Senin, 03 November 2008

PENGARUH FILSAFAT NEW AGE TERHADAP PENDIDIKAN DAN UPAYA PREVENSINYA
oleh: Denny Teguh Sutandio


Gerakan Zaman Baru
Ketika di zaman modern orang-orang mengilahkan rasio sebagai sumber kebenaran, maka di zaman postmodern orang-orang mengilahkan perasaan (feeling) sebagai sumber kebenaran. Pengilahan perasaan inilah akar dari Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang mulai berkembang sejak tahun 1970-80.[1] Sumber wikipedia menyebutkan tidak ada definisi formal dari Gerakan Zaman Baru, tetapi beberapa orang mendefinisikan New Age sebagai suatu tindakan seseorang yang mencoba pengajaran-pengajaran dan praktik-praktik dari tradisi-tradisi arus utama dan tambahan, lalu membentuk suatu kepercayaan dan praktik berdasarkan pengalamannya sendiri. Dari definisi non-formil ini, kita mendapatkan gambaran singkat tentang spiritualitas Gerakan Zaman Baru, yaitu adanya penekanan pada pengalaman pribadi. Karena penekanan pada pengalaman pribadi, maka tidak heran spiritualitas Gerakan Zaman Baru sangat digandrungi khususnya oleh kaum muda. Sumber wikipedia menyebutkan sekarang ini, kira-kira 20% orang dewasa Amerika paling sedikit menganut kepercayaan Gerakan Zaman Baru.


Filsafat Gerakan Zaman Baru dan Pengaruhnya di dalam Dunia Pendidikan
Lalu, apa yang diajarkan Gerakan Zaman Baru? Karena Gerakan Zaman Baru merupakan formulasi kepercayaan dan praktik yang didasarkan pada pengalaman pribadi, maka ajaran-ajaran Gerakan Zaman Baru adalah campuran dari berbagai arus pengajaran baik dari agama, filsafat, maupun mistisisme. Prof. James W. Sire, Ph.D. di dalam bukunya Semesta Pikiran: Sebuah Katalog Wawasan Dunia Dasar menyebutkan, “Wawasan dunia Zaman Baru sangat sinkretis dan eklektik. Wawasan dunia ini meminjam dari setiap wawasan dunia utama.”[2] Oleh karena itulah, kita akan menyelidiki apa yang diajarkan Gerakan Zaman Baru yang dipinjam dari beragam wawasan dunia.


Berikut adalah filsafat, kosmologi, dan pendekatan Gerakan Zaman Baru (GZB) terhadap agama dan sains yang dikutip dari beberapa sumber:
· Theisme: GZB memercayai adanya ide pantheistik akan Allah, yang ada di dalam semua jalan, termasuk melalui beragam ilah atau politheisme.[3]
Di titik pertama, GZB mengakui adanya Allah. Tetapi Allah yang dipercayai adalah ilah pantheistik, yaitu ilah-ilah yang banyak dan beraneka ragam serta pantheis. Artinya, para penganut GZB memercayai bahwa tidak ada 1 Allah yang absolut pada diri-Nya, tetapi “Allah” itu termanifestasi di dalam semua manusia. Dengan kata lain, manusia diidentikkan dengan “Allah.” Konsep ini ada yang dipaparkan secara jelas oleh para penganut GZB dan ada juga yang disamarkan. Ide dasarnya adalah kehebatan manusia karena di dalam diri manusia ada kekuatan besar yang sedang tidur dan kekuatan itu harus dibangunkan. Nah, cara membangunkan kekuatan besar itu adalah melalui training motivasi. Training motivasi di dunia postmodern ini sangat laris. Andrie Wongso (seorang Buddhist) terkenal dengan slogannya, “Success is My Right,” Tung Desem Waringin terkenal dengan slogannya, “Dahsyat,” dan Johan Yan (mengaku “Kristen”) terkenal dengan slogannya, “Poor is Sin.” Hampir semua para motivator yang ada baik di Indonesia maupun di luar negeri menganut prinsip tunggal yaitu pantheisme (baik yang dipaparkan secara jelas atau samar-samar). Ternyata, training motivasi ini tidak laku di perusahaan/kantor saja, tetapi juga merambah di dunia pendidikan. Saya sendiri mengamati di sebuah universitas “Kristen” terkenal di Surabaya, sang motivator yang terkenal dengan slogannya, “Success is My Right” diundang. Hal ini tidak usah mengherankan, karena universitas “Kristen” tersebut sudah menjadi atheis terselubung, sehingga GZB dengan leluasa bisa masuk dan memengaruhi semua mahasiswa, dosen, dan civitas akademika yang katanya mengaku “Kristen.” Akibatnya, para mahasiswa, dosen, dll yang ada di universitas tersebut tidak lagi menyadari pentingnya realita dosa, keselamatan, penebusan, dan hidup baru di dalam Kristus. Sehingga tidak heran, meskipun mengaku diri “Kristen,” mereka lebih percaya pada diri mereka sendiri yang hebat, pintar, bergelar akademis, dll, dan tidak lagi mau ditegur dosa atau kesalahan konsepnya jika konsepnya tidak sesuai dengan Alkitab.

· Kehidupan setelah mati: GZB memercayai bahwa kesadaran setelah manusia meninggal itu ada dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Kehidupan setelah kematian itu bisa berupa bentuk roh, reinkarnasi, dan/atau pengalaman dekat kematian (near-death experiences). Mungkin juga ada kepercayaan tentang neraka, tetapi itu berbeda total dari kepercayaan Kristen tentang neraka sebagai penghukuman kekal.[4]
Meskipun GZB memercayai adanya kehidupan setelah kematian, konsep mereka berbeda dari konsep Kekristenan. GZB memercayai kehidupan setelah kematian berbentuk roh atau seperti penganut Hinduisme dan Budhisme yaitu reinkarnasi. Reinkarnasi percaya bahwa manusia setelah meninggal, jiwa mereka akan kembali lagi ke dunia ini sebelum akhirnya dimurnikan kembali.[5] Reinkarnasi bukan hanya berdampak pada dunia spiritualitas saja, tetapi juga di dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memercayai paham reinkarnasi biasanya menghasilkan etos kerja yang tidak bertanggungjawab. Mengapa? Karena orang tersebut memercayai bahwa jiwa manusia itu terus berulang (siklis), sehingga kalau pun di dunia ini perbuatan baiknya (termasuk pekerjaan) masih kurang, di dunia akan datang, orang yang sama bisa lebih berbuat baik (bekerja lebih keras), sampai akhirnya jiwanya disempurnakan. Dan lagi, perbuatan/pekerjaan baik yang mereka lakukan pun pasti memiliki motivasi yang tidak baik, yaitu supaya nanti setelah mati, ia bisa lahir kembali dalam rupa yang lebih baik. Selain di dalam pekerjaan, reinkarnasi ini juga berpengaruh pada dunia pendidikan, di mana mahasiswa/siswa yang menganut konsep ini akan menjadi malas belajar, karena mereka percaya bahwa di dunia yang akan datang, mereka bisa belajar lebih giat lagi ketimbang sekarang. Tidak heran, di zaman postmodern ini, banyak mahasiswa (Kristen maupun non-Kristen) yang menganut GZB menjadi mahasiswa pragmatis dan utilitarian.

· Astrologi: GZB memercayai adanya astrologi, horoskop, dan zodiak.[6]
Kemudian, GZB juga memercayai alam mistis, di mana shio dan bintang memengaruhi kehidupan seseorang, baik pekerjaan, cinta, jodoh, bisnis, dll. Konsep ini diajarkan melalui dua media/sarana. Pertama, media cetak. Di sebuah majalah remaja/acara remaja di TV swasta, konsep GZB ini ditemukan dan konsep ini mau tidak mau akhirnya meracuni para remaja/pemuda untuk lebih memercayai ramalan bintang. Kedua, media verbal/lisan. Ramalan shio, bintang, hari, dll biasanya diajarkan oleh orangtua kuno (pendidikan first decree) pada anak-anaknya, misalnya, malam Jumat Kliwon, setan berkeliaran. Lalu, orangtua tersebut juga mengajar anaknya untuk tidak menikah dengan orang yang shionya Kelinci, karena orang yang shionya Kelinci itu keras, dll. Akibatnya, anak-anak seperti ini ketika bertumbuh menjadi dewasa memercayai hal itu dan akhirnya menerapkan konsep pengajaran itu kepada anak-anak mereka setelah mereka menikah. Dan hal itu terus berlanjut sampai ke cucu, cicit, dan keturunan-keturunannya (meskipun banyak dari mereka mengaku diri “Kristen”). Pendidikan dekrit pertama dari orangtua yang seharusnya mengajar anak-anak dengan pendidikan yang bertanggungjawab dan beriman, sekarang dirusak oleh setan dengan pendidikan mistik yang berpusat pada setan.

· Teleologi: GZB memercayai adanya tujuan dalam hidup. Ini mencakup kepercayaan akan sinkronisitas (synchronicity) yang memiliki makna spiritual, dan mengandung pelajaran spiritual yang mengajar bahwa segala sesuatu secara universal berhubungan dengan Allah, berpartisipasi di dalam energi yang sama. Itulah tujuan kosmis dan kepercayaan bahwa semua keberadaan (entity) bekerja sama menuju tujuan ini.[7]
Meskipun GZB memercayai adanya tujuan hidup, tujuan hidup tersebut bukan tujuan yang ditetapkan Allah, tetapi tujuan yang bekerja sama bersatu di dalam makro kosmos. Artinya, semua manusia ini adalah mikro kosmos yang pada akhirnya bersatu di dalam makro kosmos. Dengan kata lain, di dalam sebuah makro kosmos tersebut, terdapat beragam mikro kosmos yang berbeda (karena adanya perbedaan pribadi setiap manusia). Jika memang terdapat beragam mikro kosmos yang berbeda di dalam satu makro kosmos, bisakah mikro kosmos memiliki tujuan hidup sejati? Bukankah mikro kosmos ini memiliki tujuan hidup yang tidak jelas (ambigu) karena tidak adanya standar di dalam makro kosmos? Karena ambiguitas dan kekacauan di dalam tujuan hidup, akibatnya, orang-orang yang menganut paham GZB pun memiliki kekacauan arah dan tujuan hidup. Mereka menetapkan sendiri tujuan hidup yang “cocok” dengan kemauannya sendiri. Di dalam dunia pendidikan, hal ini semakin terlihat. Hampir tidak adanya satu guru/dosen Kristen yang mengarahkan anak didiknya untuk menggumulkan tujuan hidupnya menurut kehendak Tuhan, akibatnya anak didik dari kecil dibiarkan sesuka hatinya menetapkan tujuan hidupnya. Dan yang lebih parahnya, para anak didik menetapkan tujuan hidupnya menurut apa yang mereka mau atau apa yang “cocok” dengan selera mereka/orang-orang terdekat mereka baik akibat pengaruh orangtua, teman, saudara, pasangan hidup (pacar), atau penetapan diri sendiri.

