujan bukanlah suatu upah bagi kebajikan. Matahari dan hujan merupakan lambang bagi keadilan dan kebenaran yang dijalankan raja sesuai dengan keadilan dan kebenaran TUHAN. Keadilan dan kebenaran bagi seluruh rakyat, tidak memandang muka orang kaya dan orang miskin. Keadilan dan kebenarannya memancar untuk yang tertindas demikian pula untuk yang menindas.

Inilah panggilan kita mengasihi sebagaimana bapa di sorga. Kasih yang digenapi oleh kedatangan Yesus Kristus, adalah kasih yang menyatakan kekuatannya. Bukan kasih yang tersungkur tak berdaya di hadapan orang jahat dan orang yang tidak adil. Bukan kasih yang “lelah” di hadapan orang-orang yang tidak peduli.

Kasih yang digenapi oleh Tuhan Yesus bukan soal pertama-tama soal obyek yang dikasihi, melainkan soal keunikan dan kesejatian kasih itu. Kasih di dalam Yesus Kristus adalah kasih yang sanggup menghadapi orang benar dan tidak benar, orang jahat dan orang yang baik. Berbahagialah kita yang menerima kasih itu dalam keadilan dan kebenaran-Nya, sehingga kita boleh mengalami kelimpahannya dan menyalurkannya kepada segala macam orang di dunia ini. Sebaliknya mereka yang telah beroleh kebaikan Tuhan namun tetap menolaknya dalam kejahatan, mereka tidak dapat mengelak ketika keadilan Tuhan tiba.

Selamat mengasihi dengan kasih yang digenapi oleh Yesus Kristus di kayu salib!

Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=28:kasih-dan-pertimbangan&catid=25:on-true-love&Itemid=39
ON TRUE LOVE : Kasih dan Perkataan
oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)

“But speaking the truth in love, we are to grow up in all aspects into Him who is the head, even Christ,” (Eph. 4:15)

Kasih dan perkataan tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana kasih tampak dalam sikap dan tindakan, demikian pula kasih tampak ketika kita memperkatakan kebenaran. Kasih tidak akan tega untuk memperkatakan kebenaran tanpanya, dan tidak akan sanggup memperkatakan ketidakbenaran dengannya.

Kasih dan perkataan kebenaran berjalan seiring. Kenyatannya jelas tidak mudah apalagi di dalam dunia yang berdosa, namun itulah panggilan kita sebagai gereja yang bertumbuh kearah Kristus.

Bukankah kita yang sering kita temui adalah kasih justru lebih mudah berlangsung tanpa kebenaran? Bukankah lebih mudah kasih berwujud dengan memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan? Kasih bukankah lebih dekat dengan kebebasan untuk berbuat apa yang kita inginkan?

Perkataan kebenaran kesannya lebih kepada aturan, hukum dan komitmen. Bagaimana itu bisa sejalan dengan kasih?

Mari kita tengok satu masa dalam kehidupan bangsa Israel sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Hakim-Hakim. Kitab ini ditutup dengan pernyataan “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (“In those days there was no king in Israel; everyone did what was right in his own eyes,” 21:25)

Kesimpulan ini pertama-tama menjelaskan pasal 21 tentang kelakuan suku Benyamin. Krisis besar menimpa keutuhan bangsa Israel. Kelakuan suku Benyamin mengakibatkan ancaman peperangan di antara mereka, bahkan hampir saja suku ini dibuang dari kesatuan bangsa Israel. Apa kelakuan suku Benyamin yang menimbulkan krisis besar bahkan memberikan kesimpulan pada ayat terakhir kitab ini?

Kelakuan suku Benyamin dinyatakan mulai pasal 19. Peristiwa yang keji dan menyedihkan terjadi di kota Gibea, daerah suku Benyamin (19:14). Penduduk kota itu dikatakan sebagai orang-orang dursila (19:22). Mereka bertindak tidak lagi seperti umat Allah seharusnya. Sebaliknya mereka bersikap dan bertindak seperti orang-orang kota Sodom. Mereka mengepung rumah yang dikunjungi seorang Lewi dengan gundiknya (19:1). Mereka bermaksud untuk merampas dan ‘memakai’ orang asing yang menumpang itu. Si pemilik rumah tidak mengijinkan penduduk kota itu berbuat jahat kepada tamunya. Ia menawarkan anak perempuannya untuk diperlakukan apa saja yang mereka pandang baik (19:24). Penduduk kota Gibea menolak. Akhirnya tamu itu menyerahkan gundiknya. Kemudian mereka memperkosa gundik itu sampai akhirnya mati menjelang pagi (19:28). Selanjutnya peristiwa ini disusul dengan kekejian yang menggetarkan seluruh Israel.

Peristiwa yang mengerikan itu menyisakan suatu gema perkataan, “Perbuatlah apa yang kamu pandang baik.” Inilah yang menghantar kita memahami kesimpulan kitab Hakim-Hakim.

Tuan rumah di Gibea yang dengan baik hati menampung tamunya bahkan rela mengorbankan anak gadisnya demi keselamatan tamu dan gundiknya itu.

Tuan rumah bersedia berkorban demi tamunya. Namun berhadapan dengan orang dursila di kota Gibea di daerah Benyamin, tidak tepat menyuarakan perkataan “perbuatlah apa yang kamu pandang baik.” Bahkan ketika kita mempertegas lagi, apakah ada manusia yang berhak menyuarakan perkataan itu sekalipun alasannya karena kasih?

Perkataan ini menggemakan suara yang sama dengan peristiwa yang mirip, yaitu peristiwa di kota Sodom. Lot, keponakan Abraham yang memilih tinggal di Sodom, kedatangan tamu di rumahnya. Penduduk kota menyerbu dan memaksa Lot untuk menyerahkan tamunya kepada mereka. Lot bersedia mengorbankan anak gadisnya demi keselamatan tamunya. Dan Lot berseru kepada orang-orang itu, “perbuatlah kepada mereka [anak gadisnya] seperti yang kamu pandang baik.” (Kej. 19:8). Suara ini berkumandang, di dengar oleh kedua anak gadisnya, namun dilecehkan oleh penduduk Sodom (Kej. 19:9).

Perkataan itu diucapkan dengan maksud melindungi dan menyelamatkan orang asing. Suatu perbuatan yang mulia. Namun apakah perkataan itu sesuai dengan maksud yang baik?

Dari rumah Lot, perkataan itu bergema. Akibat yang pertama tampak dari keberanian anak gadisnya untuk bersetubuh dengan ayahnya setelah mereka diselamatkan dari kehancuran kota Sodom dan Gomorah (Kej. 19:33).

Dari rumah di Gibea, perkataan itu bergema. Akibat kedua tampak dengan kekejaman penduduk Gibea yang membawa ancaman peperangan antara suku Benyamin dengan suku-suku Israel.

Kasih dan perkataan. Bagaimana perkataan yang sejalan dengan kasih yang sejati? Apakah kasih memperbolehkan kita berbuat apa saja yang kita pandang baik?

Perkataan itu disimpulkan diakhir kitab Hakim-Hakim. Ketika manusia tidak lagi mengindahkan kebenaran TUHAN, tunduk kepada kedaulatan-Nya, manusia berbuat apa saja yang dipandangnya baik, maka kasih menguap.

Puji Tuhan, kisah zaman Hakim-Hakim tidak berakhir disana. “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Bethlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagi orang asing.” (Rut 1:1)

Pada zaman para hakim, zaman yang menggemakan suara Lot, ada seorang perempuan tua yang kehilangan suami dan kedua anak laki-laki di tanah asing, di tanah Moab. Tanah Israel, tanah kelahirannya sedang dilanda kelaparan. Kekeringan menandai tanah Israel sekaligus menandai kekeringan rohani mereka. Perempuan tua itu adalah Naomi. “Sebutkanlah aku Mara,” katanya ketika ia kembali ke tanahnya di Israel. Mara adalah kepahitan. Kepahitan kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Tiada kata lain yang dapat ia ucapkan kecuali Mara.

Kata-kata Naomi mengungkapkan kepahitannya. Kasih seolah-olah lenyap. Ia kembali. Apakah berakhir kisah yang menyedihkan ini sehingga menambah ‘kegelapan’ zaman para hakim? Tidak!

Naomi ketika ia kembali ke Bethlehem, ia tiba “pada permulaan musim menuai jelai.” (1:22). Suatu permulaan yang baik. Masih ada kasih karunia TUHAN baginya. Bukan itu saja, Naomi tidak kembali seorang diri. Salah seorang menantunya, Rut, seorang perempuan keturunan Moab turut bersamanya. Apa kepentingan peristiwa ini?

Rut tidak sekadar menyatakan kesetiaan dengan tindakannya mengikut mertuanya. Namun terlebih lagi ia memulai tindakannya dengan perkataannya,“Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (1:16-17)

Suara Rut seumpama cahaya lilin dalam kegelapan. Suara seorang perempuan Moab, keturunan Lot dan anak perempuannya. Suara yang membalikkan gema suara Lot. Suara yang mengungkapkan kasih yang sejati, kasih di dalam perjanjian (covenant). Kalimat Rut yang diucapkannya kepada Naomi adalah ucapan perjanjian. Ia bersedia bersama (be-with) dengan mertuanya dalam tanah yang dipijaknya, dalam iman kepada Allah yang sejati, dan tetap bersama sampai akhir perjalanan hidupnya. Kasih yang sejati adalah kasih yang dinyatakan dalam kedatangan Yesus Kristus, Imanuel, Allah beserta kita. Ia berkenan beserta dengan kita!

Kasih tidak mudah hanya diukur dengan kata-kata yang manis. Kasih tidak semata-mata sama dengan kata-kata yang memperbolehkan segala sesuatu. Kasih adalah perkataan kebenaran yang bersedia dinyatakan dengan kerelaan bertumbuh bersama dalam kasih Kristus. Kasih yang rela tunduk dalam kebenaran Tuhan.