· Spiritualitas eklektik: GZB memercayai bahwa setiap orang harus mengikuti jalannya sendiri menuju pada spiritualitas dan tidak mengikuti dogma. Agama-agama dan filsafat-filsafat yang berbeda dari seluruh dunia menawarkan praktik-praktik yang berbeda yang dapat diadopsi oleh orang-orang dalam pencariannya.[8]
Setelah manusia tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, para penganut GZB diajarkan untuk menentukan tujuan hidup itu semakin kacau yaitu menurut jalannya sendiri dan mengabaikan dogma. Tujuan hidup yang semakin kacau diakibatkan oleh paham universalisme yang menganggap semua agama itu sama saja. Karena semua agama itu sama saja, maka tujuan hidup seseorang itu sama saja. Arti konsep ini ada dua:
Pertama, human-centered life. Penganut GZB diajarkan untuk menentukan tujuan hidup menurut jalannya sendiri, dengan kata lain, mereka diajarkan untuk menentukan tujuan hidupnya sendiri yang berpusat pada manusia. Akibatnya, jika ada orang lain yang mencoba mengusik kelemahan konsepnya ini, mereka akan marah dan mengatakan bahwa orang lain tersebut tidak usah mengurusi hidupnya sendiri (“My business is my business. Your business is your business. My business is not your business. Your business is not my business. So, let us do our own business.”). Tetapi herannya, ketika ada orang lain yang memiliki konsep tujuan hidup yang berbeda dari konsep tujuan hidup para penganut GZB yang self-centered ini, mereka akan ngamuk dan cenderung menghina dengan mengatakan bahwa hari begini tidak usah mengurusi masalah Tuhan segala, yang penting apa yang kita anggap baik, jalankan saja. Dengan kata lain, para penganut GZB tidak mau diusik konsep tujuan hidupnya oleh orang lain, tetapi secara kontradiksi, mereka suka mengusik dan menghina konsep tujuan hidup orang lain yang lebih tinggi. Inilah ketidakkonsistenan konsep GZB. Hal ini juga nampak dalam dunia pendidikan, di mana para anak didik diarahkan untuk terus memikirkan apa yang menjadi cita-cita mereka, bukan apa yang Tuhan kehendaki. Cita-cita mereka ini digenjot dengan training motivasi baik dari guru/dosennya atau mengundang para motivator untuk mengajarkan bahwa cita-cita mereka itu baik dan harus dikembangkan (bukan menurut apa yang Tuhan kehendaki). Hal ini tercermin di dalam falsafah pendidikan Maria Montessori di dalam Sekolah Baby Smile di Surabaya di mana mereka percaya bahwa setiap orang secara moral itu baik, maka pendidikan dimaksudkan untuk membuat anak didik semakin baik.

Kedua, mengabaikan dogma. Orang yang cuek dengan tujuan hidup adalah orang yang mengabaikan dogma. Dogma bagi mereka adalah dogma yang kaku, kolot, otoritatif, dan mengikat. Akibatnya, bagi mereka, ketika dogma dijalankan, mereka tidak bisa bebas lagi. Pengabaian dogma juga berdampak pada dunia pendidikan yang tidak mau diintegrasikan dengan dogma apalagi dogma Kristen. Di dalam dunia pendidikan, hal ini juga nampak. Tidak heran seorang dosen yang mengaku diri “Kristen” di sebuah universitas “Kristen” di Surabaya berani mengatakan bahwa sains dan agama tidak ada hubungannya.

· Anti-Patriarchy: GZB memercayai bentuk feminin dari spiritualitas, termasuk bentuk feminin dari ilah, misalnya Aeon Sophia di Gnostisisme.[9]
Konsep lain dari GZB adalah munculnya anti kepemimpinan pria atau yang lebih dikenal dengan Feminisme. Meskipun terdapat beragam variasi feminisme, ide dasarnya adalah penyamarataan pria dan wanita di dalam tugas dan kewajiban. Jika pria bisa menjadi presiden, wanita pun berhak menjadi presiden, dll. Hal ini dimulai dari ide Grika tentang adanya ilah yang feminin (dewi) yaitu adanya dewi Aeon Sophia. Gambaran ilah yang agung dijadikan feminin (kewanita-wanitaan), begitu pula hal ini berimplikasi di dalam dunia kita sekarang. Gambaran malaikat yang cowok sekarang digambarkan oleh banyak gereja dengan peran cewek yang feminin. Di dalam dunia pendidikan pun, para pria tidak diajar bagaimana menjadi seorang pria yang berintegritas, bertangungjawab, berbijaksana, dll, sedangkan para wanita diajar bagaimana menjadi wanita yang sopan, lembut, perhatian, dll, tetapi semuanya dikaburkan. Pria dan wanita diajarkan hal yang sama tanpa adanya perbedaan penekanan. Akibatnya, tidak heran, ada seorang wanita yang kelakuannya maskulin (tomboi): tidak sopan, tidak lembut, dll. Tetapi herannya, kalau di angkutan umum, para cewek minta diperhatikan/dikhususkan, misalnya para cowok harus memberikan tempat duduk kepada seorang wanita/ibu. Selain itu, banyak wanita yang menjadi wanita karier adalah wanita yang berintegritas, keras, tegas, dll, seperti layaknya seorang pria, lalu ketika wanita karier ini menjadi seorang istri, ia pun memperlakukan suaminya seperti seorang pegawai.

· Sains (ilmu pengetahuan): GZB memercayai bahwa sains Barat mengabaikan terapi alternatif, seperti parapsikologi, meditasi, dan kesehatan holistik. Bagaimanapun, sains dan spiritualitas akhirnya harmonis. Penemuan-penemuan baru di dalam sains, seperti evolusi dan mekanik quantum (quantum mechanics), ketika secara benar dimengerti, menunjuk pada prinsip-prinsip spiritual.[10]
Konsep terakhir GZB adalah dimunculkannya hal-hal mistik pada dunia sains/ilmu pasti. Mereka mengajar bahwa sains dan spiritualitas pada akhirnya harmonis dengan pengertian bahwa semua hal sains menuju pada prinsip-prinsip spiritual. Akibatnya, para anak didik di dalam dunia pendidikan tidak lagi memelajari sains yang murni/pasti, tetapi sains yang ambigu/tidak pasti, karena mengandung unsur-unsur spiritual. Tidak heran juga, game-game yang digandrungi oleh anak muda zaman sekarang adalah bergenre virtual reality (realita semu).


Prevensi Kristen terhadap Pengaruh Filsafat Gerakan Zaman Baru di dalam Dunia Pendidikan
Sebagai kritik dan pencegahan Kristen terhadap pengaruh filsafat GZB terhadap dunia pendidikan, saya mengusulkan dua hal yang menjadi doktrin Kristen dan aplikasinya dalam kehidupan Kristen khususnya dalam dunia pendidikan.
1. Allah adalah Pencipta
Kekristenan yang berdasarkan Alkitab percaya bahwa Allah adalah Pencipta dunia beserta segala isinya, termasuk manusia. Alkitab mencatat bahwa Allah menciptakan manusia: laki-laki dan perempuan. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sebagai makhluk ciptaan. Sebagai pribadi yang diciptakan, Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. memaparkan konsep yang menarik, yaitu manusia adalah makhluk yang memiliki “kehendak bebas” (manusia sebagai pribadi) sekaligus manusia yang harus bergantung dan taat mutlak pada Pencipta (yang diciptakan).[11] Karena manusia memiliki “kemandirian yang relatif”, maka manusia berhak menentukan hidupnya sendiri termasuk bagi masyarakat. Tetapi ia harus ingat bahwa manusia tetap adalah ciptaan yang harus bergantung pada Allah. Dosa mengakibatkan manusia tidak lagi sadar bahwa dia hanya manusia, sehingga ia ingin menjadi seperti Allah. Itulah sebenarnya konsep GZB bahwa manusia = Allah. Konsep ini harus dicegah dengan cara para guru/dosen Kristen harus kembali mengajar ulang tentang doktrin Kreasionisme/Penciptaan dan Hamartologi/Dosa kepada para anak didik mereka, sehingga mereka tidak lagi berpikiran bahwa manusia = Allah.

Akibat kedua dari dosa tersebut adalah bingungnya identitas diri. Dosa mengakibatkan manusia sendiri bingung akan identitas/jati dirinya sebagai manusia. Manusia pria bingung tentang natur, tugas, dan kewajiban pria, begitu juga dengan wanita. Karena kebingungan ini, secara pragmatis, manusia postmodern segera menyamaratakan semua tugas dan kewajiban baik pria maupun wanita. Manusia menjadi bingung akan jati diri, mengapa? Karena dosa. Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya The Defense of the Faith memaparkan bahwa dosa berarti interpretasi manusia berdosa (yang mengambil alih posisi interpretasi Allah) terhadap dunia ini. Supaya manusia tidak lagi bingung akan jati dirinya, manusia harus disadarkan kembali akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia pria dan wanita yang diciptakan sama namun berbeda dalam fungsi dan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan. Sudah saatnya para pendidik Kristen mengajar dan mendidik para anak didiknya tentang konsep bahwa manusia pria dan wanita itu sama-sama diciptakan Allah dengan dua tugas, peran, dan tanggung jawab yang berbeda yang nantinya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

2. Allah adalah Sumber Segala Sesuatu
Selain sebagai Pencipta, Allah adalah Sumber Segala Sesuatu. Saya membagikan Allah sebagai Sumber Segala Sesuatu ini menjadi 4 pengertian:
Pertama, Allah sebagai Sumber Kehidupan. Karena sebagai Pencipta, Ia tentu memiliki makna dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Dengan kata lain, Ia adalah Kehidupan. Kehidupan itu telah dinafaskan kepada manusia sehingga manusia yang dari debu tanah menjadi makhluk yang hidup. Tetapi dosa merusakkan semuanya dan akibatnya, manusia yang hidup tidak lagi memiliki makna dan tujuan hidup. Puji Tuhan, Allah mengutus Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan Yesus Kristus yang adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yoh. 14:6) untuk memberikan kehidupan sejati yang Allah maksudkan kepada umat pilihan-Nya, sehingga setiap umat-Nya dapat hidup dan bahkan hidup berkelimpahan (bukan dalam pengertian materi) di dalam-Nya (Yoh. 10:10). Penebusan Kristus mengembalikan natur manusia kepada natur yang sesungguhnya yaitu gambar dan rupa Allah, sehingga manusia yang dahulu tak memiliki tujuan hidup akhirnya memiliki tujuan hidup yang pasti, lalu Roh Kudus menyempurnakan hal tersebut sampai kesudahannya. Sehingga tujuan hidup umat pilihan-Nya menjadi jelas dan pasti karena Allah yang telah mencipta, menebus, dan terus menyempurnakan umat-Nya itulah sebagai Sumber Kehidupan. Kehidupan di luar Allah Trinitas adalah kehidupan yang sia-sia, karena kehidupan itu tidak memiliki dasar, makna, dan tujuan hidup yang jelas.

Kedua, Allah sebagai Sumber Hikmat. Karena Ia telah menciptakan dunia ini, maka Ia tentu juga sebagai Sumber Hikmat yang mengatur dunia ini (pemeliharaan/providensi-Nya). Dengan kata lain, semua dunia ini dan pengetahuannya harus bersumber pada Allah sebagai Sumber Hikmat (Ams. 1:7). Semua pengetahuan di luar Hikmat Allah adalah pengetahuan yang sia-sia. Karena kita percaya bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan segala pengetahuan, maka sudah seharusnya semua orang Kristen yang takut akan Tuhan harus mengintegrasikan setiap doktrin iman Kristen dengan setiap bidang pengetahuan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, bisnis, dll. Artinya, setiap doktrin iman Kristen menjadi sumber, penghakim, penuntun dari semua bidang pengetahuan untuk memuliakan Tuhan. Akibatnya, setiap sains atau bidang pengetahuan lain yang tidak sesuai dengan Alkitab (misalnya yang dipengaruhi GZB) harus dihakimi. Itulah tugas dan peran serta tanggung jawab para pendidik Kristen khususnya ketika mengajar sains (baik: Fisika, Matematika, maupun Kimia) yang dikaitkan dengan iman Kristen yang solid.

Ketiga, Allah sebagai Sumber Pengharapan. Selain Sumber Hikmat, Ia juga adalah satu-satunya Sumber Pengharapan kita. Pengharapan di sini berarti pengharapan di dalam hidup kita. Ketika GZB mencoba menawarkan shio, bintang, dll di dalam horoskop, dll, mereka sebenarnya sedang berusaha menuntun manusia untuk melupakan Tuhan sebagai Sumber Pengharapan lalu berbalik kepada setan dan ramalan manusia yang belum tentu benar. Nah, inilah tugas, peran, dan tanggung jawab para pendidik Kristen dalam mendidik dan mengajar para anak didik bahwa mereka harus berharap hanya kepada Tuhan di dalam seluruh hidupnya, baik jodoh, keuangan, pekerjaan, dll, karena di dalam Dia ada Pengharapan yang pasti, di mana Dia sendiri adalah Allah yang kekal (tidak berubah) yang patut dipercayai.
Keempat, Allah sebagai Sumber Keselamatan. Selain Ia sebagai Sumber Pengharapan, Ia juga sebagai Sumber Keselamatan kita yang pasti. Artinya, kita bisa memiliki pengharapan hidup yang pasti tatkala kita sudah diselamatkan oleh satu-satunya Sumber Keselamatan kita, yaitu Allah Trinitas. Allah Bapa merencanakan keselamatan bagi umat pilihan-Nya di dalam Kristus, Allah Anak (Tuhan Yesus) menggenapi apa yang telah direncanakan Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus menyempurnakan apa yang telah dikerjakan Kristus. Semua karya keselamatan dari Allah Trinitas ini mengindikasikan bahwa Allah yang mencipta juga adalah Allah yang menyelamatkan dan memelihara keselamatan dan hidup umat-Nya, sehingga sebagai umat-Nya, kita tidak perlu kuatir akan kehilangan keselamatan kita. Ia yang memulai keselamatan, Ia pula lah yang pasti menyempurnakan dan mengakhirinya. Haleluya! Berarti, di dalam Kristus, kita memiliki kehidupan setelah kematian, yaitu hidup bersama-sama dengan Kristus di Surga (Yoh. 11:25). Inilah yang tidak dimiliki di dalam konsep GZB tentang kehidupan setelah kematian. GZB hanya memercayai adanya hidup setelah kematian di dalam pengertian siklis dan tidak pasti, bukan dalam pengertian linear dan pasti. Di sini, Kekristenan menjawab semua problematika GZB tentang kehidupan setelah kematian, karena GZB tidak memiliki pengertian totalitas akan kehidupan, sedangkan Kekristenan memilikinya (bdk. konsep Allah sebagai Sumber Kehidupan di poin atas). Nah, kembali, tugas para pendidik Kristen adalah memberitakan Injil di dalam pendidikan kepada para anak didik mereka sehingga dari kecil, mereka disadarkan akan pentingnya kehidupan, hikmat, pengharapan, dan keselamatan yang dikerjakan Allah Trinitas di dalam hidupnya. Sambil menginjili, para pendidik tetap harus berdoa agar Roh Kudus bekerja melahirbarukan dan mencerahkan hati dan pikiran para anak didik, sehingga mereka boleh bertobat sejak dini. Pendidikan Kristen jangan pernah dilepaskan dari penginjilan.


Biarlah, melalui dua prinsip utama prevensi Kristen terhadap pengaruh filsafat GZB di dalam dunia pendidikan boleh menyadarkan kita akan urgensinya peran, tugas, dan tanggung jawab para pendidik Kristen di era postmodern ini. Sudahkah kita siap menjawab tantangan zaman dan menantang zaman postmodern ini dengan kebenaran Alkitab? Amin. Soli Deo Gloria.

“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Kolose 2:8)

To search for wisdom apart from Christ means not simply foolhardiness, but utter vanity. (Dr. John Calvin)

Kamis, 21 Agustus 2008

Berdoa Bersama Anak-Anak

Keluarga Kristen terbentuk dan berdiri di atas satu-satunya dasar, yaitu Yesus Kristus. Sumber nilai keluarga Kristen adalah Firman Allah. Firman itu harus ditanam di dalam rumah tangga. Nilai itu ibarat benih, dan benih itu adalah Firman.(Prof. Taliziduhu Ndraha)

Rumah nikah kita sudah dibangun oleh Tuhan (Maz 127-128). Salah satu cara kita membiarkan Tuhan memelihara rumah nikah ini adalah dengan menjadikan Tuhan sebagai pusat keluarga kita (Ulangan 6:4-9) dan menjadikan keluarga sebagai pusat kehidupan kita sehari-hari.

Setiap kegiatan kita hendaknya berpusat pada keluarga. Semua suami (laki-laki) bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga (isteri dan anak-anak). Tetapi di balik usaha kerasnya dia tidak melupakan peran (tugas)-nya sebagai ayah bagi anak-anaknya dan suami bagi istrinya. Demikian juga para istri. Mungkin bos kita di kantor tidak mau kehilangan kita sebagai manajer pemasaran yang handal atau sekretaris yang cekatan. Apapun diberikan asal kita tidak keluar dari pekerjaan. Jangan lupa, itu dilakukannya demi perusahaannya, bukan demi keluarga kita.

Memulai Persekutuan Keluarga

Ibadah keluarga adalah salah satu cara mendidik anak-anak mengenal firman Tuhan. Itu kita tahu, tapi tidak mudah melaksanakannya. Tapi kalau kita menyadari dampaknya bagi keturunan kita kelak, kita akan terus berusaha melakukannya. Orangtua saya (Wita) sudah memulai persekutuan dalam keluarga kami ketika kami masih kecil. Sekarang itu menjadi modal saya untuk keluarga saya sendiri. Saya berharap, anak-anak saya meneruskannya untuk keturunan saya.

Suatu hal penting yang tidak boleh dilupakan oleh orangtua dalam mendidik anak adalah membangun persekutuan keluarga - suasana rohani dalam keluarga. Tetapi, memulai sesuatu yang baru tidaklah mudah. Diperlukan komitmen yang teguh antara ayah dan ibu. Saya ingin menceriterakan pengalaman dalam keluarga saya. Orangtua saya memulai ibadah keluarga saat saya berusia 7, di tahun 1969. Saat itu saya punya lima adik, terkecil baru 7 bulan. Saya ingat, ibadah keluarga kami dimulai ketika ibu mengalami perubahan secara spiritual (dikenal dengan istilah lahir baru). Perilakunya berubah drastis. Ini mempengaruhi ayah saya, yang selama kami tinggal di Malang (dari 1963), tidak pernah ke gereja. Sejak itu kami makan malam bersama pukul 6, kemudian kebaktian. Kami beruntung, karena saat itu kami tidak punya TV, jadi TV tidak menjadi
halangan.

Acara-nya sederhana saja. Mulai dengan menyanyi. Waktu saya SMP, saya dan seorang adik saya main gitar, adik yang lain main organ. Papa seringkali menyanyi dengan suara bas. Tiap malam kami bernyanyi (itu saat-saat terindah yang saya ingat dalam hidup saya bersama orangtua saya). Kalau tidak bisa main musik, kami tepuk tangan. Kalau anak-anak masih kecil, pakai gerakan tubuh atau tangan.

Sesudah menyanyi, papa/mama atau salah seorang anak, membuka ibadah dengan doa syukur. Pendek saja, nanti ada yang menggerutu kalau kepanjangan. Setelah itu, boleh menyanyi atau langsung membaca Alkitab. Jika anak-anak masih kecil, setelah membaca Alkitab kita membuat cerita aplikasi, sehingga anak-anak mengerti nilai Kristiani yang terkandung dalam bacaan tersebut. Tetapi kalau anak-anak sudah cukup besar, tanyakan pada mereka ayat mana yang paling berkesan, mengapa.

Apakah ada ayat yang menegur Saudara (ayah/ibu) atau anak-anak dalam bacaan itu? Apakah ada kelakuan yang perlu diubah? Apakah iman dan pengenalan kita kepada Allah Tritunggal dikuatkan melalui bacaan tersebut? Cobalah diskusikan dengan singkat. Terakhir, doakanlah hal-hal yang sudah dibahas tadi; agar Tuhan menguatkan kita menjalani kehidupan baru hari ini (kalau ibadah pagi) atau besok (ibadah malam). Ibadah keluarga kami biasanya diakhiri dengan menyanyi bersama.

Papa saya menambahkan satu acara lagi dalam kebaktian keluarga kami, saat kami memasuki masa remaja. Yaitu: dia selalu menanyakan kegiatan apa yang akan kami lakukan besok sepanjang hari. Kami tujuh bersaudara. Jadi satu-satu ditanyakan, termasuk pukul berapa pulang, kalau pergi dengan siapa. Kepada kami ditanyakan juga apakah ada masalah dengan pelajaran, uang, teman, buku-buku, kendaraan (setelah kami bisa dapat SIM, papa berusaha memberikan mobil untuk sekolah/kuliah), dsb.

Sekarang saya mengerti bahwa melalui tanya-jawab itu papa sedang melatih kami untuk merencanakan kegiatan esok hari. Kebiasaan itu mendarah daging, karena dilakukan selama lebih dari limabelas tahun. Kemudian saya meninggalkan rumah untuk menikah.Sekarang saya sudah berkeluarga dengan dua anak. Waktu anak-anak kami belum sekolah, kami kebaktian keluarga pagi hari. Setelah anak-anak sekolah, kami kebaktian sore hari (sehabis makan malam) - karena pagi hari saya sibuk menyiapkan anak-anak sekolah. Jadi, soal waktu, kita sediakan waktu yang paling memungkinkan bagi seluruh anggota keluarga.

Awalnya tidak perlu lama; apalagi kalau anak-anak masih kecil. Mereka perlu dilatih, didorong; tapi jangan dipaksa. Nanti mereka bisa tidak suka kebaktian. Saat ini kami membaca Alkitab berurutan dari Matius, sekarang sampai di Markus 15, sehari satu perikop. Sebelumnya kami pernah membaca berurutan Pengkotbah dan Amsal, juga Mazmur.

Nah, yang penting lagi, orangtua memberi waktu membacakan atau menceritakan
kisah-kisah Alkitab kepada anak-anaknya. Ayah atau ibu yang pernah mengajar sekolah
minggu, tentu bisa menyiapkan cerita-cerita praktis yang berkaitan dengan perikop yang kita baca. Saya seringkali memikirkan cerita-cerita rakyat atau dongeng yang berkaitan dengan firman Tuhan atau yang saya akan ceritakan kepada anak-anak, saat saya di salon, sambil memasak atau menyetir mobil.