Nyatakanlah kasih itu dalam kebersamaan baik dalam kehidupan keluarga, gereja maupun di dunia ini.

Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=27:kasih-dan-perkataan&catid=25:on-true-love&Itemid=39

Kamis, 29 April 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 5:6-8

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Nats: 1 Korintus 5:6-8

Di bagian sebelumnya Paulus sudah mengambil sikap tegas terhadap orang yang melakukan percabulan terus-menerus (5:1), yaitu menyerahkan dia ke dalam tangan iblis (5:4-5). Tindakan ini terpaksa diambil Paulus karena jemaat Korintus tidak mau menjauhkan orang itu dari tengah-tengah mereka (5:2b), bahkan mereka membanggakan hal itu (5:2a). Nah, di 5:6-8 Paulus memberikan alasan atau dasar mengapa ia melakukan disiplin gereja yang keras seperti ini.

Alasan yang dia berikan dikemukakan dalam bentuk metafora yang cukup dikenal oleh jemaat Korintus. Satu dari metafora umum (5:6), sedangkan yang lainnya berasal dari konteks hari raya orang Yahudi (5:7-8). Melalui dua metafora ini Paulus ingin menyatakan bahwa seorang pezinah dapat membawa pengaruh buruk bagi seluruh tubuh Kristus (5:6). Di samping itu, orang Kristen memang ibarat roti yang tidak beragi, sehingga harus menghilangkan semua ragi yang ada dalam diri mereka (5:7-8).

Ragi yang Sedikit Dapat Mengkhamirkan Seluruh Adonan (ay. 6)

Dalam teks Yunani, ayat ini dimulai dengan kata “tidak baik”, seakan-akan Paulus ingin menekankan keburukan dari sikap menyombongkan dosa di ayat 2a (“tidak baik kesombonganmu itu!”). Jika kita mengamati seluruh argumen Paulus di 5:1-13, maka kita akan melihat bahwa yang ditekankan Paulus memang bukan dosa percabulan yang dilakukan, tetapi sikap jemaat Korintus yang salah terhadap dosa itu. Paulus tidak hanya mengatakan bahwa kesombongan itu salah (5:2), tetapi juga tidak baik (5:6). Kata “baik” di sini sebaiknya tidak dipahami dalam konteks moral (salah atau benar), tetapi nilai atau manfaat dari tindakan tersebut. Hal ini didukung oleh pemakaian kata “baik” di 7:1 (“adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin”), 7:8 (“orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda...baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku”), 7:26 (“adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya”).

Mengapa kesombongan jemaat Korintus tidak baik? Karena kesombongan itu dapat membawa pengaruh yang buruk bagi seluruh jemaat. Hal ini diungkapkan Paulus melalui sebuah ungkapan “sedikit ragi dapat mengkhamirkan seluruh adonan”. Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari memberi keterangan bahwa ungkapan ini adalah sebuah peribahasa. Sekalipun kata “peribahasa” tidak muncul dalam teks Yunani, tetapi apa yang dikatakan Paulus memang sebuah peribahasa.

Peribahasa di 5:6 tampaknya sangat terkenal. Pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu...?” di ayat ini menyiratkan bahwa jemaat pasti mengetahuinya. Beberapa sumber kuno juga memberi bukti bahwa peribahasa ini dapat ditemukan dalam tulisan Yunani-Romawi maupun Yahudi. Dalam Alkitab peribahasa ini sempat disinggung beberapa kali. Yesus menasehatkan murid-murid untuk mewaspadai ragi orang Farisi (Mat. 16:6//Mrk. 8:15). Paulus pun menggunakan peribahasa ini di suratnya yang lain (Gal. 5:9). Philo – seorang penafsir Yahudi terkenal pada abad ke-1 - memakai gambaran ragi untuk kesombongan, karena ragi dapat membuat roti menjadi mengembang. Nabi Hosea pernah memakai gambaran yang sama untuk dosa perzinahan.

Ragi yang dimaksud Paulus bukanlah ragi yang baru yang biasanya dipakai untuk membuat roti (bahasa Inggris “yeast”, kontra NIV). Kata Yunani zume merujuk pada sisa adonan yang dicampur untuk membuat adonan yang baru (bahasa Inggris “leaven”, bdk. ASV/KJV/RSV/NASB). Sering kali adonan seperti ini dicampur dengan jus tertentu, sehingga menimbulkan rasa sedikit asam. Dari sisi kebersihan, campuran sisa adonan yang lama dapat membawa pengaruh buruk bagi kesehatan.

Melalui peribahasa di atas Paulus mengajarkan bahwa sedikit ragi (satu orang yang berbuat dosa) dapat mengkhamirkan seluruh adonan (seluruh jemaat). Bagaimana tindakan satu orang dapat membawa pengaruh buruk bagi seluruh jemaat? Paulus sangat mungkin memikirkan dua hal: (1) tindakan tersebut menyebabkan gereja kehilangan kesaksiannya, apalagi kalau hal itu sudah diketahui oleh banyak orang (5:1); (2) tindakan ini dapat menyebabkan orang lain tergoda untuk menirunya (15:33).

Semua Ragi Harus Dibersihkan Supaya Ada Adonan Baru yang Tanpa Ragi (ay. 7-8)

Dari peribahasa umum di ayat 6, Paulus sekarang berpindah ke metafora dari hari raya orang Yahudi yang masih berkaitan dengan persoalan ragi, yaitu Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Paskah. Dua hari raya ini memang saling berkaitan. Pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir mereka harus menyembelih domba untuk dioleskan di pintu rumah mereka sehingga dilewati (passover atau Paskah) oleh malaikat kematian dan mereka harus cepat-cepat meninggalkan tanah Mesir sambil memakan roti tidak beragi (Kel. 12). Dalam Markus 14:12 waktu penyembelihan domba Paskah disebut sebagai hari pertama Perayaan Roti Tidak Beragi.
Sebelum Hari Raya Roti Tidak Beragi dimulai, semua orang Israel harus membersihkan seluruh rumah mereka dari segala macam sisa ragi (Kel. 12:15, 18-19; 13:7; Ul. 16:4). Jika ada yang melanggar perintah ini, maka orang itu akan dilenyapkan dari tengah bangsanya. Sebuah tradisi bahkan menyebutkan tindakan ekstrim orang Yahudi yang sampai membersihkan lubang atau rumah tikus untuk memastikan tidak ada ragi dalam rumahnya. Walaupun kebenaran dari tradisi ini dapat dipertanyakan, namun penghormatan orang Yahudi terhadap hari raya ini tidak dapat disangsikan lagi. Hal inilah yang dipakai Paulus untuk menyampaikan pendapatnya di 5:7a.

Walaupun di ayat 7a Paulus mengatakan “buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru”, tetapi di ayat 7b dia dengan segera menambahkan “karena kamu memang tidak beragi”. Tambahan ini sangat penting. Orang percaya harus membuang ragi yang lama bukan supaya menjadi adonan baru, tetapi mereka harus membuang ragi yang lama karena mereka memang adalah tidak beragi. Jika ini tidak dipahami maka akan muncul kesan bahwa hidup kita yang tanpa ragi adalah karena usaha kita menyingkirkan ragi yang lama. Ini jelas salah! Di akhir ayat 7 Paulus mengatakan bahwa darah Kristuslah yang menjadi dasarnya.

Melalui karya penebusan Kristus orang percaya dikuduskan (6:11), sehingga status mereka berpindah dari orang berdosa menjadi orang kudus (1:2), bahkan menjadi bait Allah yang kudus (3:16-17). Karena kita sudah dikuduskan oleh darah Kristus, maka tidak boleh ada ragi sedikit pun dalam hidup kita.

Dengan menyebut Kristus sebagai anak domba Paskah, Paulus mengajarkan bahwa Paskah Kristiani berakar dari tradisi Paskah Yahudi pada waktu mereka dilepaskan dari kematian karena darah domba yang dioleskan di pintu rumah mereka. Kalau di peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir Paskah lebih dipahami dalam konteks keselamatan, maka pada zaman selanjutnya Paskah juga dimengerti dalam konteks penyucian dosa (Yeh. 45:18-22).

Pada zaman PB Yesus disebut sebagai anak domba Allah (Yoh. 1:29, 36). Kematian-Nya pada saat Paskah mempertegas bukti bahwa penebusan-Nya berfungsi sama dengan (atau bahkan melebihi) darah domba Paskah. Yesus sendiri pada waktu merayakan Paskah mengatakan bahwa darah-Nya adalah darah perjanjian yang baru (Mrk. 14:24).

Dengan menghubungkan pembuangan ragi dengan darah Kristus, Paulus telah mengajarkan sesuat yang penting: theologi harus menjadi dasar bagi etika. Agama lain menekankan bahwa etika (kebaikan atau kesalehan) adalah lebih penting atau dasar dari theologi (keselamatan).

Dalam Kekristenan urutannya dibalik. Kita berbuat baik (etika) karena sudah diselamatkan (theologi). Sama seperti jemaat Korintus harus membuang ragi yang lama karena mereka memang roti yang tidak beragi.

Di 5:8 Paulus memberi nasehat agar jemaat berpesta dengan ragi yang baru. Kata “berpesta” di ayat ini berbentuk present tense, sehingga menunjukkan tindakan yang terus-menerus. Karya Kristus memang harus terus menjadi fokus dalam hidup kita. Kita bukan hanya mengingatnya, tetapi juga merayakannya. Ide tentang pesta mengindikasikan adanya sukacita. Sukacita kita bukanlah ketika melihat orang lain melakukan suatu dosa (bdk. 5:2). Sukacita kita bersumber dari karya Kristus. Dengan selalu merayakan karya Kristus kita akan dikuatkan untuk menjauhi dan tidak berkompromi dengan dosa. Sayangnya, tidak semua orang percaya merasa sukacita dengan status mereka yang kudus di dalam Kristus. Mereka mengangga ini sebagai sebuah beban, padahal Yesus sendiri mengatakan bahwa kuk yang Dia pasangkan di pundak kita adalah enak dan ringan (Mat. 11:29-30). Dia bahkan menawarkan kelegaan bagi mereka yang letih dengan beban yang ditaruh orang Farisi melalui ajaran agama mereka (Mat. 11:28). Orang percaya sering kali merasa tidak nyaman dengan status mereka karena kedagingan mereka merasa tidak diuntungkan. Mereka harus mengalah (bukan mengalahkan), melayani (bukan dilayani), dsb. Pesta yang dimaksudkan oleh Paulus di ayat 8a harus menjadi pesta yang tanpa ragi (ay. 8b).

Sama seperti pada Hari Raya Roti Tidak Beragi semua ragi harus disingkirkan, demikian pula kita harus membuang semua ragi yang lama, yaitu kejahatan (kakia) dan keburukan (poneria). Dua kata ini sebenarnya sinonim, namun dipakai bersama-sama untuk memberi penekanan bahwa semua dosa (bukan hanya perzinahan) harus dibuang dari hidup kita. Kita tidak boleh menyimpan dosa tertentu yang masih kita sukai.

Di akhir ayat 8 Paulus menambahkan bahwa pesta ini harus menggunakan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian (eilikrineia) dan kebenaran (aletheia). Kata eilikrineia hanya muncul dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus. Kata ini selalu memiliki arti “kemurnian hati” dalam arti motivasi yang benar (semua versi Inggris memakai kata “sincerity”). Kata aletheia sering muncul dalam tulisan Paulus dan merujuk pada kebenaran Injil atau sikap hidup yang sesuai dengan kebenaran Injil (2Kor. 4:2; 6:7; 13:8). Dengan menggabungkan eilikrineia dan aletheia Paulus tampaknya ingin menegaskan bahwa hidup kita harus benar-benar bersih dari semua ragi, baik motivasi kita maupun tindakan kita.

Dalam sebuah persekutuan orang percaya (jemaat atau gereja) prinsip ini juga tetap perlu dipegang. Sebagai tubuh Kristus kita tidak boleh berkompromi dengan dosa apa pun yang ada dalam gereja. Kita harus berdukacita karena dosa tersebut. Kita perlu membiasakan diri saling menegur di dalam kasih. Jika semua ini tetap tidak membuat seseorang bertobat, maka gereja harus mengambil sikap tegas dengan cara menjauhkan orang itu dari tengah-tengah jemaat.
KEKRISTENAN DAN ILMU-ILMU ALAM

oleh: Ev. R. B. G. Steve Hendra, S.T., M.Div.

Banyak orang berkata dewasa ini, bahwa ada suatu jurang raksasa antara Agama dan Ilmu Pengetahuan, yang tidak mungkin dijembatani oleh siapa pun. Jurang ini menurut mereka sangat besar, khususnya jika kita berbicara tentang ilmu-ilmu alam. Dibandingkan Agama semua yang ada dalam ilmu-ilmu alam nampak begitu jelas dan tertentu. Maka jika semua sudah begitu pasti, apa perbedaan yang dapat kita buat dengan Kekristenan? Apakah kita Kristen, Islam, Buddha atau bahkan Ateis, hal itu tidak ada pengaruhnya dalam ilmu-ilmu alam. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, tidak tergantung apakah kita seorang Kristen atau bukan. Tetapi apakah benar, bahwa Agama tidak ada perannya dalam ilmu-ilmu alam? (Pada tulisan ini saya membatasi diri hanya pada Kekristenan, khususnya pada Theologi Reformed, yang saya dalami. Alasannya adalah ada banyak agama dan theologi yang saya tidak di dalamnya).

Di sini kita harus pertama-tama menjelaskan arti dari beberapa ungkapan, sebelum saya dapat menunjukkan posisi saya dan menjawab pertanyaan tersebut. Setelah saya memberikan jawaban saya, saya akan menyatakan ide integrasi saya antara Kekristenan dan ilmu-ilmu alam.

Sebelum saya mulai, ijinkan saya mengajukan pertanyaan yang bagi saya mengganggu. Pertanyaanya adalah sebagai berikut: Jika memang benar bahwa agama tidak mempunyai peran dalam ilmu-ilmu alam, mengapa banyak ilmuwan yang atheist mengambil posisi religius sebagai Atheist? Dan mengapa mereka harus memperjuangkan posisi religiusnya dalam ilmu-ilmu alam? Jika tidak ada relasi antara keduanya, mengapa mereka melakukannya? Di sini saya cuma mencoba menunjukkan bahwa anggapan tersebut adalah suatu kesalahan. Ada suatu relasi yang penting diantara keduanya. Tapi relasi seperti apa? Kita akan membicarakannya dan saya menyumbangkan ide saya untuk menyelesaikan masalah ini.

I. Penjelasan dari Ungkapan-ungkapan Ilmu Pengetahuan.

Ilmu pengetahuan kita mengerti sebagai suatu Disiplin, yang mengandung banyak data dan memahaminya dalam suatu relasi tertentu, untuk menjelaskan realitas. Untuk tujuan ini orang menggunakan di dalamnya banyak anggapan, teori, paradigma, dll. Ilmu pengetahuan berkembang melalui suatu prosedur tertentu, yang disebut metode ilmiah. Ilmu pengetahuan membatasi diri pada bidangnya. Karena pengertian-pengertian ini orang dapat mengatakan bahwa suatu teori dalam suatu ilmu pengetahuan lebih baik, (1) jika dia dapat menjelaskan banyak kejadian, (2) jika dia dapat meramalkan banyak kejadian yang akan terjadi di masa datang, dan (3) jika dia dapat dikembangkan.


Teori. Teori adalah suatu formulasi penjelasan terhadap suatu kenyataan tertentu yang dibangun secara sengaja dalam ilmu pengetahuan. Suatu teori mengaju pada suatu tahap penjelasan tertentu, yang kebenarannya sudah diuji melalui cara tertentu, yaitu Metode Ilmiah. Jika Axioma karena mengacu pada suatu kenyataan sederhana yang bersifat teruji dengan sendirinya, sebaliknya untuk menjelaskan kenyataan yang rumit orang harus memformulasikan teori dan mengujinya. Untuk membangun teori, orang tidak dapat berurusan dengan data-data saja, melainkan logika, worldview dan semangat zaman memainkan peranan penting di dalamnya. Suatu teori lebih pasti daripada hipotesa tetapi kurang pasti jika dibandingkan hukum atau axioma.

Paradigma. Suatu teori, yang dibangun dan diterima, tergantung juga pada paradigma-pradigma yang berlaku dalam ilmu pengetahuan tersebut. Paradigma pada dasarnya juga adalah teori, yang kebenarannya sudah diterima secara luas.

Alam. Alam dimengerti para ilmuwan sebagai suatu kombinasi dari hukum-hukum, yang sudah pasti dan berlaku untuk menata semua kenyataan dalam alam semesta. Tetapi jika mereka mendapati sesuatu yang tidak taat kepada hukum tadi, mereka menyebutnya “kenyataan.” Di sini jelas bagi kita, bahwa kenyataan dan alam di kalangan ilmuwan berbeda, dan arti dari kata “kenyataan” lebih luas daripada arti dari kata “alam.” Hal ini perlu diperhatikan di sini.

Agama. Agama bagi saya adalah kata yang mempunyai beberapa arti. “Agama” dapat mengacu pada Institusi yang memiliki kitab suci, nabi, pengikut yang percaya, dll. Pengertian lain dari kata tersebut adalah suatu iman yang dipegang kuat dan menurutnya seseorang mengarahkan hidupnya. Atheisme termasuk juga dalam pengertian yang kedua. Jika saya mengatakan bahwa saya adalah seorang Kristen, maka kalimat saya mengacu pada pengertian kedua dari kata “agama.” (Saya juga mengerti disini, bahwa jika saya seorang Kristen, maka saya termasuk dalam bagian dari Kekristenan sebagai suatu Institusi.) Iman kepercayaan tersebut bagi theologi Reformed berasal dari sense of divinity, yang dimiliki semua manusia sebagai ciptaan yang dicipta menurut gambar Allah. Tidak ada orang yang dapat hidup tanpa kepercayaan seperti itu.

II. Jawaban dari Pertanyaan

Pertanyaannya di sini berbunyi, Apakah ada suatu relasi antara agama dan ilmu alam. Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan membatasi diri pada pengertian kedua dari kata “Agama.” (Saya akan membicarakan tentang pengertian yang pertama pada edisi yang lain).

Jika seandainya dalam ilmu-ilmu alam hanya mengenai axioma-axioma, mungkin akan tidak ada perbedaan apakah kita Kristen atau bukan. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, apakah kita Kristen atau bukan. Tetapi dalam kenyataannya ilmu pengetahuan tidak hanya berkenaan dengan axioma, tetapi juga teori-teori, paradigma-paradigma, dll, untuk menjelaskan realitas. Saya sudah mengatakan di atas, bahwa pembangunannya tidak netral, melainkan berpihak pada berbagai aspek, yang terdiri dari iman kepercayaan, worldview, tujuan, dll. Di sini para ilmuwan tidak hidup dalam Getto, melainkan dalam suatu masyarakat, yang di dalamnya mereka saling bertukar hal-hal tersebut dengan anggota masyarakat yang lain.