Sekarang ini, anak-anak saya sangat suka lagu-lagu himne. Bukan hanya suka, mereka pun menghafalkannya. Kalau kami ke luar kota atau melakukan perjalanan jauh, lagu-lagu itulah yang berkumandang sepanjang jalan.

Beberapa percakapan dalam ibadah

Beberapa waktu lalu saat persekutuan keluarga, anak sulung saya bertanya, “Mengapa Tuhan menentukan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya?”

Kami sedang mempelajari Kitab Keluaran. Kemarin tiba di Keluaran 15 yang berisi puji-pujian umat Israel karena Tuhan sudah melepaskan mereka dari bangsa Mesir. Pada bagian akhir ada cerita tentang bagaimana Tuhan mengabulkan sungut-sungut bangsa ini. Tuhan memberikan air yang baik untuk mereka di Mara.

Saya memperhatikan wajah Josephus, mencari tahu apa yang ingin dia sampaikan lewat kalimat itu. Saya bilang, ”Kita tidak tahu alasan Tuhan memilih. Ini adalah kedaulatan Tuhan. Dia bisa pilih siapa saja. Sekarang ini, pemilihan Tuhan meluas. Tuhan juga memilih kamu, Moze, papa dan mama menjadi umat-Nya. Tahukah kamu mengapa Tuhan memilih kita, dan orang lain tidak?”

Hal ini sudah berkali-kali mereka tanyakan dalam berbagai kesempatan. Saya mengingatkan dia kembali percakapan kami bulan-bulan lalu. ”Memang tidak gampang menjadi orang pilihan Allah. Karena kita tidak bisa sembarangan hidup. Itu sebabnya umat Israel berkali-kali diajar dan dihajar Tuhan agar mereka tetap konsisten sebagai umat pilihan.”

Jo menarik nafas panjang. ”Mengapa?” tanya saya, ”apakah itu sulit?”

Dia mengangguk. ”Kalau kamu disuruh pilih: menjadi umat Allah atau tidak, apa pilihanmu?”

Jo terdiam, lalu menjawab, ”Aku mau jadi umat pilihan.”

”Walaupun ada konsekuensinya?” Jo mengangguk lagi.

Melalui percakapan tadi malam saya mengerti isi hati anak saya. Tetapi saya tahu, itu tidak akan mudah. Tugas kami sebagai orangtua-lah untuk terus-menerus menanamkan nilai-nilai dan pola hidup Kristiani dalam hati anak-anak kami. Josephus dan Moze memerlukan bantuan kami untuk mengingatkan mereka berulang kali apabila kami sedang duduk di dalam rumah, apabila kami sedang dalam perjalanan, apabila kami berbaring dan apabila kami bangun.

Berbicara Positif

Ini adalah hal yang kami lihat perlu dibangun dalam keluarga kami. Anak-anak sudah lebih besar. Sebagaimana anak pada umumnya, mereka juga sering berbantah atau memperebutkan sesuatu. Kadang-kadang keluar kalimat yang meremehkan yang lain, mempersalahkan, bahkan dengan kalimat yang kurang baik.

Di awal tahun 2008 ini pembacaan Alkitab kami tiba di surat-surat Paulus. Sekolah Moze menjadikan Efesus 5:8 sebagai tema tahunan. Waktu tiba di perikop tersebut, Moze menceriterakan pemahamannya. Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak-anak terang.

Filipi 4 ayat 8 kami baca beberapa hari kemudian: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Ayat ini mengingatkan kami untuk memelihara lidah dan pikiran. Saya mengusulkan agar kami membuat ”resolusi tahun baru” dengan berusaha berbicara positif setiap saat.

”Mama ingat kalimat yang mama baca di buku Little House on The Prairie saat mama masih seusia kalian,” kata saya. Suatu kali Pak Ingals mengingatkan Laura, ”Kalau kita tidak bisa berbicara hal yang baik tentang seseorang, lebih baik kita tidak usah bicara.”

Kalimat itu sungguh berbicara dalam hati saya ketika itu. Maka saya kembali mengingatkan hal itu dalam suatu acara ibadah keluarga kami. Anak-anak senyum-senyum. Walaupun tidak menjawab dengan tegas, nampaknya mereka tidak keberatan atas usul ”resolusi tahun baru” yang saya sampaikan. Maka sejak itu, tiap kali ada yang bicara kurang baik mengenai seseorang atau bicara dengan cara yang buruk, salah seorang dari kami akan mengingatkan.

Tadi pagi anak-anak seperti malas ke sekolah. Mereka sudah mandi, makan dan bersiap. Kami baru selesai berdoa pagi, tapi mereka tidak beranjak juga. Ini adalah hari Senin. Bagi kebanyakan orang mungkin Senin adalah hari yang ”kurang memberi semangat” karena baru saja libur sehari sebelumnya.

Jadi, saya berucap, ”Lho, kok kelihatannnya pada malas sekolah, nih?”

Naaahhh, Mama berbicara negatif, ya,” kata Moze. Semua tertawa.

Sorry,” jawab saya, ”mama telanjur. Maksud mama, ayo semangat dong!”

Lama kelamaan, kami menjadikan kesepakatan ini sebagai gurauan yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Kami berharap kami berhasil. (*)

TUHAN TIDAK BERUBAH
oleh: Prof. James I. Packer, D.Phil.
Mereka mengatakan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Mereka katakan kepada kita bahwa kita akan menemukan dalam Alkitab mengenai pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya untuk hidup kita. Kita percaya pada mereka – tepat – karena yang mereka katakan adalah benar. Maka kita mengambil Alkitab kita dan mulai membacanya. Kita baca dengan mantap dan merenungkannya, karena kita tertarik – sungguh ingin mengenal Allah. Tetapi ketika kita baca, makin lama makin bingung. Meskipun terpesona, kita tidak dikenyangkan. Pembacaan Alkitab tidak menolong kita dan membuat kita bingung dan jika kebenaran diungkapkan, terasa sangat menekan. Kita heran sendiri mengapa sampai terjadi demikian.
Apa kesulitan kita? Yang mendasar adalah sebagai berikut. Pembacaan Alkitab membawa kita ke dalam dunia baru yaitu dunia Timur Dekat pada zaman ribuan tahun lalu, primitif dan barbar, dengan sistim agrikultural dan tidak mekanis. Dalam dunia seperti itulah kisah-kisah dalam Alkitab terjadi. Di dalamnya kita bertemu Abraham, Musa, Daud dan lainnya dan memerhatikan cara Allah berhubungan dengan mereka. Kita mendengar nabi-nabi mencela dengan terang-terangan akan penyembahan berhala dan melakukan penghakiman atas dosa. Kita melihat Orang dari Galilea melakukan mujizat, berdebat dengan orang Yahudi, mati bagi orang berdosa, bangkit dari kematian dan naik ke surga. Kita membaca surat-surat dari guru-guru Kristen yang ditujukan untuk melawan kesalahan-kesalahan menyolok yang sejauh kita ketahui sekarang tidak ada lagi. Semua itu sangat menarik tetapi nampaknya sangat jauh. Itu adalah bagian dari dunia dulu, bukan dunia sekarang. Kita merasa berada di luar dunia Alkitab, sebagai orang yang menjenguk ke dalamnya. Kita hanya penonton dan hanya itu. Pemikiran kita yang tak terkatakan adalah: Ya Allah melakukan segalanya, kemudian dan sangat mengagumkan bahwa orang-orang termasuk di dalamnya, tetapi bagaimana hal itu berhubungan dengan kita sekarang? Kita tidak hidup dalam dunia yang sama. Bagaimana catatan perkataan dan perbuatan Allah dalam zaman Alkitab, catatan hubungan Allah dengan Abraham, Musa, Daud dan sebagainya, menolong kita untuk hidup dalam zaman angkasa ini? Kita tidak dapat melihat bagaimana dua dunia ini digabungkan dan lagi-lagi kita menemukan bahwa kita merasa apa yang kita baca dalam Alkitab tidak mempunyai aplikasi bagi kita dan ketika sesering mereka gemetar dan takjub, perasaan tidak berada dengan mereka menekan kita.
Banyak pembaca Alkitab mengenal perasaan ini. Tidak semua tahu bagaimana menghadapinya. Beberapa orang Kristen pasrah, tetap memercayai catatan Alkitab, tapi tidak mencari atau mengharapkan bagi mereka sendiri suatu keintiman dan hubungan langsung dengan Allah sebagai yang diketahui oleh tokoh-tokoh Alkitab. Sikap sedemikian, terlalu biasa pada saat sekarang, merupakan efek dari pengakuan mengenai kegagalan untuk menembus masalah ini.
Tapi bagaimana perasaan terpencil dari pengalaman mengenai Allah yang alkitabiah dapat dikalahkan? Banyak hal dapat dikatakan. Tapi point yang penting adalah ini. Perasaan terpencil adalah ilusi yang lahir dari pencarian mata rantai antara situasi kita dengan beragam karakter Alkitab di tempat yang salah. Benar dalam pengertian ruang, waktu dan kebudayaan, mereka dan epos sejarah yang mereka miliki adalah sangat jauh dari kita.
Tetapi mata rantai antara mereka dan kita tidak ada pada level itu. Mata rantai itu adalah Allah sendiri. Karena Allah dengan siapa mereka harus berhubungan adalah Allah yang sama dengan Allah kita sekarang. Kita dapat mempertegas hal ini dengan mengatakan, pasti Allah yang sama; karena Allah tidak berubah dalam hal sekecil apapun. Terlihat dalam kebenaran yang di dalamnya kita harus tinggal, dengan tujuan untuk membuang perasaan bahwa ada lembah yang tidak terjembatani antara posisi orang-orang dalam zaman Alkitab dan zaman kita sekarang, yaitu kebenaran Allah yang tidak berubah.
Allah tidak berubah. Mari kita pikirkan.
1. Hidup Allah tidak berubah
Ia adalah dari kekekalan (Mazmur 93:2), “Raja Kekal” (Yeremia 10:10), “tidak rusak” (Roma 1:23), “tidak takluk kepada maut” (I Timotius 6:16). “Sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Mazmur 90:2). “Bumi dan langit, demikian kata pemazmur, “akan binasa tetapi Engkau tetap ada dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka dan mereka berubah. “Akulah yang awal," kata Allah, “Aku juga terakhir.” (Yesaya 48:12). Ciptaan mempunyai awal dan akhir, tetapi tidak demikian Pencipta mereka. Jawaban untuk pertanyaan anak kecil, “Siapa yang menciptakan Allah?” adalah sederhana bahwa Allah tidak perlu dibuat karena Ia selalu di sana. Ia ada untuk selama-lamanya dan Ia selalu sama. Ia tidak bertumbuh lebih tua. Hidupnya tidak bertambah atau menyusut. Tidak bertambah kuasa baru, ataupun kehilangan yang pernah dimiliki-Nya. Ia tidak menjadi dewasa atau berkembang. Ia tidak menjadi lebih kuat, atau lebih lemah atau lebih bijaksana dengan bertambahnya waktu. Ia tidak dapat berubah untuk yang lebih baik, tulis A. W. Piner. Karena Ia telah sempurna; dan menjadi sempurna. Ia tidak dapat berubah menjadi kurang baik. Perbedaan utama dan mendasar antara Pencipta dan makhluk ciptaanNya adalah mereka dapat berubah dan natur mereka mengalami perubahan, sementara Allah tidak berubah dan tidak pernah dapat berhenti untuk menjadi Dia, seperti yang disebutkan dalam hymn:
Kita berbunga dan tumbuh seperti dedaunan di pohon kemudian layu dan binasa namun tidak ada yang merubah Engkau Itulah Allah sendiri – hidup yang tanpa akhir (Ibrani 7:16).
2. Karakter Allah tidak berubah
Tegang atau shock atau leukomoni dapat merubah karakter manusia tetapi tidak ada yang dapat merubah karakter Allah. Dalam kehidupan manusia, rasa, penampilan dan temperamen dapat berubah secara radikal: seorang yang baik dan tidak banyak berubah, dapat berubah menakutkan dan cepat marah, seorang dengan kehendak baik dapat menjadi sinis dan ..... Tetapi tidak pernah hal ini terjadi dengan Pencipta kita. Ia tidak pernah kurang kebenaran atau belas kasihan, atau keadilan atau kebaikan seperti biasanya. Karakter Allah adalah sekarang dan akan selalu tepat seperti dalam zaman Alkitab.
Terbentuk dari hubungan ini pernyataan dua nama Allah dalam kitab Keluaran. Penyataan nama Allah adalah jelas, lebih dari sekadar label; sebuah penyataan apakah Ia dalam hubungan dengan manusia. Dalam Keluaran 3 kita membaca bagaimana Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa sebagai “Aku adalah Aku” (ayat 14) – satu frase di mana Yahweh (Jehovah, TUHAN) di dalam bentuk yang dipersingkat (ayat 15). Nama ini bukan gambaran Allah tetapi sebagai deklarasi dari keberadaan-Nya dan kekekalanNya yang tidak berubah; mengingatkan umat manusia bahwa Ia mempunyai hidup dalam diri sendiri, dan bahwa apa Ia sekarang, Ia adalah kekal. Dalam Keluaran 34, kita membaca bagaimana Allah menyatakan nama TUHAN kepada Musa dengan menyatakan beragam sisi dari karakter kudus-Nya: penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu- ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya....” Proklamasi ini melengkapi Keluaran 3 dengan mengatakan kepada kita siapa Yahweh sesungguhnya dan bahwa Keluaran 3 melengkapi dengan mengatakan kepada kita bahwa Allah adalah selama-lamanya sama seperti pada saat itu, 3000 tahun yang lalu, ketika Ia menyatakan kepada Musa siapakah Dia. Karakter moral Allah tidak berubah. Maka Yakobus, dalam bagian yang berhubungan dengan kebaikan dan kesucian Allah, kemurahan-Nya kepada manusia dan permusuhan kepada dosa, berbicara mengenai Allah yang pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
3. Kebenaran Allah tidak berubah
Manusia kadang mengatakan hal-hal yang sebenarnya bukan yang mereka maksudkan, hanya karena mereka tidak tahu pikiran sendiri, juga karena pandangan mereka berubah, mereka sering menemukan bahwa mereka tidak dapat lebih lama berpijak pada hal-hal yang mereka lakukan pada masa lalu. Semua kita kadang harus menarik kembali kata-kata kita, karena mereka tidak lagi mengekspresikan apa yang kita pikirkan; kadang kita harus menelan kata-kata kita, karena fakta jelas menolaknya. Kata-kata manusia adalah hal-hal yang tidak bisa disandari. Tetapi tidak demikian dengan kata-kata Allah. Mereka teguh selama-lamanya, sebagai ekspresi sahih dan kekal dari pikiran Allah. Tidak ada situasi yang memaksa-Nya untuk menarik kembali kata-kataNya, tidak ada perubahan- perubahan dalam pemikiran-Nya sendiri yang menuntutNya untuk merubah mereka. Yesaya menuliskan, “... firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Hampir sama, pemazmur mengatakan, “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.” (Mazmur 119:89,152). Kata yang diterjemahkan kebenaran dalam ayat terakhir mempunyai ide kestabilan. Oleh sebab itu ketika kita membaca Alkitab, kita harus ingat bahwa Allah tetap teguh dalam janji, tuntutan, pernyataan- pernyataan tujuan dan kata-kata peringatan, semua diperuntukkan kepada orang percaya Perjanjian Baru. Tidak ada sisa dari zaman yang sudah berlalu, tetapi suatu pernyataan sahih yang kekal dari pikiran Allah kepada umat-Nya dalam segala generasi, sejauh dunia ini berjalan. Seperti Tuhan sendiri berkata kepada kita, “Kitab Suci tidak bisa dibatalkan.” (Yohanes 10:35). Tidak ada yang dapat mengakhiri kebenaran Allah yang kekal.
4. Jalan-jalan Allah tidak pernah berubah
Ia terus menerus bertindak terhadap manusia yang berdosa dalam cara yang Ia lakukan dalam kisah-kisah Alkitab. Tetap Ia menunjukkan kebebasan dan KetuhananNya dengan mengadakan diskriminasi di antara orang berdosa, antara mereka yang dapat mendengar Injil dan sebagian yang tidak mendengarkan; menggerakkan sebagian yang mendengar untuk bertobat sementara yang lain tinggal dalam ketidakpercayaan; kemudian mengajar orang-orang kudus-Nya bahwa Ia tidak berhutang belas kasihan kepada siapapun, semua adalah anugerah-Nya. Tidak ada yang melalui usaha mereka sendiri sehingga mereka dapat menemukan hidup. Ia tetap memberkati mereka yang Ia kasihi dengan cara yang merendahkan mereka agar segala kemuliaan hanya untuk-Nya. Tetap Ia membenci dosa umat-Nya dan menggunakan segala macam penderitaan dari dalam dan dari luar dan kesengsaraan untuk menghentikan hati mereka dari kompromi dan ketidaktaatan. Tetap Ia mencari persekutuan umat-Nya dan mengirim penderitaan dan sukacita dengan tujuan memisahkan kasih mereka dari hal-hal lain dan mengarahkan hanya kepada-Nya. Tetap Ia mengajar orang percaya untuk menghargai janji-janji yang diberikan-Nya dengan membuat mereka menantikan janji-janji itu dan memaksa mereka untuk berdoa tanpa henti untuk janji-janji tersebut sebelum Ia mencurahkannya. Maka kita membaca Ia berhubungan dengan umat-Nya dalam catatan Alkitab dan Ia tetap berhubungan dengan mereka. Tujuan dan prinsip-prinsip tindakanNya tetap konsisten; Ia tidak satu kalipun bertindak di luar karakterNya. Jalan manusia, kita tahu, adalah tidak konsisten, tetapi tidak demikian dengan jalan Tuhan.
5. Tujuan Allah tidak berubah
Yang Kuat, Israel tidak akan berdusta atau menyesal” pernyataan Samuel, “karena Ia bukan manusia yang harus menyesal.” (1 Samuel 15:29). Bilangan 23:19, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” Menyesal berarti memeriksa kembali penilaian seseorang dan merubah rencana tindakan. Allah tidak pernah melakukan hal ini; Ia tidak perlu melakukan hal itu karena rencana-rencanaNya dibuat pada basis pengetahuan yang sempurna dan mengontrol segala hal masa lalu, sekarang dan yang akan datang, sehingga tidak akan ada keperluan mendadak atau perkembangan yang tidak diketahuiNya. Satu dari dua hal menyebabkan manusia merubah pikirannya dan mengulang rencananya, membutuhkan pandangan ke depan untuk mencegah segala sesuatu atau kurang pandangan ke depan untuk melaksanakannya. Tetapi Allah adalah Mahatahu dan Mahakuasa sehingga tidak perlu bagi-Nya untuk memperbaiki ketetapanNya (A. W. Pink). Mazmur 33:11, “Tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun temurun.” Apa yang Ia lakukan dalam waktu, Ia rencanakan dari kekekalan. Dan semua yang Ia rencanakan dalam kekekalan Ia bawa ke dalam waktu. Dan semua yang Ia miliki dalam kata-kata perjanjianNya Ia sendiri akan melakukan tanpa salah. Maka kita membaca mengenai ketidakberubahan dari kebijaksanaanNya yang membawa orang percaya kepada kepenuhan dalam menikmati warisan janji-janjiNya, ketidakberubahan sumpah yang Ia janjikan kepada Abraham, nenek moyang orang percaya, jaminan bagi Abraham dan milik kita juga. Ibrani 6:17, “Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta....” Maka demikian juga dengan pernyataan-pernyataan Allah lainnya. Mereka tidak berubah, tidak ada bagian dari rencana kekal-Nya yang berubah.
Memang ada sekelompok ayat Alkitab (Kejadian 6:6; 1 Samuel 15:11; 2 Samuel 24:16; Yunus 3:10; Yoel 2:13) yang berbicara mengenai Allah yang menyesal. Hubungan dalam tiap kasus adalah kebalikan dari tindakan Allah terdahulu kepada orang-orang khusus, konsekwen atas reaksi mereka terhadap perlakuan itu. Tetapi tidak ada sugesti bahwa reaksi ini tidak diketahui sebelumnya atau bahwa Allah dikejutkan dan tidak ada dalam rencana kekekalanNya. Tidak ada perubahan dalam tujuan kekal-Nya jelas dinyatakan ketika Ia mulai berhubungan dengan manusia dalam cara yang baru.
6. Anak Allah tidak berubah
Ibrani 13:8 dan sentuhanNya mengenai mempunyai kekuatan. Tetap benar bahwa Ia mampu untuk menyelamatkan mereka ke tempat tinggi yang datang kepada Allah melalui-Nya. Ibrani 7:25, “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.” Ia tidak pernah berubah. Fakta ini menjadi hiburan bagi umat Allah.
Sekarang di mana pengertian untuk jarak dan perbedaan antara orang percaya dalam zaman Alkitab dengan diri kita sendiri. Itu pengecualian. Atas dasar apa? Atas dasar bahwa Allah tidak berubah. Persekutuan dengan-Nya, memercayai firman-Nya, hidup dengan iman, berdiri atas dasar janji Tuhan, pada intinya adalah realita yang sama bagi kita sekarang seperti bagi mereka yang berada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pemikiran ini memberikan penghiburan ketika kita menghadapi kekuatiran tiap-tiap hari; meskipun begitu banyak perubahan dan ketidakpastian hidup di zaman nuklir ini, Allah dan Kristus tetap sama – Mahakuasa untuk menyelamatkan. Tetapi konsep ini membawa kepada sebuah tantangan juga. Jika Allah kita sama seperti Allah dari orang percaya Perjanjian Baru, bagaimana kita dapat membenarkan diri sendiri dalam kepuasan dengan pengalaman persekutuan denganNya, dan dalam tingkatan pimpinan Kristen, akan mereka yang jatuh sedemikian jauhnya? Jika Allah tetap sama, ini bukan suatu masalah yang dapat kita hindari.