Sebenarnya sudah jelas, bahwa ilmu-ilmu alam hanya dapat memberikan penjelasan dari kenyataan-kenyataan menurut bidangnya masing-masing. Maka penjelasan mereka tidak pernah sama kuatnya dengan kenyataan-kenyataan tersebut, maka orang membutuhkan penerapan dari semua ilmu supaya berfungsi dengan baik dalam kehidupan kita. Selanjutnya kita juga harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan tentang arti dari hidup, moralitas, atau semua pertanyaan metafisik, misalnya mengapa ada suatu aturan demikian dalam alam semesta?, dll. Pertanyaan-pertanyaan ini terkait erat dengan kemanusiaan (sebagai ciptaan menurut gambar Allah, yang dilengkapi dengan karakter “makna” – menurut theologi Reformed) dan religiusitas kita. Jika sejarah ilmu pengetahuan alam diamati dengan seksama, sebenarnya orang dapat melihatnya. Untuk itu saya akan memberikan beberapa contoh di sini:

1. Pada zaman dahulu manusia mengembangkan ilmu-ilmu alam menurut kebutuhan masyarakat. Baik untuk penggunaan praktis maupun religius orang melakukan penelitian, penemuan dalam ilmu pengetahuan. Mereka melakukannya dengan asumsi yang berlaku saat itu, yang oleh kebanyakan dari kita dipandang sebagai Mitos, misalnya, walaupun mereka sudah mengetahui bahwa bumi berbentuk bola orang Yunani tetap berpikir, bahwa ada seorang raksasa yang menopangnya dan dewa-dewa lainnya, sehingga manusia harus bertingkah menurut cara tertentu. Apa yang dapat kita saksikan di sini adalah kenyataan, (1) bahwa ilmu-ilmu alam sejak dari mula tidak dikembangkan dalam Getto, (2) bahwa manusia tidak hanya puas dengan hasil-hasil keilmuan, yang dapat menjelaskan kenyataan-kenyataan secara satuan, melainkan mereka berusaha juga untuk menjelaskan seluruh realitas, walaupun untuk itu mereka harus berspekulasi dengan penjelasan-penjelasan metafisis. (Banyak ilmuwan atheis pun setuju akan hal ini, walaupun mereka juga mengatakan bahwa penjelasan-penjelasan metafisis tersebut harus ditukar dengan penjelasan-penjelasan keilmuan.), (3) bahwa orang menentukan bidang-bidang lain dalam kehidupan manusia, misalnya Etika, Estetika dll., melalui suatu worldview yang merupakan pemahaman terhadap realitas yang utuh.

2. Dalam dunia modern, dimana dapat dikatakan, bahwa banyak mitos yang sudah ditukar dengan penjelasan-penjelasan keilmuan, toh muncul melaluinya banyak mitos baru, misalnya: Keutamaan rasio, alam yang bersifat mekanis, atheisme, dll. Kita dapat melihat bahwa tiga kenyataan tersebut sebenarnya tidak berubah. Tanpa konsep metafisik orang tidak dapat memahami seluruh kenyataan dalam realitas. Untuk hidup manusia membutuhkan bukan hanya memahami alam, melainkan juga kenyataan, supaya mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam hidupnya. Mitos-mitos modern yang baru tersebut memainkan peranan yang besar dalam worldview modern, dan menyebabkan munculnya etika modern, perang modern, eksistensialisme hingga postmodernisme. Saya telah memberikan 2 contoh dari sisi masyarakat, sekarang saya ingin juga memberikan suatu contoh dari seorang ilmuwan.

3. Einstein adalah seorang Ilmuwan modern, yang teorinya menyebabkan lahirnya teori baru yang berkontradiksi dengan worldviewnya yang modern. Dengan pernyataannya “Allah tidak bermain dadu” (1926) dia mempertahankan asumsi-asumsinya terhadap kemunculan teori Kuantum, bahwa alam semesta bersifat panteis dan determinis dan bahwa teori bukan hanya suatu penafsiran dan model dari realitas, melainkan suautu penjelasan yang sejati yang sekuat dan sama dengan hukum-hukum yang berlaku di dalam alam. Asumsi-asumsinya ini dapat ditelusuri dari worldview modern yang berasal dari pembacaan modern1 dari buku “Discours de la Methode” dari Rene Descartes. Untuk memahami konsep Einstein tentang alam secara lebih baik kita juga harus memahami buku “Ethik in geometrischer Ordnung dargestellt” dari Spinoza, karena Einstein mengembangkan konsepnya tentang Alam menurut jalur Spinoza. Pengakuannya pada tahun 1934 kepada Spinoza: “Keyakinan yang terkait dengan perasaan yang mendalam akan suatu nalar yang dipertimbangkan, yang menyatakan diri dalam dunia yang dapat dialami, membentuk pengertian saya tentang Allah; orang dapat mengatakannya juga dalam pengungkapan yang umum sebagai pantheis (Spinoza).”2 Walaupun Einstein seorang Yahudi, Allah yang tidak bermain dadu bukan Allah Abraham, Ishak dan Yakub, melainkan suatu kesimpulan dari pemikiran filsafat, yang seharusnya menjamin kedapat dipahamian alam, menurut Einstein terutama determinisme kausal. Di sini kita dapat melihat sesuatu, bahwa bagi Einstein pun ilmu pengetahuan alam, terutama fisika, bukan hanya berkenaan dengan axioma-axioma, melainkan juga suatu iman kepercayaan, asumsi-asumsi, dll. Iman kepercayaan dan asumsi-asumsi lain tersebut mengarahkan pemahaman seorang ilmuwan tentang kenyataan dalam realitas. Di sini Einstein mengkuatirkan, bahwa tanpa Allah yang demikian tidak ada jaminan apakah esok matahari masih akan terbit. Tanpa jaminan demikian maka apa yang menjadi jaminan ilmu pengetahuan akan ketepatan teori-teorinya?

Dari contoh-contoh yang diberikan kita dapat memahami mengapa para ilmuwan memperjuangkan posisi religius mereka itu. Apa yang sebenarnya terjadi adalah kenyataan bahwa tanpa asumsi-asumsi religius seperti itu pemahaman akan realitas tidak mungkin. Orang tidak dapat mengkaitkan data-data dan axioma-axioma tanpanya, untuk menghasilkan suatu pemahaman. Pemahaman bukan hanya masalah data dan axioma, melainkan relasi antaranya. Melaluinya manusia mengerti bukan hanya apa makna kehidupan, apa yang harus dilakukan dalam kehidupan, melainkan juga apa yang harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan, bagaimana mengembangkannnya lebih lanjut, bagaimana dan di mana manusia menempatkannya dalam kehidupan, dll.

Jika ada suatu relasi yang erat antara ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan alam dan iman, seperti apa relasi tersebut seharusnya? Tidak dapatkan seseorang sekadar mengambil suatu jenis dari relasi-relasi yang ada? Jika saya mengambil suatu relasi, apakah ada akibat teoritis ataupun praktis dalam kehidupan saya? Jika tidak, maka kita dapat sekadar mengambil suatu jenis relasi, yang kita sukai, Tetapi jika ya, maka kita seharusnya dengan hati-hati memilih di antara yang ada, satu untuk diambil.

Relasi tersebut tergantung pada jenis iman yang dimiliki si ilmuwan. Relasi tersebut berbeda-beda menurut worldview yang digunakan ilmuwan untuk memandang segalanya, misalnya, seorang ilmuwan ilmu alam yang atheis, yang percaya bahwa tidak ada Tuhan, akan berpikir bahwa tidak ada relasi ontologis antara ilmu alam yang dia pelajari dan makna hidupnya.
Relasi baginya bersifat praktis, bahwa dia menyukainya dan bekerja dan berkarier. Jika seandainya ada suatu relasi teoritis, alasannya adalah semua manusia melakukannya. Dia akan beranggapan bahwa suatu hukum universal yang berlaku dalam alam dan tugas dari ilmu alam adalah menemukannya. Tetapi darimana hukum itu berasal, mengapa hukum itu demikian, dll., tidak perlu dipertanyakan, Masalah utama yang ada ini menyebabkan dia menjual sifat kesejarahan dari ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu alam tidak dikembangkan dalam Getto, melainkan dalam suatu konteks sosial. Bagaimana penggunaannya? Apa yang boleh dan seharusnya diteliti?, dll. Pertanyaaan-pertanyaan ini tetap akan menjadi pertanyaan-pertanyaan praktis yang tidak mempunyai kekuatan ontologis. Orang harus mentaatinya karena hukum, karena pelanggar akan dihukum. (2) Keutuhan realitas akan tetap tidak terpahami. Walaupun akan selalu ada penemuan ilmu pengetahuan yang baru, toh pertanyaan-pertanyaan berikut tetap tidak terjawab, Apakah sebenarnya manusia itu? Apa makna dari hidup seorang manusia? dll., Apa yang dapat dikerjakan adalah mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mengatakan, bahwa tidak ada pertanyaan seperti itu. (3) Tetapi tanpa pertanyaan seperti itu tidak mudah untuk menyatukan kebenaran-kebenaran estetik, moral, etika, dll., (Mengenai kelemahannya saya tidak membicarakannya di sini.) Tetapi tentu saja dia dapat mengatakan, jika saya harus memikirakn semuanya, maka apa yang harus dikerjakan oleh para Filsuf, Sosiolog, ahli etika dan yang lainnya?

II. Suatu Ide Mengenai Integrasi Filosofis Antara Iman Kristen dan Ilmu-ilmu Alam

Setelah saya memberikan suatu contoh mengenai suatu relasi antara iman percaya dan ilmu-ilmu alam dari worldview atheis, saya akan membicarakan sekarang ide saya sendiri. Seperti yang telah saya katakan dari awal bahwa saya mewakili pandangan Kristen Reformed dan, sejujurnya, bangunan ide saya tentu saja bergantung pada isi iman dan worldview saya. Tetapi hal itu tidak berarti, bahwa saya tidak dapat memberikan pertanggungjawaban secara keilmuan. Mengingat tujuan dari karangan ini saya tidak akan memberikan terlalu banyak penjelasan yang spesifik dan keilmuan.