Selasa, 17 Juni 2008

PANDANGAN PERJANJIAN LAMA TENTANG PENDIDIKAN ANAK
oleh : Pdt. Budiono Joeng, S.Th.
(Pendeta di Gereja Kristus Tuhan—GKT dan dosen di Institut Theologia Aletheia—ITA, Lawang; Sarjana Theologia—S.Th. dari Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia—STTRII, Jakarta)
I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan topik yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah kehidupan manusia. Secara sederhana, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses belajar-mengajar, memberikan dan menghasilkan pengetahuan dan keahlian. Sementara itu Samuel Sijabat mengutip definisi dari Ensiklopedi Pendidikan mengatakan bahwa pendidikan dapat diartikan “semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, serta ketrampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.1 Dengan pengertian di atas, maka setiap orang atau masyarakat pasti terlibat di dalam pendidikan baik itu formal maupun informal. Itulah sebabnya, pendidikan tetap menjadi topik yang sangat penting untuk dibahas.
Dalam tulisan ini, penulis secara khusus akan membahas pandangan Alkitab tentang pentingnya pendidikan. Namun, mengingat luasnya masalah pendidikan dan Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru maka penulis merasa perlu membatasi pembahasan ini. Dalam tulisan ini pembahasannya difokuskan pada pandangan Perjanjian Lama tentang pentingnya pendidikan anak berdasarkan Ulangan 6:4-9.
Masa anak-anak adalah masa yang sangat penting. Masa ini adalah masa yang tidak akan terulang dan yang memberikan kesan yang paling mendalam serta menentukan masa depan seseorang. Selain itu, anak-anak juga merupakan generasi penerus, baik bagi keluarga, masyarakat maupun gereja. Secara khusus, berkaitan dengan masa depan gereja, anak-anak adalah generasi penerus gereja yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Jatuh bangunnya gereja dimasa yang akan datang sangat ditentukan oleh perhatian dan pendidikan yang kita berikan kepada anak-anak.
Selain itu, Tuhan sendiri sangat menghargai anak-anak. Tuhan Yesus selama pelayanannya dibumi juga sangat menghargai anak-anak. Dia membiarkan anak-anak itu datang kepada-Nya, bahkan Dia menjadikan anak sebagai kriteria masuk surga. Kristus juga memberikan perintah agar murid-murid-Nya “menggembalakan domba-domba kecil-Nya” (Yohanes 21:3). Itulah sebabnya, masalah pentingnya pendidikan anak merupakan topik yang sangat menarik untuk dibahas.
Banyak pakar-pakar pendidikan yang telah membahas akan hal ini Sebagian besar pembahasannya ditinjau dari sudut pandang filsafat pendidikan, sosiologis dan psikologis. Namun, sebagai seorang Kristen, tidaklah salah jika kita juga melihat masalah ini dari sudut pandang Firman Tuhan, khususnya dari Perjanjian Lama.
Perjanjian Lama adalah Firman Allah yang merupakan dasar dan otoritas tertinggi bagi konsep, prinsip dan prilaku manusia. (2 Timotius 3:15-16). Disamping itu, Perjanjian Lama juga sangat memperhatikan pentingnya pendidikan anak. Perintah untuk memperhatikan pentingnya pendidikan anak diberikan Allah sendiri sejak zaman Abraham (Kejadian 18:19), dilanjutkan pada zaman Musa (Keluaran 12:26-27) dan dipertegas kembali dalam Ulangan 4:9 ; 6:1-9; 11:18-21 yang selanjutnya juga menjadi perhatian orang-orang bijak (Amsal 1:8; 22:6; 29:17; Pengkhotbah 12:1). Dengan demikian, sangatlah tepat jika Perjanjian Lama, dijadikan dasar untuk memahami pentingnya pendidikan anak. Salah satu bagian Perjanjian Lama yang perlu dijadikan dasar untuk memahami pentingnya pendidikan anak adalah Ulangan 6:4-9.

II. PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK BERDASARKAN ULANGAN 6:4-9
A. Keunikan Ulangan 6:4-9
1. Latar Belakang Kitab Ulangan
Sebelum memahami keunikan Ulangan 6: 4-9, sebaiknya kita terlebih dahulu mamahami latar belakang dan keunikan Kitab Ulangan itu sendiri. Kitab Ulangan adalah salah satu kitab yang ditulis oleh Musa dengan tujuan mengingatkan orang Israel akan kesetiaan Allah dan untuk mendorong mereka agar mengasihi Tuhan dengan segenap hati mereka.2 Dalam kitab ini Musa sedang berhadapan dengan generasi baru yang dipersiapkan untuk memasuki tanah Perjanjian.3 Generasi baru ini ditantang oleh Musa untuk sungguh-sungguh mentaati syarat-syarat Perjanjian Sinai dan mengikut Tuhan dengan segenap hati mereka. Kitab Ulangan juga memiliki struktur dan bentuk sastra yang unik. Lasor dan rekan-rekannya mengatakan bahwa Kitab Ulangan merupakan bagian dari amanat Musa yang berbentuk pidato atau khotbah.4 Melihat akan latar belakang dan keunikan strukturnya dapat disimpulkan bahwa kitab Ulangan berisikan ketetapan-ketetapan dan nasehat-nasehat yang penting dan yang harus dilakukan oleh orang Israel dan keturunannya. Secara khusus posisi Ulangan 6 ditempatkan sebagai ketetapan- ketetapan yang berkaitan dengan 10 perintah Allah dengan penekanan utama pada perintah mengasihi Allah yang Esa dengan sepenuh hati, jiwa dan kekuatan.

2. Keunikan Ulangan 6: 4-9 Dalam Pendidikan Anak Bangsa Israel.
Ulangan 6:4-9 didahului dengan perintah Allah agar bangsa Israel melakukan dan memegang teguh segala perintah dan peraturan yang Allah berikan dengan disertai janji berkat jika mereka setia melakukannya. (ayat 1-3).5 Perintah ini diberikan dalam kaitan dengan persiapan mereka memasuki Kanaan (ayat 3). Tujuan perintah ini diberikan adalah supaya bangsa Israel melakukannya ketika mereka masuk dan hidup di tanah Perjanjian. Selain itu, Ulangan 6:4-9 juga merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan bangsa Israel, karena berkaitan dengan perintah “syema” yang juga harus diajarkan kepada seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak.. Dalam tradisi Yahudi kata “syema” disebut sebagai “the fudamental truth of Israel’s religion” and “ the fudamental duty founded upon it6 Lebih lanjut, Robert R. Boehlke mengatakan bahwa perintah “syema” dalam Ulangan 6:4-9 merupakan suatu patokan bagi keluarga Yahudi yang harus dilaksanakan,...7. “Syema” merupakan merupakan inti dari pengakuan iman bangsa Israel.8 Dalam perkambangan berikutnya “syema” menjadi bagian penting bagi kehidupan bangsa Israel dan menjadi dasar bagi pendidikan kepada anak-anak mereka.

B. Pentingnya Pendidikan Anak Menurut Ulangan 6:4-9
Melalui bagian ini kita dapat menemukan beberapa prinsip penting yang mendasari pentingnya pendidikan anak.
1. Pendidikan Harus Berkaitan Dengan “[m;v.” = Syema”( 6:4).
Ayat 4 diawali dengan kata perintah “ dengarlah ([m;v = syema)”. Kata “syema (dengarlah)” sudah muncul dalam Ulangan 5:1 sebagai pengantar dari bagian yang berbicara mengenai 10 hukum Allah. Dalam tradisi Yudaisme Ulangan 6:4 ini menjadi suatu pengakuan iman yang wajib diucapkan tiap pagi dan tiap malam (bnd. ayat 7) . Perintah “syema” ini berkaitan erat dengan pernyataan “pengakuan bahwa Allah itu Esa” yang merupakan kebenaran yang fundamental bagi agama Israel dan sikap mereka kepada Allah.9 Kata “esa (dx\a,=ekhad)” yang dikaitkan dengan perintah “syema” bukan hanya mengatakan tentang “keunikan” Allah tetapi juga “kesatuan (unity)” Allah.10 Secara lengkap instruksi syema berbunyi : Dengarlah, hai orang Israel : Tuhan itu Allah yang Esa ! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. “Ini menyatakan bahwa Allah tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Hanya Dia satunya-satunya Allah yang berdaulat dan harus menjadi satu-satunya obyek ibadah, ketaatan dan kasih dari umat-Nya. Oleh karena Allah adalah Esa, maka Israel harus mengasihi Yahweh sebagai Allahnya dengan sepenuh hati, jiwa dan kekuatannya.11 Syema ([m;v.)” adalah inti dari instruksi agama yang diberikan di dalam rumah. Bersama dengan “syema” anak-anak diajarkan perintah untuk hidup yang benar dan merupakan tanggung jawab ayah untuk menjelaskan makna dari perintah-perintah itu dengan menceritakan sejarah bangsa Israel. (Ulangan 6:20-25).12 Syema merupakan ungkapan keyakinan iman (kredo) yang harus diperhatikan dan dilakukan dengan serius. Sementara itu, Von Rad mengatakan bahwa “syema” dalam Ulangan 6: 4 dapat disebut sebagai dogma fundamental dari Perjanjian Lama yang disebut oleh Tuhan Yesus sebagai yang paling penting dari semua hukum.13 Tujuan utama pendidikan dalam Perjanjian Lama adalah membawa bangsa Israel beserta seluruh keturunannya mengenal Allah dan mengasihi-Nya serta hidup benar dihadapan-Nya. Sebagaimana dikatakan Andrew Hill bahwa kehidupan bangsa Isarel tidak lepas dari pengenalan dan ketaatanya kepada hukum Allah. Itulah sebabnya salah satu mandat penting bangsa Isarel adalah pendidikan yang bertujuan dengan rajin mengajarkan anak-anak mereka agar mengasihi Allah dan mengenal serta mentaati 10 hukum Allah dan segala peraturannya.14 Pola pendidikan dengan instruksi “syema” ini mengajar seluruh bangsa Israel beserta keturunannya supaya mengetahui dan mengakui bahwa hanya ada “satu Allah” yang patut disembah yaitu “Allah Yahweh”; Allah Yang Esa dan Allah yang telah mengikat perjanjian dengan Abraham dan keturunannnya. Allah ingin bangsa Israel beserta segala keturunannya hanya menyembah dan mengasihi Dia; tidak ada yang lain. Seluruh tujuan pendidikan Israel ialah menjadikan mereka hidup kudus dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan praktis.