Alkitab mulai dengan suatu kalimat yang berbunyi, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” dan selalu memaparkan bahwa Allah menjalankan providensi-Nya dalam sejarah manusia dan akan mengakhiri sejarah.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Melalui kalimat ini kita dapat memahami, bahwa ada dasar ontologis bagi ilmu-ilmu alam di sini. Karena ciptaan tidak berasal dari probabilitas, melainkan dari rencana Allah, maka tugas dari ilmu alam dapat dipastikan di sini, yaitu menyingkapkan hukum-hukum Allah yang berlaku dalam Alam. Di sini jelas bahwa tugas dan etika dari ilmu-ilmu alam adalah menyingkapkan dan bukan menetapkan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.

Karena alam (menurut makna di kalangan ilmuwan) juga direncanakan oleh Tuhan dan sama dengan alam (menurut makna yang normal), maka tidak dibutuhkan pembedaan antara “alam” dan “kenyataan,” seperti yang di mengerti dalam konteks ilmu-ilmu alam.3 (Pada konteks yang lain, tentu saja saya mengerti bahwa, “kenyataan” tidak hanya berarti terbatas pada fenomena-fenomena alam saja.) Apa yang harus diubah di sini adalah asumsi yang ada dibelakang kata tersebut, bahwa alam harus berjalan sesuai dengan hukum yang ditemukan oleh para ilmuwan ilmu alam. Tugas yang jelas ini seharusnya menyebabkan, misalnya, bahwa ilmu alam tidak dapat menolak mukjizat dan ilmuwan tidak perlu mengatakan bahwa “Allah tidak bermain dadu” atau “Allah bermain dadu.” Apa yang saya maksudkan di sini seharusnya di kalangan ilmuwan ada suatu keterbukaan terhadap suatu kenyataan yang baru dan menerimanya sebagai bagian dari alam.

Karena alam dicipta oleh Allah dan Allah, sang Pencipta, adalah Allah yang berpribadi dan tritunggal, maka alam, yang diciptakan, pasti merefleksikan ciri-ciri sang Penciptanya. Maka pertama-tama alam bukan hanya telah-ada (atau ada-begitu-saja), melainkan ada-untuk,4 tepatnya, alam bukan hanya semata-mata ada, melainkan alam memiliki suatu makna, suatu fungsi, suatu konteks dan suatu tujuan sebagai sifatnya menurut rencana sang Penciptanya. Adalah kesalahan jika seseorang mengerjakan ilmu-ilmu alam seolah-olah mereka ada di dalam Getto. Kedua alam bukan hanya memiliki sifat one-and-many karena sifat one-and many dari sang Pencipta,5 melainkan juga sifat sosial, bahasa, dll. Maka bagaimanapun usahanya para ilmuwan tidak akan dapat menghilangkan ciri ilmu-ilmu alam tersebut, selama ilmu-ilmu alam masih berurusan dengan alam ciptaan Tuhan. Tiap kebenaran berkaitan satu dengan yang lain, dan usaha seperti itu hanya akan mengakibatkan abstraksi dan kontradiksi dari klaim-klaim keilmuan.

Hal ini juga tergantung pada manusia sebagai ciptaan tertinggi menurut gambar Allah. Kepada manusia tugas ini diberikan, untuk melayani dan menjaga alam.6 Karena manusia mirip Allah, manusia tidak dapat bekerja dalam Getto ketika mengembangkan ilmu-ilmu alam, apalagi dia adalah ciptaan yang bersifat sosial. Manusia harus tidak hanya demi kepentingan ilmu-ilmu alam saja menemukan hukum-hukum alam, melainkan juga untuk tujuan masyarakat, kemanusiaan dan tujuan tertinggi mempermuliakan Allah.

Di sini terdapat suatu kemungkinan, relasi dari semua aspek kehidupan manusia teoritis dan tanpa kontradiksi dibangun dan menempatkan ilmu alam pada posisinya. Di sini terdapat pula kemungkinan untuk menentukan langkah praktis untuk mengembangkan keilmuan tanpa berkontradiksi dan mereduksi aspek-aspek kehidupan yang lainnya.

Dalam iman Kristen dijelaskan pula bahwa manusia telah jatuh di dalam dosa. Kenyataan ini saya mengerti sebagai kenyataan sejarah. Dosa saya mengerti sebagai perlawanan manusia melawan Allah, sang Penciptanya. Sekalipun dosa manusia Allah tetap memelihara ciptaan-Nya. Alam berfungsi menurut hukumnya dan tidak menjadi kacau. Disini masih ada kemungkinan untuk memperkembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia yang telah jatuh. Tetapi kemungkinan ini digunakan manusia melalui ilmu-ilmu alam untuk melawan Allah, sang Pencipta dan Penopang. Memang tidak ada yang dapat berbicara tentang etika yang bersifat universal, jika seandainya Allah yang berpribadi tidak ada. Worldview Kristen menceritakan kepada kita bukan hanya apa yang terjadi, melainkan juga tugas dari anak-anak Tuhan yang berurusan dengan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu alam, yakni, menebus ilmu-ilmu alam demi kepentingan Allah.

Catatan kaki:
1. Pembacaan modern, yang dewasa ini berlaku di kalangan ilmuwan, sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang Rene Descarte maksudkan. Pembacaan modern tidak memperhatikan “Meditationes de Prima Philosophia.” Memang penekanan Descartes pada penggunaan rasio dan teori matematikanya melalui pembacaan modern ini dapat mengakibatkan orang mudah berpikir bahwa sekalipun Allah adalah Pencipta alam semesta, tetapi kuasanya dibatasi oleh hukum-hukum alam, atau lebih kecil daripada hukum-hukum alam tersebut. Berangkat dari sinilah muncul deisme dan konsep-konsep modern yang salah tentang Allah.
2. Dikutip oleh Dieter Hattrup dalam Einstein und der würfelnde Gott: An den Grenzen des Wissens in Naturwissenschaft und Theologie, (Freiburg: Herder, 2008), hlm. 19, dari Einstein, Albert., Mein Weltbild (1934). diterbitkan. Carl Sellig (Frankfurt u.a.: Ullstein, 1970), hlm. 201, 171.
3. Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang hal ini. Dalam perdebatan kami, teman saya mengatakan bahwa itu adalah problem semantik semata yang tidak perlu dipandang serius. Dalam diskusi tersebut saya mengajukan suatu contoh bahwa problem semantik bukan masalah remeh, melainkan suatu penipuan. Jika seseorang membeli daging, dan berkata kepada si penjual bahwa dia ingin membeli daging, lalu si penjual memberikan daging tikus kepadanya. Apakah yang akan dilakukan oleh orang tersebut? Bukankah dia akan merasa dipermainkan dan marah, walaupun daging tikus adalah daging juga. Tetapi dalam hal ini banyak orang senang menikmati penipuan.
4. Perbedaan antara “telah-ada” atau “ada-begitu-saja” (“vorhanden”) dan “ada-untuk” (“zuhanden”) dapat ditelusuri dari konsep dari Heidegger (Sein und Zeit). Tetapi di sini saya membuat suatu perubahan makna dan konteks. Perubahan tersebut adalah, pertama, Konteks dari kata tersebut berubah dari sifat-keduniaan- dunia-di- hadapan-manusia-sebagai-Dasein menjadi Situasi-ontologis- di-hadapan- Tuhan (von der Weltlichkeit der Welt vor den Menchen als Dasein zum ontologischen Zustand vor dem Gott). Catatan khusus bagi edisi Indonesia: ide keduniaan di sini bukan berarti sekuler, apa yang dibicarakan Heidegger tidak ada kaitan sama sekali dengan sakral dan sekuler! Kedua, Maknanya berbicara bahwa pada mulanya tidak ada yang telah-ada di hadapan Tuhan, karena dia adalah Sumber dari segalanya, bukannya ada-perbedaan- tersebut-bagi-manusia.
5. Problem one-and-many dapat diselesaikan oleh para theolog Van Tillian, melalui mereka menelusuri ke Kesempurnaan Allah Tritunggal. Tetapi tetap tinggal pertanyaan bagaimana hal itu seharusnya berfungsi, jika alam ciptaan memang one-and-many?
6. Terjemahan ini berasal dari kata-kata Ibrani “abad” dan “Shamar.” Kata-kata ini dalam penggunaannya oleh Musa menunjukkan kepada kita, bagaimana manusia harus menjalankan jabatannya sebagai mahkota ciptaan, yakni, pemimpin adalah pelayan.

Profil Ev. Steve Hendra:
Ev. Steve Hendra, S.T., M.Div. dilahirkan di Surabaya pada tahun 1976. Menerima Kristus pada tahun 1996 dan mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan pada tahun 1997.

Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 umum pada tahun 1999, melanjutkan pendidikan di Institut Reformed Jakarta dan mendapatkan gelar Master of Divinity (M.Div.) pada tahun 2003.

Mulai bulan Agustus 2003 melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Surabaya - Andhika serta sebagai dosen di Sekolah Theologi Reformed Injili Indonesia Surabaya (STRIS) Andhika dan International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS). Saat ini, beliau sedang studi di Jerman.
KECEWA KEPADA ALLAH

Oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG

Artikel ini ditranskrip dari renungan yang disampaikan pada Persekutuan Doa Mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) dan Institut Reformed hari Selasa, tanggal 16 Februari 1999

Dua hari yang lalu dalam suatu kesempatan yang baik, saya bertemu dengan dua orang saudara saya, Pdt. Dr. Caleb Tong dan Pdt. Dr. Joseph Tong. Saya menjemput mereka di bandara dan waktu di bandara seseorang datang kepada saya dan bertanya, “Pak Stephen ya?” Saya bilang, “Ya.” Kami berjabat tangan. “Anda ikut kebaktian di mana?” Saya bertanya padanya dan dia menjawab, “Ya, dulu pernah satu dua kali mendengar khotbah Pak Stephen Tong. Kemudian saya ke gereja-gereja yang lain. Sesudah itu keliling sini, keliling sana, tidak menetap.”Lalu saya bertanya, “Sekarang ke gereja mana?” Jawabannya, “Tidak ke gereja.” Saya bertanya, “Sekarang tidak ke gereja?” Dia merokok dengan satu tangannya ditaruh di belakang. Asap rokoknya terus mengepul seraya berbicara dan ngomong dengan saya. Saya rasa dia sudah melarikan diri dari Tuhan. Lalu saya bertanya, “Mengapa tidak ke gereja?” Dia menjawab, “Kecewa.” “Kecewa dengan siapa?” tanya saya. “Terus terang kecewa kepada Tuhan,” setelah mengatakan kalimat itu, dia lalu pergi.

Saya tidak habis-habisnya memikirkan kalimat itu. Berhakkah? Berhakkah manusia yang dicipta kecewa terhadap Sang Penciptanya? Ini yang menjadi pemikiran saya. Who are we? We think we deserve the right to claim we are disappointed by God. Siapakah kita yang berhak mengatakan, “Aku dikecewakan oleh Tuhan. Aku kecewa terhadap Tuhan.”

Kalimat ini membuat saya memutar pikiran sepanjang satu hari itu. Theologi apakah ini? Theologi ajaran apakah yang mengajar manusia, sehingga berani mengatakan, “Allah mengecewakan saya.” Kalau Allah mengecewakan seseorang, hanya karena beberapa sebab, yaitu: Pertama, Allah berutang kepada saya dan Dia lupa bayar, maka saya kecewa. Kedua, Allah menipu saya, akhirnya saya dirugikan, maka saya kecewa. Ketiga, Allah berjanji sesuatu, akhirnya Dia tidak melunaskannya, sehingga saya kecewa. Tiga presuposisi ini, semuanya tidak memiliki dasar Alkitab. Allah tidak pernah berutang kepada manusia. Theologi yang benar mengatakan, manusia berutang kemuliaan Allah dan tidak bisa membayar sendiri. Yang seharusnya dikatakan adalah kitalah yang mengecewakan Tuhan, bukan Tuhan yang mengecewakan kita. Allah tidak pernah menjanjikan sesuatu yang Dia sendiri tidak melunaskannya, kecuali janji itu adalah semacam tafsiran manusia dan "misleading" (penyesatan) dari orang yang salah mengerti Alkitab. Jadi, Allah tidak berutang kepada saya, Allah tidak sembarang berjanji kepada saya, Allah tidak mungkin menipu saya.

Jika demikian apakah penyebabnya? Penyebab pertama adalah adanya pengkhotbah-pengkhotbah yang memberikan tafsiran yang salah terhadap ayat-ayat Alkitab. Misalnya, yang percaya kepada Tuhan pasti dapat kekayaan, pasti dapat hidup yang subur, makmur di dalam materi. Yang percaya kepada Tuhan pasti tidak ada marabahaya, penyakit, kesulitan, dan kemiskinan. Misalnya lagi, jikalau engkau memberikan persembahan, Tuhan akan mengembalikan sepuluh kali lipat ganda. Apakah saudara pernah mendengar khotbah semacam ini? Hal ini terjadi sejak kira-kira 25 tahun yang lalu, selangkah demi selangkah merambat masuk ke dalam mimbar-mimbar gereja yang tidak bertanggung jawab. Tetapi setiap statement yang tidak benar, bisa juga mendapatkan tunjangan dari Kitab Suci. Jadi ada ayat-ayat yang sepertinya mendukung statement itu, karena dimengerti secara fragmentaris, dan bukan secara totalitas. Karena mengambil ayat sebagian-sebagian lalu mengkhotbahkannya, sangat mungkin terjadi misleading bagi orang lain yang mendengarnya.

Kedua, pengertian yang tidak membandingkan antara satu ayat dengan ayat yang lain, mengakibatkan tidak diperolehnya prinsip total Kitab Suci. Mengambil suatu keputusan melalui bagian-bagian, lalu membuat statement. Hal ini sangat membahayakan. Saudara sebagai pengkhotbah, sebagai pemimpin gereja, sebagai pembawa firman, sebagai pemberita kehendak Tuhan, harus menghindarkan diri dari hal-hal semacam itu.

Saya percaya, bukan dia saja, mungkin seluruh Indonesia berani mengatakan, “Aku kecewa terhadap Tuhan.” Mungkin sudah puluhan juta orang pernah mempunyai ajaran salah yang menuju pada konklusi bahwa Allah menipu dia, Allah tidak melunaskan janji-Nya, Allah berutang kepada dia sehingga dia berani mengatakan, “Saya kecewa kepada Tuhan.”

Tahun 1965, kalau saya tidak salah ingat, gunung Agung meletus di Bali. Lavanya mengalir begitu cepat, sehingga banyak orang yang tidak sempat mengungsi, mendadak terkena lava. Pada waktu itu saya berada di Bandung, lalu seorang wartawan datang kepada saya, “Pak Stephen, bolehkah saya tunjukkan kira-kira 180 foto yang saya ambil dengan cepat pada waktu orang-orang terkena lava itu?” Saya sedang makan ketika wartawan itu datang dan duduk di samping saya. Waktu saya melihat foto-foto tersebut, rasanya saya ingin muntah. Ada orang yang sedang tidur, lavanya datang dan saat itu juga separuh badannya menjadi tulang, dan separuhnya masih daging. Di tengah-tengah sambungan antara daging dan tempat tulang itu, ada satu garis putih yang besar dan bengkak, seperti kulit babi yang digoreng jadi rambak/krupuk. Bagian yang terkena api panas itu langsung melembung. Satu bagian masih daging biasa, bagian yang lain, matang menjadi seperti rambak. Meskipun saya mau muntah tapi saya dikejar oleh kuriositas, jadi satu per satu foto tersebut saya lihat sambil mau mengeluarkan air mata, sambil mau menangis, sambil mau berteriak, tetapi tidak bisa. Namun ada beberapa foto yang menggugah theologi saya, yaitu lava yang sudah dekat kira-kira tiga meter lagi, dan dalam beberapa detik akan terkena lava, tetapi orang tersebut tidak lari, ia sedang berlutut berdoa kepada dewa. Waktu saya lihat, saya berpikir, “Wah! Ini begitu beda dengan orang Kristen. Mengapa ada orang Kristen pada hari lancar, dia berani berdosa. Sedikit rugi, langsung mencaci maki Tuhan Allah. Mengapa orang kafir waktu mereka menghadapi kecelakaan, mereka tidak memaki-maki dewa mereka. Mereka minta pertolongan dewa, jangan sampai memusnahkan mereka. Mereka mengaku kesalahan, mengaku dosa.” Pemikiran ini terus mempengaruhi saya sampai sekarang, sudah lebih dari 30 tahun.

Pemikiran itu adalah, Why?...Why? ... What causes that? What causes it to be like that? Apa salahnya pemberitaan kita? Apa salahnya khotbah kita, sehingga anggota kita selalu merasa dia sepatutnya menerima anugerah Tuhan dan tidak boleh dirugikan apapun oleh Tuhan, kalau tidak, Allah harus dicela, dimaki, dipersalahkan, dan akhirnya dia keluar dari gereja.

Lalu dari situ, pemikiran saya mulai berkembang pada the theology of suffering, the theology of worship, the theology of understanding grace, theology of resistant to the tribulation. Berkembanglah begitu banyak pemikiran saya semenjak melihat 180 foto tersebut. Mengapakah orang-orang Asia dengan sedikit kesulitan, meninggalkan gereja, keluar dari gereja? Mengapa orang Yahudi yang dibantai, dibunuh dengan gas, dihancurkan hidupnya, enam juta setengah jiwa, di dalam holocaust, tetapi mereka tetap menyembah Allah, tetap takut kepada Tuhan dan mereka tidak pernah meninggalkan iman mereka? Jadi, what's wrong? Apa yang salah di dalam pemberitaan kekristenan? Jawaban saya adalah satu kalimat, “Kita lebih suka memberitakan Allah itu kasih adanya, mengobral murah kasih Allah daripada berani mengkhotbahkan Allah itu suci dan adil, Dia akan menghakimi dosa seluruh dunia.”

Dari konklusi ini, pemikiran saya berkembang lagi, di manakah hamba-hamba Tuhan yang berani menyatakan tahta kemarahan Tuhan, keadilan Tuhan, kesucian Tuhan, untuk mengingatkan bangsa dan zaman ini? Semakin lama semakin sedikit. Tetapi pendeta yang berusaha memberikan injil palsu supaya gerejanya bertumbuh, supaya lebih banyak orang mendengar khotbahnya dengan kalimat, “Percayalah Tuhan, semua penyakit akan disembuhkan, semua kesulitan diatasi, semua akan diberikan kepada engkau” begitu banyak sekali, bahkan di dalam aliran Pentakosta dan Karismatik sudah teracun satu pikiran: dengan banyak mujizat yang dilihat, orang akan beriman.

Namun hari ini saya akan menunjukkan dua prinsip. Prinsip pertama, Yohanes Pembaptis tidak pernah melakukan satu mujizat pun, namun banyak orang yang percaya melalui dia. Karena sifat lurus, jujur, berani, dan tidak mau dipengaruhi oleh dosa sehingga dia berkhotbah dengan kuasa luar biasa. Itu catatan Alkitab. Yohanes tidak pernah melakukan satu mujizat pun, tetapi yang percaya karena dia banyak sekali. Kedua, Islam adalah satu agama yang tidak pernah mengembangkan anggota mereka melalui daya tarik mujizat. Tidak pernah hal itu terjadi. Pada zaman filsuf David Hume, one of the greatest scepticist in the history of human philosophy, ia mengatakan bahwa salah satu sebab yang dipakai oleh orang Kristen untuk membuktikan agama Kristen sebagai satu-satunya agama yang sah adalah tidak adanya mujizat pada agama lain, tetapi hanya ada pada agama Kristen dan dimuat di dalam Kitab Suci. Tetapi cara dia melawan kekristenan justru dengan pertanyaan pernahkah mujizat yang dicatat dalam Kitab Suci orang Kristen, terjadi? Itupun belum bisa dibuktikan. Maka memakai bukti bahwa Kristen ada mujizat maka Kristen itu sah, pada hakekatnya tidak pernah mempunyai dukungan bukti. Apakah yang dicatat dalam Kitab Suci sungguh-sungguh pernah terjadi? Jadi dia menjadi scepticist. Itu namanya to destroy from the foundation the seeking of Christian foundation.