2. Pendidikan Harus Diberikan Dengan Bertanggung Jawab. (ayat 7)
Begitu pentingnya instruksi “syema” bagi kehidupan bangsa Israel, maka hal itu harus dilakukan dengan serius. Keseriusan dalam melakukan dan mengajarkan “syema” dapat dilihat dari beberapa metode yang harus dilakukan.

a. “ Harus Diajarkan Secara Berulang-ulang “!nv=syanan
Kata “!nv=syanan” dapat diartikan sebagai “mengajarkan kata-kata yang penting dengan tekun/berulang-ulang/dengan sejelas mungkin”.15 Sementara itu J. I. Packer, mengatakan bahwa frase “mengajarkan berulang-ulang” berasal dari sebuah kata Ibrani yang biasanya mengacu kepada hal menajamkan sebuah alat atau mengasah sebuah pisau. Apa yang dilakukan batu asah untuk mata pisau , demikian pula pendidikan untuk anak.16 Itulah sebabnya NIV menterjemahkan “impress them on your children.17 Sedangkan LAI menterjemahkan dengan “ mengajarkannya berulang-ulang”. Penekanan pentingnya mengajarkan dengan mengulang bertujuan agar mereka dapat mengingat, memahami dengan jelas dan melakukannya.

b. “Harus Diajarkan Dalam Setiap Kesempatan”
Keseriusan di dalam mengajarkan “syema” selain diulang-ulang juga harus dilaksanakan setiap waktu dan disetiap tempat. Kalimat,” membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, dalam perjalanan, berbaring maupun bangun” menunjukkan betapa seriusnya pengajaran “syema” ini. Dalam hal ini tepatlah yang dikatakan Robert R. Boehlke bahwa ruang lingkup pendidikan Yahudi, bukan satu usaha sambilan saja, yang hanya dilaksanakan dalam salah satu sudut kehidupan saja, melainkan bagian inti dari kehidupan sehari-hari yang lazim dilakukan.18 Dimanapun ada kesempatan maka “syema” harus di ajarkan.
c. Harus Diajarkan Dengan Prinsip Keteladanan (ayat 16-19)
Selain mengajar dengan berulang-ulang, orang tua dituntut untuk melakukan terlebih dahulu apa yang Tuhan inginkan (Ulangan 6: 16-19). Pada bagian ini Musa menyampaikan kepada orang tua bahwa ada dua cara dasar untuk mengajar anak mereka yakni instruksi yang bersifat formal (mengajar) dan informal. Melalui instruksi formal mereka harus mengajar tentang kebenaran. Sedangkan melalui instruksi informal mereka mengajar dengan menjadi teladan dalam menjalankan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya sama pentingnya. Namun, bagian ini lebih menekankan pada instruksi informal atau gaya hidup sekari-hari.19 Orang tua harus mengajar dengan menjadi teladan yang baik di dalam kehidupannya sehari-hari. Tujuan dari metode pendidikan seperti ini adalah untuk mengajar bangsa Israel beserta keturunannya agar sungguh-sungguh mengingat karya dan perintah Tuhan. Tuhan menginginkan agar mereka sungguh-sungguh mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatannya, secara khusus ketika mereka memasuki Kanaan20 (Ulangan 6:12-25). Melalui metode pendidikan dengan instruksi “syema” ini menunjukkan bahwa Allah sangat memperhatikan tentang pentingnya pendidikan dan bagaimana proses pendidikan itu dapat diberikan dengan benar dan bertanggung jawab.

3. Pendidikan Harus Diberikan Sejak Anak-anak (6:7; 20-25)
Dalam bagian ini ada 2 kali penekanan pentingnya pendidikan diberikan kepada anak-anak. Dalam ayat 7 perintah “syema” harus diberikan kepada “anak-anak” mereka yaitu dengan “mengajarkannya berulang-ulang”. Hal ini ditekankan kembali dalam ayat 20-21 agar orang tua siap mengajarkan tentang siapakah Allah dan karya-Nya bagi bangsa Israel kepada anak-anak mereka. Sejak awal masa anak-anak , seorang anak laki-laki telah belajar sejarah Israel. Anak-anak belajar bahwa bangsa Israel telah mengikat perjanjian dengan Allah, Perjanjian itu menempatkan batasan-batasan tertentu pada mereka. Mereka mempunyai tanggung jawab terhadap Allah karena Allah telah menebus mereka. Pendidikan iman kepercayaan mereka dalam hubungan dengan Allah Yahweh menjadi hal yang sangat penting untuk diajarkan dan dilakukan. Pada hakekatnya seorang ayah Israel bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya; tetapi para ibu juga memainkan peranan yang amat penting, terutama sampai anak mereka mencapai usia lima tahuan. Selama tahun-tahun pertumbuhan itu, sang ibu seharusnya membentuk masa depan anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan.21 Ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya memerintahkan pentingnya orang tua Israel mengajarkan kepada anak-anak mereka hidup mengasihi-Nya tetapi juga memperhatikan pentingnya masa anak-anak. Allah menginginkan agar anak-anak belajar bahwa bangsa Israel telah mengikat perjanjian dengan Dia. Sebagai bangsa yang terikat perjanjian dengan Allah, maka mereka harus hidup bertanggung jawab kepada Allah dan mengasihi Allah karena Ia telah menebus mereka. Dalam perkembangannya, pentingnya pendidikan sejak anak-anak ini dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap masa depan mereka (bnd. Amsal 22:6). Dalam kehidupan bangsa Israel kehidupan mereka sangat ditentukan oleh hubungan dan sikap mereka terhadap Allah. Sebagai umat Allah maka berhasil tidaknya kehidupan mereka sangat ditentukan oleh ketaatan mereka kepada Allah. Jika mereka taat akan mendapatkan berkat,jika tidak taat akan mendapatkan kutuk. Realita ini nampak dengan jelas di sepanjang perjalanan bangsa Israel yang telah diungkapkan dalam Perjanjian Lama. Itulah sebabnya, pendidikan yang diberikan kepada anak-anak selalu mencakup pelajaran agama dan dilengkapi dengan pelatihan dalam berbagai ketrampilan yang akan mereka perlukan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Orang Tua (ayat 7)
Kalimat dalam ayat 7 “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu” dan dalam ayat 21 “maka haruslah engkau menjawab anakmu..” menunjukkan bahwa orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pendidikan anak-anak mereka. Oleh karena perintah ini berkiatan dengan instruksi syema, maka orang tua pertama-tama bertanggung jawab atas pendidikan rohani anak-anak mereka. Ini merupakan tugas yang sangat mendasar dan penting untuk dilakukan orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua dianggap yang paling bertangung jawab dalam pendidikan anak-anak oleh karena mereka adalah orang yang terdekat. Sebagaimana dikatakan oleh J. I. Packer bahwa Allah memakai manusia untuk mengajarkan Taurat kepada bangsa Israel—seperti Musa, para imam dan para nabi. Murid-murid mereka adalah orang dewasa dari bangsa Israel, yang kemudian mereka bertanggung jawab untuk meneruskan kepada anak-anak mereka.22 Sebagian besar pendidikan dilakukan oleh orang tua, tidak ada ruang kelas atau kurikulum yang tersusun.23 Peran orang tua yang pada mulanya mendidik anak-anak dalam bidang agama berkembang dengan mengikut sertakan pendidikan dalam bidang ketrampilan-ketrampilan khusus. Anak-anak Israel juga diajarkan keahlian-keahlian yang mereka perlukan agar menjadi orang yang berhasil di dalam komunitasnya.24 Bangsa Israel adalah sebuah masyarakat petani; banyak hikmat praktis yang diturunkan dari ayah kepada anak-anak laki-laki adalah mengenai bertani. Selain itu, para ayah juga bertanggung jawab untuk mengajar anak laki-lakinya sebuah kejuruan dan ketrampilan. Misalnya, apabila sang ayah adalah tukang periuk, ia mengajar ketrampilan itu kepada anak laki-laki. Sementara anak laki-laki belajar ketrampilan ini, anak-anak perempuan belajar membakar roti, memintal dan menenun di bawah pengawasan ibunya. (Keluaran 35:25-26; band. II Samuel13:8). Apabila tidak ada anak laki-laki dalam keluarga, anak-anak perempuan mungkin harus belajar pekerjaan ayahnya Kejadian29:6; Keluaran 2:1625 Secara khusus, anak laki-laki Yahudi disamping membaca Kitab Suci , juga mendapat pelajaran tatakrama, musik, cara bertempur, dan pengetahuan praktis lainnya.26
Pola pengajaran atau pendidikan semacam ini merupakan bagian penting dalam sepanjang zaman Alkitab. Peranan orang tua terus menjadi hal yang penting meskipun pendidikan formal sudah ada. Ini membawa kita kepada pemahaman bahwa Allah sangat memperhatikan pentingnya pendidikan anak dan pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan anak. Allah memilih keluarga untuk menjadi tempat berlangsungnya proses pembentukan diri anak. Dalam hal ini tepatlah yang dikatakan Gary J. Oliver mengatakan bahwa Ulangan 6 merupakan bagian Alkitab yang menjelaskan bahwa Allah merancang keluarga sebagai wadah untuk mengajarkan (malalui pendidikan formal) dan menunjukkan (melalui teladan hidup) realitas pribadi Allah yang hidup.27