Orang Kristen pada zaman itu selalu memakai fondasi-fondasi yang salah yang sebenarnya bukan fondasi untuk membangun iman. Kalau kita membiasakan diri menjadi pemberita, hoki, fat choi, property, kesuksesan sebagai imbalan kalau percaya kepada Tuhan, maka kita akan menciptakan orang-orang yang akhirnya melarikan diri dari kekristenan dengan kalimat, “Aku tidak lagi ke gereja karena aku kecewa kepada Tuhan.” Saudara seharusnya mempersiapkan diri menjadi hamba Tuhan yang bertanggung jawab dalam pemberitaan firman, sehingga anggotamu selalu menuntut, “Saya jangan menipu Tuhan, saya jangan berutang kepada Tuhan, saya harus menepati apa yang saya janjikan kepada Tuhan.” Dan bukan berkata, “Tuhan berutang kepada saya, Tuhan menipu saya, apa yang Tuhan janjikan, tidak saya dapatkan, maka saya berhak melawan dan kecewa kepada Dia.” Kiranya renungan pendek ini menjadi kekuatan bagi kita untuk menegakkan kembali kebenaran di dalam zaman ini.
Sumber: Majalah MOMENTUM No. 39 – Maret 1999
Tentang YOGA

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Definisi dan Sejarah Singkat

Bagi sebagian besar masyarakat Barat, yoga sering kali hanya dipahami sebagai salah satu sistem latihan fisik untuk perenggangan tubuh, peningkatan kelenturan dan penyembuhan penyakit ringan. Jika kita menyelidiki sejarah dan filosofi di balik yoga, maka kita akan mengetahui bahwa yoga lebih dari sekedar latihan fisik. Yoga adalah jalan kuno menuju kerohanian. Jalan ini berasal dari literatur-literatur kuno India.

Konsep ini sudah tersirat dari nama yang dipakai. Istilah “yoga” berasal dari bahasa Sansekerta. Istilah yang berasal dari akar kata yuj (artinya “mengontrol”, “memasang kuk” atau “menyatukan”) ini memiliki arti yang beragam. Arti yang paling populer adalah “penyatuan”. Yang dimaksud penyatuan di sini adalah penyatuan antara jiwa yang terbatas (diri yang fana) dengan jiwa yang tidak terbatas (Brahma/Diri yang kekal). Brahma adalah realitas tertinggi, suatu allah yang tidak berpribadi, suatu substansi ilahi yang menyerap, melingkupi dan melandasi segala sesuatu.

Dalam Larson’s New Book of Cults dijelaskan bahwa yoga terdiri dari beberapa aliran/bentuk: Karma Yoga (persatuan rohani melalui perbuatan baik), Bhakti Yoga(persatan dengan Yang Mutlak melalui devosi kepada seorang guru), Juana atau Gyana Yoga (jalan masuk kepada keilahian melalui pengetahuan mistik) dan Raja Yoga (kesadaran ilahi melalui kontrol mental). Jenis yoga yang sering diperbincangkan dan dipraktikkan orang termasuk dalam Raja Yoga.

Dilihat dari sisi historis, perkembangan yoga dapat dibagi dijelaskan sebagai berikut: (1) akar tertua dapat ditelusuri sampai pada Upanishads (sekitar 1000-500 SM). Dalam buku tua ini diajarkan “satukan terang di dalam dirimu dengan terang yang ada di dalam Brahma”; (2) kata “yoga” berikutnya juga ditemukan dalam buku Bhagavad Gita (sekitar abad ke-5 SM). Di pasal 6 buku ini Krishna berkata, “maka sukacita tertinggi datang kepada Yogi (orang yang melakukan yoga)...yang menjadi satu dengan Brahma, allah itu”; (3) pada pertengahan abad ke-2 M, Panjali dalam bukunya Yoga Sutras membagi yoga menjadi 8 cabang seperti anak tangga, masing-masing: yama (pengendalian diri/asketisisme), niyama (ibadah keagamaan), asana (posisi tubuh), pranayama (latihan pernafasan), pratyahara (pengendalian indera), dharana (konsentrasi), dhyana (kontemplasi yang dalam) dan samadhi (pencerahan).

Filosofi Di Balik Yoga

Sebagai salah satu fenomena keagamaan yang berasal dari Timur, yoga memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan aliran lain dalam Gerakan Zaman Baru. Prinsip dasar yang ada reatif sama, tetapi beberapa memang sedikit berbeda. Apa saja filosofi di balik praktik yoga?

Pertama, dualisme. Dalam agama-agama kuno di India dikenal konsep yang dualistik antara jiwa (spiritual) dan tubuh (material). Tubuh dianggap sebagai sesuatu yang lebih rendah daripada jiwa. Tubuh adalah sumber segala kejahatan. Apa yang tampak hanyalah sebuah ilusi, sedangkan realita sebenarnya terletak pada hal-hal yang spiritual. Tidak heran, para yogi pada zaman dahulu dikenal sebagai “orang yang telah mengambil sumpah untuk hidup dalam kemiskinan, kesucian, gaya hidup selibat dan meditasi sepanjang hari”. Para penganut yoga juga cenderung melihat kehidupan fana di dunia sebagai kehidupan yang rendah dan tidak layak dihidupi (Moti Lal Pandit).

Kedua, pembebasan (liberation). Dilihat dari sisi istilah “yoga” yang berarti “memasang kuk” atau “mengontrol”, kita mungkin heran bagaimana pembebasan dapat menjadi filosofi dasar dalam yoga. Kebingungan ini akan hilang jika kita memahami apa yang dimaksud dengan pembebasan dalam yoga. Pembebasan bukan berarti bebas mengumbar hawa nafsu. Sebaliknya, pembebasan di sini berkaitan dengan pembebasan dari diri sendiri. Diri sendiri bersifat kafir dan menghalangi terjadinya pencerahan. Orang harus mendisiplin pikiran, tubuh dan jiwanya supaya bisa terfokus pada Allah. Sehubungan dengan prinsip ini, pengosongan pikiran, posisi tubuh dalam pose tertentu dan meditasi sangat ditekankan dalam yoga. Semua ini dipercaya akan memberikan kebebasan.

Ketiga, pencapaian pengetahuan/hikmat yang tertinggi. Melalui yoga orang yakin bahwa dia akan memperoleh pencerahan-pencerahan yang membuat dia menjadi lebih berhikmat. Meditasi dianggap sebagai instrumen yang efektif untuk menumbuhkan pengetahuan rohani seseorang. Dia akan semakin mengerti tentang hakekat manusia, alam semesta dan alam. Dia akan dibebaskan dari kebodohan metafisik yang dia alami selama ini, yaitu ketidaksadaran bahwa manusia (segala sesuatu) adalah ilahi.

Keempat, spiritisme. Dalam kasus-kasus tertentu, meditasi dalam yoga mencakup pemanggilan berbagai roh ke dalam diri seseorang maupun upaya seseorang masuk ke dalam dunia roh tersebut. Keterlibatan yang “paling ringan” dalam hal ini adalah perenungan yang dalam tentang suatu allah yang berbeda dengan Allah dalam Alkitab.

Kelima, kesatuan dengan allah. Dalam yoga seseorang tidak hanya memikirkan tentang allah, tetapi dia sendiri juga berusaha menyatu dengan kekuatan ilahi itu. Dia mencoba membebaskan “dirinya” dan benar-benar menyatu secara hakekat dengan apa yng dia percayai sebagai allah. Ketika seseorang sudah mencapai tingkatan yoga yang tertinggi, maka orang itu akan mengalami kesadaran dan pengalaman sebagai allah.

Daya Tarik Yoga

Salah satu fakta yang tidak disangkal adalah popularitas yoga yang semakin menanjak. Yoga tidak hanya digemari oleh orang Timur, tetapi juga orang Barat. Yoga bukan lagi monopoli para penganut agama Hindu dan Budha, tetapi para penganut agama lain juga. Beberapa penganut agama non-Hindu – termasuk Kekristenan - bahkan telah mencoba mengembangkan sebuah yoga yang disesuaikan dengan agama mereka. Dari perspektif Hindu, sinkretisme seperti ini sah-sah saja, karena mereka percaya bahwa ada banyak jalan menuju persatuan dengan Allah.

Mengapa yoga begitu diminati oleh banyak orang, bahkan di dunia Barat sekalipun? Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Faktor utama adalah kehidupan di Barat yang serba cepat dan menekan. Kondisi seperti ini membuat manusia cepat lelah, baik secara fisik maupun mental. Yoga berhasil menawarkan dua macam kelegaan itu sekaligus.

Faktor lain adalah kekecewaan terhadap materialisme. Di dunia Barat kelimpahan secara materi merupakan sesuat yang sudah biasa. Mereka mudah mendapatkan segala macam materi yang mereka inginkan. Semua ini ternyata tidak memberikan kepuasan bagi mereka. Mereka membutuhkan hal-hal lain yang non-material. Mereka menginginkan kepuasan psikologis, mental dan kerohanian. Semua ini juga ditawarkan oleh yoga.

Faktor lain berkaitan dengan wajah Kekristenan yang dianggap terlalu kering. Sebagian orang Kristen yang mempraktikkan yoga mengaku bahwa mereka selama ini merasa kering dengan Kekristenan. Kekristenan hanya diidentikkan dengan liturgi dan dogma. Mereka tidak mendapatkan sentuhan emosional dalam kehidupan Kekristenan mereka. Kekosongan inilah yang akhirnya dianggap dapat diisi melalui yoga.