III. KESIMPULAN
Melalui pembahasan ini, dapat disimpulkan bahwa Allah sangat mementingkan pendidikan anak dan peranan serta tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anak mereka dengan benar. Di era global ini banyak orang tua yang kurang menyadari betapa pentingnya peranan mereka dalam pendidikan anak-anak. Banyak orang tua yang hidupnya mapan cenderung berfikir bahwa dengan menyediakan pengasuh bagi anak-anaknya, menyekolahkan mereka disekolah yang terbaik itu sudah cukup. Mereka tidak lagi mau untuk direpotkan; mereka cenderung berfikir pragmatis. Sedangkan bagi mereka yang harus berjuang uintuk memenuhi kehidupan mereka tidak ada waktu yang cukup untuk memikirkan tentang bagaimana memberikan pendidikan yang benar dan sehat bagi anak-anak mereka. Waktu mereka telah banyak terkuras hanya pada masalah-masalah yang berkaitan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal ini menyadarkan kita tentang betapa pentingnya untuk menekankan kembali peranan dan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak , khususnya pada masa kini. Berdasarkan pembahasan di atas, maka dalam kesempatan ini penulis ingin membagikan beberapa hal penting yang harus dimiliki para orang tua Kristen berkaitan dengan peranan mereka dalam pendidikan anak.
Pertama, para orang tua Kristen harus memperhatikan dan menghargai pentingnya kebutuhan rohani anak-anak. Tujuan utama pendidikan Kristen adalah membawa setiap orang termasuk anak-anak mengenal Allah dengan benar di dalam Kristus. Pengenalan akan Allah sangatlah penting dan hal yang mendasar bagi kehidupan Kristen. John Calvin dalam bukunya “Institutio” menempatkan pengenalan akan Allah dan diri sendiri menjadi dasar bagi hikmat manusia.28 Pengenalan akan Allah adalah panggilan dan tujuan hidup manusia. Katakismus Singkat Westminter dengan jelas mengungkapkan bahwa tujuan tertinggi manusia adalah mempermuliakan Allah dan memperkenankan Dia selamanya.29
Manusia adalah ciptaan Allah yang dicipta serupa dengan gambar dan rupa Allah. Sebagai ciptaan Allah, manusia bukan hanya sebagai mahkluk yang harus bergantung kepada Allah tetapi juga harus berorientasi kepada Allah. Allah harus menjadi satu-satunya yang disembah, dilayani dan dikasihi. Hal ini juga nampak dengan jelas di dalam kehidupan bangsa Israel melalui prinsip pendidikan yang di dasarkan pada “syema”. Namun, ketika manusia (Adam sebagai kepala perjanjian) jatuh dalam dosa, maka tujuan ini menjadi rusak. Oleh karena kejatuhan manusia dalam dosa maka seluruh umat manusia menjadi orang berdosa. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa semua manusia adalah orang yang berdosa. (Roma 3:23), termasuk anak-anak (Mazmur 51:7). Hidup mereka berstatus berdosa, dikuasai dosa dan tercemar oleh dosa. Kebenaran ini merupakan salah satu ajaran penting dalam theologi Reformed. Dalam pandangan theologi Reformed realita keberdosaan menusia ini ini disebut dengan “Total Depravity30 Manusia yang berdosa tidak lagi mengutamakan “pengenalan “ akan Allah sebagai tujuan hidupnya. Orientasi mereka hanya kepada diri sendiri Selain adanya realita di atas, pada saat ini anak-anak juga sedang menghadapi tantangan yang begitu berbahaya, baik itu melalui bacaan maupun televisi. Seperti yang dikatakan oleh Gary J. Oliver bahwa sebagian besar anak sekarang lebih akrab dengan tokoh-tokoh kartun daripada tokoh Alkitab.31 Sementara itu, Phil Philip dalam bukunya “Kacau Dalam Kotak Mainan”32 menambahkan bahwa Film-film kartun yang beorientasi pada hal-hal seksual, okultisme dan kekerasan bagi anak-anak sama buruknya dengan televisi dan bioskop yang beorientasi pada hal-hal seksual, okultisme dan kekerasan bagi orang dewasa.33 Melihat hal ini, maka pendidikan rohani anak-anak merupakan hal yang harus segera dilakukan dan diperhatikan oleh orang tua dengan serius. Jika tidak maka anak-anak kita dengan mudahnya akan menjadi orang yang melawan Tuhan. Para orang tua Kristen harus menyadari bahwa anak-anak juga perlu segera untuk dibebaskan dan diselamatkan dari cengkraman kuasa dosa. Dengan kata lain, mereka juga memiliki kebutuhan rohani yang sama dengan orang dewasa yaitu membutuhkan karya penebusan Kristus. Itulah sebabnya, orang tua Kristen pertama-tama harus berupaya membawa anak-anak memiliki hubungan yang benar dengan Kristus. Perhatian utama orang tua Kristen adalah bagaimana membawa setiap anak mengenal dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kristus datang ke dunia bertujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa dan membawa kembali dalam relasi yang benar dengan Allah. Setiap orang yang bertobat dan percaya kepada-Nya akan mendapatkan pengampunan dosa, dibenarkan, diperdamaikan, dikuduskan, menjadi anak-anak Allah dan mendapatkan hidup kekal. Dengan ini manusia barulah dapat mengenal Allah dengan benar dan memuliakan Allah (I Korintus 10:31). Hidupnya tidak lagi berorientasi pada dosa tetapi untuk kemuliaan Allah. Itulah sebabnya, orang tua juga harus menyadari dan berupaya dengan sungguh-sungguh bagaimana membawa anak-anak mereka berjumpa dengan Kristus dan membimbing mereka untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dan menggenapkan apa yang Tuhan kehendaki di dalam segala aspek kehidupannya. Seperti yang dikatakan oleh Gary J. Oliver bahwa :
“Banyak orang tua yakin bahwa jika mereka dapat menyediakan makan dan tempat tinggal yang baik, lingkungan yang aman, pakaian bagus, wadah untuk kegiatan, uang yang cukup mobil yang layak , juga pendidikan yang tinggi, berarti mereka telah melakukan hal yang terbaik yang mereka dapat lakukan. Semuanya itu memang baik, tetapi sebagai orang tua kristiani yang terbaik bukanlah menyediakan kebutuhan materi tetapi juga meliputi dorongan agar anak-anak memiliki hubungan pribadi dengan Kristus dan dukungan agar mereka memiliki bekal untuk bertumbuh, berkembang dan matang.”34
Kedua, Para orang tua Kristen harus mengembangkan dan mengarahkan potensi anak dengan benar dan bertanggung jawab dihadapan Allah. Alkitab menyatakan bahwa manusia dicipta “serupa dengan gambar dan rupa Allah sendiri.” Anthony Hoekema, dalam bukunya “Manusia Ciptaan Menurut Gambar Allah” dalam penjelasannya tentang hakekat manusia sebagai “gambar dan Rupa Allah” mengatakan bahwa manusia selain memiliki tujuan hidup yang harus terarah pada Allah dan bertanggung jawab kepada-Nya, manusia juga memiliki salah satu tugas penting yaitu dipanggil untuk mengembangkan semua potensi yang ditemukan di dalam alam dan di dalam diri umat manusia.35
Ini berarti, manusia mampu mengelolah dan mengusahakan alam. Dengan potensinya manusia bukan hanya dapat mengembangkan bidang agrikultural, pengembangbiakan binatang, tetapi juga ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Manusia dipanggil untuk mengelolah alam dan segala isinya melalui segala potensi yang ada didalam diri dengan bertangung jawab kepada Allah. Dengan kata lain, segala potensi yang ada dalam dirinya, manusia dipanggil untuk mengelolah dan memelihara alam ini untuk kemuliaan Allah. Melihat potensi manusia (termasuk anak-anak) yang sedemikian luar biasa, maka sudah seharusnyalah para orang tua mengarahkan dan mengembangkan potensi itu dengan benar dan bertanggung jawab di hadapan Allah. Dengan kata lain, para orang tua harus menyediakan pendidikan yang bersifat holistik yaitu pendidikan yang dapat mengintegrasikan iman dengan kehidupan sehari-hari; menekankan keseimbangan antara kemampuan intelek dengan karakter dan moralitas anak; mengembangkan anak sesuai dengan potensinya secara bertanggung jawab agar mereka kelak depat mempertanggung jawabkan potensinya sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Dengan demikian, mereka akan menjadi alat Tuhan yang mendatangkan kemuliaan bagi Nama-Nya.
Ketiga, para orang tua Kristen harus rela melibatkan diri dalam pendidikan anak-anaknya melalui perhatian,pendampingan, bimbingan dan keteladanan yang benar. Tanggung Jawab dan peran orang tua dalam pendidikan anak-anak merupakan sebuah tugas yang mulia. Josh McDowell dalam bukunya “The Father Connection” yang secara khusus menyoroti peran ayah dalam pendidikan anak mengatakan bahwa menjadi ayah merupakan pekerjaan yang sangat dibutuhkan di dunia. Hubungan seorang anak dengan ayah merupakan sebuah faktor yang menentukan dalam kesehatan, perkembangan dan kebahagiaan pemuda atau pemudi.36 Sementara itu Gary J. Oliver memberikan beberapa prinsip penting berkaitan dengan paranan orang tua dalam membentuk keluarga Kristiani yang sehat dan memberikan pengaruh positif bagi pendidikan anak. Pertama, Orang tua harus membangun pola hubungan seperti pola Allah berkomunikasi kepada anak-anak-Nya , dimana anugerah berlimpah itu ditunjukkan dan kebenaran benar-benar di praktikkan, bukan sekedar dibicarakan. Kedua, menyediakan suasana yang penuh dukungan, dorongan dan kesempatan yang positif untuk bertumbuh, termasuk di dalamnya kesediaan antar anggota untuk saling menolong dalam meraih pengetahuan, pemahaman dan penerimaan akan Allah dan Yesus Kristus. Ketiga, orang tua harus menjadi teladan yang nyata sebagai orang yang dibentuk menjadi serupa dengan gambar Allah.37 Selanjutnya, Gary J. Oliver mengutip perkataan Andrew Murray dalam bukunya “How To Raise Your Children for Christ” yang menekankan pentingnya keteladanan, mengatakan :
“Kekuatan dalam mendidik anak tidak terletak pada perkataan atau pengajaran kita , tetapi pada diri dan tindakan kita. Tidak pada apa yang kita pikirkan tentang pengajaran ideal bagi anak kita, tetapi melalui hidup, kita mendidik mereka . Bukan harapan atau teori kita, tetapi kemauan dan kehidupan nyata kitalah yang mendidik mereka. Dengan hidup seperti Kristus kita membuktikan bahwa kita mengasihi kehidupan Kristus , bahwa kita memilikinya ; dan dengan demikian mempengaruhi orang muda untuk juga mencintai dan memilikinya.”38
Jelaslah bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak melalui perhatian, pendampingan, bimbingan dan keteladanan yang benar sangat diperlukan pada masa kini. Hal itu akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pekembangan dan masa depan anak kita. Sebagai orang tua, kita dipanggil oleh Allah dengan tugas untuk memimpin, mengarahkan, mengasuh dan mendisiplin anak-anak kita dengan bertanggung jawab, supaya anak-anak kita kelak menjadi orang yang hidup di dalam kehendak Tuhan dan memuliakan Nama-Nya. Amin !!!
Kepustakaan:
Baxter, J. Sidlow. (1980). Menggali Isi Alkitab. Jakarta: OMF.
Boehlke. Robert R. (1991). Sejarah Perkembangan dan Praktek Pendidikan Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Brown. F., Driver. S., and Briggs, C. (1999). The Brown-Driver-Briggs Hebrew And English Lexicon. USA: Hendrickson Publisher.
CalvinYohanes. (1999). Institutio, Pengajaran Agama Kristen. Jakarta : BPK. Gunung Mulia.
Christensen, Duanel L. (1991). “Deuteronomy 1-11”, Word Biblical Commentary, Dallas: Texas: Word Books Pub..
Culpepper. R. A. (1982). “Education”, The International Standart Bible Encyclopeia Vol. 2, ed. Geoffrey W. Bromiley. Grand Rapids, Michigan: William B. Errmans Pub.
Rev. Driver. Samuel Rolles and Friends. (1986). The International Critical Commentary. Edinburg: T & T Clark.
Hill. Andrew. (2000). “Education in Bible Times” Evangelical Dictionary of Biblical Theology, ed. Walter A. Ellwell. Grand Rapids, Michigan: Baker Books House.
Hoekema. Anthony. (2003). Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, terj. Irwan Tjulianto, Surabaya: Momentum.
Keil & Delitzsch. (2001). Commentary On The Old Testament Vol. 1 “Pentateuch”. Hendrickson Pub.
Lasor. W. S., D., Hubbart. A., Bush. F.W. (1993). Pengantar Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
McDowell.Josh. (2004). The Father Connection, terj. T Wahyuni . Jakarta: Metanoia.
NIV Study Bible “Deuteromonis”, p. 254.
Packer. J. I. (2001). Ensklopedi Fakta Alkitab. Malang: Gandum Mas.
Philip, Phil. (1986). Kacau Dalam Kotak Mainan 1. Surabaya: Citra Pustaka
Sijabat, B. Samuel . (1996). Strategi Pendidikan Kristen. Yogyakarta: Yayasan Andi
Thomson, J. A. (1974). Deuteronomy, Tyndale Old Testament Commentaries, ed. Wiseman, Illinois, USA: IVP.
Williamson. G. I. (1999). Katekismus Singkat Westminter 1, terj. The Boen Giok. Surabaya: Momentum.
Wofl, Herbert. (1998). Pengenalan Pentateuk. Malang : Gandum Mas.
Wright, Norman and Oliver, Gary J. (2003). Raising Kids To Love Jesus. Yogyakarta: Gloria Grafa.
Sumber: www.lrii.org.
Diedit sedikit oleh: Denny Teguh Sutandio.


"For I am not ashamed of the gospel of Christ: for it is the power of God unto salvation to every one that believeth; to the Jew first, and also to the Greek."
(Romans 1:16; King James Version)