Apakah Latihan Fisik Dalam Yoga Dapat Dipisahkan dari Filosofi Di Baliknya?

Beberapa orang Kristen yang mengetahui filosofi di balik yoga mengaku bahwa praktik ini merupakan pelanggaran terhadap Alkitab. Bagaimanapun, sebagian dari mereka tetap bersikeras bahwa tidak semua yoga adalah salah. Menurut mereka, yoga yang hanya berhubungan dengan latihan fisik boleh diikuti oleh orang-orang Kristen.

Apakah pandangan di atas dapat diterima? Untuk menjawabnya, mari kita memfokuskan pembahasan pada salah satu jenis yoga yang dianggap “paling aman” karena hanya mengajarkan latihan-latihan fisik. Yoga ini disebut Hatha Yoga. Yoga jenis ini hanya terdiri dari asana (posisi tubuh) dan pranayama (latihan pernafasan).

Dua hal di atas ternyata tidak terpisahkan dari filosofi di baliknya. David Fetcho, seorang peneliti terkenal dalam bidang yoga, menyatakan bahwa latihan fisik yoga tidak mungkin dipisahkan dari metafisika Timur yang melandasinya. Para ahli yoga yang lain juga sepakat bahwa asana dan pranayama merupakan bagian integral dari keseluruhan yoga. Tujuan dari Hatha Yoga adalah menghilangkan halangan-halangan fisik untuk menuju pada tingkatan yang lebih tinggi. Pranayama merupakan cara untuk mengontrol energi mistis/vital dalam tubuh. Energi ini dipercayai sebagai energi ilahi yang universal, tidak terbatas dan mahahadir, yang berada di balik dunia materi (akasa). Jika seseorang mampu mengontrol energi secara sempurna, maka dia akan menjadi mahahadir dan mahakuasa. Jiwanya dapat berada di mana saja dan melakukan apa saja.

Posisi tubuh yang sudah diatur sedemikian rupa (asana) juga bertujuan untuk memanipulasi kesadaran. Masing-masing posisi tubuh memiliki filosofi dan tujuan tersendiri. Tujuan ini lebih ke arah psikologis atau spiritual daripada fisik (somatis). Dengan demikian Hatha Yoga bukan sekedar latihan fisik, tetapi latihan psikosomatis yang melibatkan tubuh dan jiwa.

Bagaimana dengan latihan perenggangan tubuh yang ditemukan juga dalam berbagai latihan pemanasan di olah raga? Untuk hal ini kita sebaiknya mengakui bahwa jika latihan itu benar-benar dipisahkan dari konteks yoga, maka latihan tersebut dapat dibenarkan.. Bagaimanapun, jika latihan ini dilakukan sebagai latihan yoga, maka hal ini harus dihindari. Orang yang sudah merasakan manfaat dari latihan yoga yang paling dasar sangat mungkin akan tergoda untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Kalau sekedar ingin mendapatkan manfaat fisik dari beberapa latihan perenggangan di dalam yoga, kita dapat menggantinya dengan beberapa olah raga lain yang menfaatnya sama atau bahkan lebih besar daripada beberapa gerakan yoga, misalnya aerobik, senam di dalam air dan latihan pemanasan yang lain.

Bahaya-bahaya Yoga

Terlepas dari keuntungan fisik yang didapat dari latihan yoga, yoga ternyata dapat menyebabkan berbagai masalah yang serius. Para ahli yoga sudah lama memahami kemungkinan terjadinya bahaya-bahaya tersebut. Dari segi fisik, latihan pernafasan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Swami Prabhavananda mengatakan, “kecuali dilakukan dengan tepat, ada sebuah kemungkinan besar untuk membahayakan otak. Mereka yang melakukan latihan pernafasan tanpa pengawasan yang memadai dapat menderita sebuah penyakit yang ilmu pengetahuan maupun dokter tidak dapat mengobatinya.

Dari segi kejiwaan, yoga tidak kalah berbahaya. Gopi Krishna, salah seorang ahli dalam kundalini, mengungkapkan pengalamannya bahwa selama bertahun-tahun dia mengalami berbagai macam bentuk kejiwaan. Dia pernah merasa begitu terobsesi, sakit, gila sampai dijadikan medium dari berbagai roh. Ia mengakuinya bahwa hidupnya kadangkaa berpindah-pindah dari keadaan gila ke normal, begitu sebaliknya.

Dari segi spiritual, yoga jelas sangat berbahaya. Salah satunya adalah pengalaman spiritual dalam yoga yang disebut dengan istilah “kundalini” (kekuatan ular). Swami Vivekananda menjelaskan pengalaman ini sebagai berikut: jika dibangkitkan melalui latihan disiplin-disiplin rohani, maka [kekuatan] ini naik melalui tulang belakang, melewati berbagai pusat saraf dan akhirnya mencapai otak, di mana yogi mengalami samadhi atau penyerapan total dalam keilahian”. Pengalaman ini jelas merupakan penyembahan berhala, karena allah yang dalam yoga bukanlah Allah yang benar (Kel. 20:3-6; Gal. 5:19-21).

Perspektif Alkitab tentang Yoga

Beberapa orang Kristen melihat ada kesamaan antara yoga dan Alkitab. Dalam yoga diajarkan tentang kesatuan dengan allah, natur manusia yang ilahi dan perlunya menguasai keinginan tubuh yang jahat. Berdasarkan kesamaan ini, mereka kemudian berusaha untuk mengembangkan sebuah yoga yang bernuansa Kristen. Usaha ini hanyalah sebuah utopia atau bahkan tipu daya iblis atas orang-orang percaya.

Pertama, para ahli yoga berpendapat bahwa yoga bukanlah prinsip yang diadopsi oleh agama Hindu. Yoga adalah prinsip yang berasal dari agama Hindu. Selain itu, beberapa elemen dalam yoga jelas tidak dapat diganti dengan yang lain, misalnya yama danniyamas. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah tujuan akhir dari yoga. Jika yoga tidak berujung pada kesadaran bahwa manusia adalah ilahi, maka yoga tersebut tidak bisa disebut yoga, karena tidak memenuhi tujuan utama yoga. Berdasarkan tujuan inilah, semua elemen yoga telah diatur sedemikian rupa.

Kedua, beberapa kesamaan antara yoga dan Kekristenan hanya terbatas pada kesamaan secara umum. Kebenaran Allah memang terletak di mana-mana dan segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Allah memberikan wahyu umum kepada seluruh umat manusia. Walaupun demikian, jika diselidiki lebih mendalam, maka di balik kesamaan-kesamaan yang ada kita justru akan menemukan perbedaan-perbedaan yang jauh lebih fundamental.

· Pentingnya kesatuan dengan Allah.

Yesus berdoa agar semua orang percaya bersatu dan berada di dalam Allah (Yoh. 17:21). Dia juga mengajarkan bahwa orang percaya harus terus-menerus berada di dalam Dia (Yoh. 15:4). Perbedaan kesatuan ini dengan kesatuan versi yoga terletak pada jenis kesatuan dan cara untuk mencapai kesatan. Alkitab tidak pernah mengajarkan kesatuan dalam arti penyatuan hakekat. Cara yang dipakai pun bukan melalui disiplin mental seperti di dalam yoga, tetapi melalui ketaatan kepada firman Tuhan (Yoh. 15:10).

· Natur ilahi dalam diri manusia.

Dalam salah satu suratnya Petrus pernah berkata bahwa orang percaya “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2Ptr. 1:4). Dari konteks yang ada terlihat bahwa partisipasi dalam kodrat ilahi ini tidak berarti bahwa orang percaya menjadi allah atau mewarisi natur keilahian.. Partisipasi ini sangat berhubungan dengan kehidupan kekal yang akan diterima oleh orang percaya. Makna inilah yang sering dijumpai dalam literatur Yahudi tentang partisipasi dalam kodrat ilahi (4Mak. 18:3; Keb. Sal. 2:23).

· Perlunya menguasai keinginan tubuh.

Yakobus mengingatkan bahwa dalam diri manusia ada hawa nafsu yang terus berjuang untuk menguasai (4:1). Petrus juga mengakui adanya keinginan daging yang terus berjuang melawan keinginan jiwa (1Ptr. 2:11). Karena itu, orang percaya harus berusaha mematikan keinginan-keinginan tersebut. Perbedaan dengan yoga, penguasaan atas tubuh manusia yang berdosa ini dilakukan melalui kekuatan Roh (Rm. 8:13 “oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu”).

Ketiga, Alkitab secara tegas menentang beberapa konsep yang salah dalam yoga.

· Tubuh bukanlah jahat. Tubuh ditebus oleh Tuhan Yesus (1Kor. 6:19-20) dan harus dipersembahkan kepada Tuhan (Rm. 12:1).

· Masalah utama bukan terletak pada tubuh itu sendiri, tetapi pada dosa yang telah merusak natur manusia (Rm. 7:19-20).

· Jalan keluar bagi masalah ini bukanlah disiplin rohani yang bersifat anthroposentris, tetapi melalui kasih karunia Allah di dalam Kristus (Rm. 7:24-25) dan pertolongan Roh Kudus (Rm. 8:8-9).

· Hidup di dalam daging tetap merupakan hidup yang bermakna, sejauh hal itu dihidupi di dalam iman di dalam Kristus (Gal. 2:20).

· Segala bentuk asketisisme adalah tindakan yang salah. Kolose 2:23 “peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”.

· Manusia sangat terbatas dan sangat bergatung pada kehendak Allah (Yak. 4:15).

· Penyamaan diri dengan Allah adalah cara yang dipakai iblis untuk menjatuhkan Adam dan Hawa (Kej. 3:1-5).

· Penyamaan diri dengan Allah pasti diberi hukuman yang sangat berat (Yes. 14:4-20; Kis. 12:22-23).

Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/page.php?BIB-Dunia_Roh-11

Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya.. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.